Produksi Ayam Petelur Drop 30 Persen

nurul roudhoh   |   Ekonomi  |   Sabtu, 14 Juli 2018 - 11:53:03 WIB   |  dibaca: 3174 kali
Produksi Ayam Petelur Drop 30 Persen

JAKARTA -  Disaat harga pakan ternak terus melambung karena depresi rupiah, pasokan telur ayam nasional terancam virus Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang menurunkan daya tahan dan produktivitas ayam petelur.


Menurunnya produktivitas ayam petelur ini berdampak pada harga telur di pasaran yang terus terkerek naik. Saat ini, harga di beberapa pasar sudah mencapai Rp. 26.000 hingga Rp 28.000 per kilogram. Lebih tinggi dari harga rata-rata lebaran Rp. 25.000. Bahkan, beberapa tembus ke Rp. 30.000

“Produktivitas ayam petelur nasional turun 20 hingga 30 persen,” Kata Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi  pada Jawa Pos kemarin (13/7). Penurunan diperkirakan telah terjadi sejak periode Mei-Juni.  

Musbar menyebut setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan penurunan ini. Yang pertama adalah faktor kenaikan harga pakan. Selama ini, bahan baku pakan ternak seperti bungkil kedelai, tepung daging dan tulang masih tergantung dari impor. Sementara pada masa pancaroba ini, terjadi kegagalan panen di negara-negara penghasil bahan-bahan tersebut. “Apalagi diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,” kata Musbar.

Yang kedua adalah soal program pemerintah berupa Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang dimulai sejak tahun 2017. Dalam paket bantuan tersebat, masing-masing Kepala Keluarga (KK) penerima satu boks berisi 10 butir telur. Program ini juga turut menyedot pasokan telur dari peternak. “Kira-kira 10 sampai 15 persen pasokan nasional masuk ke BPNT,” katanya.

Pada dasarnya, BPNT tidak dipermasalahkan oleh para peternak. Justru mereka diuntungkan karena otomatis tercipta pasar baru. Untuk satu kecamatan saja, Musbar menyebut bisa menyerap 4,5 ton telur. “Tapi yang perlu dipertimbangkan kan stok ke pasar jadi berkurang, otomatis harga naik,” jelasnya.

Faktor lain yang mengkhawatirkan adalah menurunnya imunitas dan kesehatan ayam-ayam petelur. Dugaan sementara adalah menyebarnya virus LPAI  H9N2 turunan dari virus Flu Burung (H5N1). “Tapi kami peternak sendiri tidak yakin, kami minta pemerintah untuk turun melakukan investigasi,” kata Musbar.

Yang jelas, kata Musbar ada faktor biologis yang mempengaruhi ayam-ayam petelur. Dalam kondisi normal, ayam-ayam petelur bisa menghasilkan 6 hingga 7 butir per minggu alias 90 persen produktif. Namun, pada awal musim pancaroba ini, produktivitas bisa menurun sampai tinggal 2 -3 butir per minggu.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyebut bahwa laporan dari Balai-bali kesehatan hewan penurunan produksi rata-rata 12 persen.

Serangan virus LPAI H9N2 memang bukan hal baru. Fadjar menyebut, virus ini sudah mulai terasa sejak tahun 2016. Saat itu, produktivtas drop hingga 90 persen. “Namun, ayam kan juga beradaptasi, lebih kebal, selain itu, para peternak juga belajar mengatasinya,” katanya.  

Namun selepas itu, produksi berangsur-angsur membaik. Naik 40 persen lalu 60 persen dan seterusnya. Namun pada pertengahan 2018 ini memang ada penurunan lagi. Fadjar berharap para peternak bisa meningkatkan sanitasi, higienitas kandang serta menerapkan biosecurity pada ternak mereka. bisa juga dengan menyuntikkan stimulator imun.

Sampai saat ini pemerintah masih belum bisa menemukan vaksin yang cocok untuk mencegah penularan virus ini. Sementara secara aturan, tidak boleh mngimpor vaksin dari luar negeri. “Tidak boleh, sama saja kita masukkan virus baru ke indonesia. Para ahli kami terus bekerja,” jelasnya. (jpg)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook