Digitalisasi Gerus Budaya Literasi

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Rabu, 15 Agustus 2018 - 14:43:54 WIB   |  dibaca: 812 kali
Digitalisasi Gerus Budaya Literasi

TOKO : Seorang mahasiswa sedang melihat koleksi buku yang ada di Toko Buku Bersaudara, Jalan Raya Jakarta-Serang, Pakupatan, Kota Serang, Selasa (14/8).

SERANG - Budaya literasi semakin luntur dan tergerus diera gadget dan digitalisasi dewasa ini, hal ini tentu akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam gerusan gelombang kesejahtraan atau persaingan pasar global. Namun, tidak bisa kemudian alergi pada perkembangan teknologi.


Imam Hasan Qudrotillah, Tenaga Pendidik Madrasah Aliyah Al-Hasanah Sajira Lebak mengatakan, untuk meningkatkan minat baca, salah satunya melalui sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan.


“Gerakan literasi sekolah atau madrasah sebagai pengembangan dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 21 Tahun 2015, tentang penumbuhan budi pekerti pada anak, merupakan payung bagi keberlangsungan gerakan literasi sekolah atau madrasah,” katanya, Selasa (14/8).


Jika diperhatikan, lanjutnya, minat baca sudah ada. Hal ini terkoreksi dari setiap orang memiliki gadget dan sosial media. Pihak sekolah atau pemerintah hanya perlu menggeser kebiasaan dari membaca chating sosial media, kepada membaca berita atau buku-buku digital guna menambah wawasan dan keilmuan.


Masih menurut Imam, hal lain yang dapat dilakukan sekolah atau madrasah dalam menumbuhkan budaya literasi, dengan mengoptimalkan peran perpustakaan juga membiasakan pemberian reward (penghargaan) berupa buku guna menumbuhkan minat baca siswa.“Disisi lain, peran pemerintah sangat diperlukan dalam rangka menghadirkan perpustakaan di sekolah/madrasah dengan basis teknologi, untuk menumbuhkan minat membaca siswa yang pada gilirannya melahirkan budaya literasi siswa,” tutur Imam.


Karena, kata mahasiswa Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, jika melihat toko buku di Kota Serang belum cukup memadai. Baik dari jumlah, juga segi kelengkapan koleksi bukunya.“Padahal di Kota Serang setidaknya ada dua kampus negeri besar, yaitu UIN Banten dan Untirta. Belum lagi kampus-kampus lain, sekolah/madrasah yang ada di Kota Serang. Jelas, ini tidak mampu menyentuh kebutuhan buku bagi pelajar dan mahasiswa di Kota Serang,” kata Imam.


Misalnya, ada beberapa toko buku yang berada di Jalan Raya Jakarta-Serang, Pakupatan, Kota Serang, jumlahnya sangat terbatas itupun sekarang mulai tergusur oleh pembangunan. “Harapannya, di Kota Serang bisa hadir toko buku sekelas Gramedia, untuk memenuhi kebutuhan buku pelajar dan mahasiswa,” ungkapnya.


Ditempat yang berbeda, Maruli penjual buku di Jalan Raya Jakarta-Serang, Pakupatan, Kota Serang meminta kepada pemerintah, untuk ikut serta dalam menyediakan fasilitas buku bacaan terhadap pelajar, karena sejauh ini, di Kota Serang minat baca para pelajar dan mahasiswa cukup tinggi, namun daya belinya kurang. "Minat baca tinggi, daya belinya kurang dikarenakan faktor finansial dan arus digitalisasi (e-book,red)," katanya.

Biasanya, ramai pembeli buku itu pada saat awal masuk kuliah atau sekolah. baik buku untuk tarap anak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi. "Toko buku kami berdiri sejak tahun 1999, berkomitmen membantu masyarakat dalam menyediakan buku yang harganya terjangkau. Semoga dengan begitu minat baca para pelajar dan mahasiswa di Banten dapat meningkat," pungkasnya. (mg-basyar)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook