BPBD Beli Air ke PDAM

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Kamis, 16 Agustus 2018 - 11:01:10 WIB   |  dibaca: 275 kali
BPBD Beli Air ke PDAM

CILEGON - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon saat ini harus membeli air ke Perusahaan Daerah Air Minum Cilegon Mandiri (PDAM-CM) untuk menyuplai wilayah di Cilegon yang kekeringan. Sekali membeli air, BPBD mengeluarkan uang Rp 350 ribu untuk satu truk tanki air ukuran 4.000 meter kubik.

Kepala BPBD Kota Cilegon Rasmi Widyani mengatakan, saat ini pihaknya telah melakukan suplai air ke wilayah-wilayah di Cilegon yang mengalami kekeringan. Suplai air yang dilakukan oleh BPBD Cilegon bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yaitu PDAM-CM. "Saat ini BPBD sudah melakukan suplai air ke wilayah yang kekeringan dua hari sekali.

Seperti wilayah, Cipala, Watu Lawang, Kemelake, Pasir Salam, Tembulun dan beberapa wilayah di perbukitan di Kecamatan Pulomerak sudha mendapat suplai air, meski tidak tiap hari," kata Rasmi kepada Banten Raya, Rabu (15/8).

Dijelaskan Rasmi, suplai air ke wilayah yang kekeringan, BPBD harus membeli air ke PDAM. Harga satu truk tangki ukuran 4.000 meter kubik Rp 350 ribu. "Yang ngirim juga pakai truk tanki milik PDAM, karena BPBD juga tidak punya truk tanki untuk suplai air, jadi kita kalau butuh air tinggal kontak saja ke PDAM," jelasnya.

Menurut Rasmi, sebenarnya BPBD Kota Cilegon juga butuh truk tanki air untuk pengiriman air di wilayah yang kekeringan. Armada truk tangki air untuk pengiriman air ke wilayah pegunungan truk ukuran kecil. "Tidak semua armada truk tanki dan sopir bisa menuju ke wilayah pegunungan di Pulomerak, karena medannya terjal," tuturnya.


Ditambahkan Rasmi, saat ini pihaknya telah mendata wilayah yang rawan kekeringan. Koordinasi dengan PDAM untuk suplai air juga terus berjalan. Kebutuhan air bersih warga di perbukitan di Kecamatan Pulomerak dan Grogol lantaran letak geografis daerah tersebut berada di pegunungan yang jauh dari sumber air. "Selain itu, saat ini juga musim kemarau. Tapi, kami berharap kemarau ini tidak begitu panjang," tambahnya.


Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cilegon Erik Rebi'in mengatakan, kekeringan di perbukitan sekitar Pulomerak dan Grogolo menjadi masalah klasik. Adanya pembangunan sumur bor juga dampaknya belum dirasakan masyarakat karena rusak dan tidak bisa digunakan. "DPRD sudah mendorong untuk perbaikan pompa air di sumur bor pada APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Perubahan 2018 ini," kata politisi dari Pulomerak ini.

Erik menerangkan, suplai air yang dilakukan oleh BPBD Cilegon dengan membeli air ke PDAM-CM dinilai kurang tepat. Seharusnya, PDAM-CM bisa menggratiskan permintaan BPBD lantaran suplai air tersebut untuk kemanusiaan bukan profit. "Seharusnya gratis, karena perusahaan swasta juga sebenarnya banyak yang mau bantu untuk warga, apalagi perusahaan daerah milik pemerintah," terangnya.


Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Cilegon Edi Ariadi mengaku akan mengkaji permasalahan kekeringan di perbukitan sekitar Pulomerak. Adanya sumur bor yang dibangun tahun lalu dan tidak efektif, bisa untuk diperbaiki. "Kalau untuk pengelolaan sumur bor dikelola oleh PDAM akan kita kaji. Kalau memang sumur bor dikelola PDAM pengelolaannya lebih profesional maka bisa saja dikelola oleh PDAM," akunya.

Edi menegaskan, pihaknya juga meminta BPBD selalu koordinasi dengan PDAM-CM dalam suplai air ke wilayah yang dilanda kekeringan. "PDAM juga jangan lambat merespon masalah ini," tegasnya.Sementara itu, Direktur PDAM-CM Encep Nurdin tidak menanggapi saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon. (gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook