Dilatih Tentara Jepang Untuk Melawan Balik

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Kamis, 16 Agustus 2018 - 12:13:41 WIB   |  dibaca: 654 kali
Dilatih Tentara Jepang Untuk Melawan Balik

MASIH SEMANGAT : H Tubagus Djanawi mengenakan seragam kebesarannya bersiap menghadiri undangan acara, Rabu (15/8). Djanawi adalah salah satu saksi hidup peristiwa perang kemerdekaan di Banten dan sekitarnya.

SERANG - Ketua DPD Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) Banten HM Tb Djanawi menceritakan bahwa semasa penjajahan Jepang dulu ia pernah dilatih perang oleh tentara Jepang. Latihan dilakukan di Lembang, Bandung, di bawah gunung Tangkuban Perahu selama empat setengah bulan.


Saat itu tahun 1943 dan Djanawi muda masih berusia 17 tahun. Tawaran Jepang yang akan melatih para pemuda Banten ia sambut dengan antusias. Meski ayahnya sempat melarang Djanawi muda tetap bersikeras berangkat ke Bandung mengikuti latihan perang.


“Jepang paling suka kalau calon tentara yang dilatih pelajar karena bahasa Jepangnya lumayan,” kata  Djanawi kepada Banten Raya saat ditemui di kediamannya di Jalan Raya Taktakan, Rabu (15/8).


Djanawi mengaku senang dan bangga bisa dilatih para tentara Jepang karena latihan itu dilakukan untuk mempersiapkan putra-putri Banten menyongsong kemerdekaan Indonesia. Apalagi saat itu Jepang melabeli pribumi Nusantara sebagai saudara muda Jepang. Bahkan Morimoto dan Yabe, dua orang pelatihnya, mengatakan siap mati agar Indonesia bisa merdeka dari penjajah.


“Kata Morimoto dan Yabe pelajari baik-baik latihan militer ini karena ini demi untuk kalian persiapan kemerdekaan. Demi kemerdekaan saya siap dibunuh,” kata Djanawi menirukan ucapan yang keluar dari mulut Morimoto dan Yabe.


Selama masa latihan militer itu Djanawi mengaku mendapatkan makan cukup baik. Di saat sebagian penduduk makan makanan apa saja yang mereka temukan di alam, Djanawi muda mendapatkan makanan lumayan enak: nasi dicampur kacang kedelai rebus dan ikan gabus asin.

Menurutnya itu adalah makanan paling enak saat itu. Macam-macam latihan yang dijalani mulai dari naik turun bukit pada malam hari, gerilya, sampai dengan latihan menyerbu saat malam hari.“Saya latihan bersama teman-teman dari Banten seperti Aliyamangku, Lulu Kaking, Umar Sari, dan lainnya,” katanya.


Setelah mendapatkan pelatihan militer dari tentara Jepang di Bandung akhirnya Djanawi pun kembali ke Banten dan mendapatkan tugas melatih para pelajar. Pelajar yang dilatih tidak hanya berasal dari Serang melainkan juga dari Rangkasbitung sampai Pandeglang. Pasukan-pasukan muda ini dipersiapkan sebagai pasukan yang akan berada di garda paling depan saat terjadi pertempuran.“Pangkat saya waktu itu letnan 1 bertugas memimpin dan melatih pelajar,” katanya.


Meski bersyukur mendapatkan latihan militer oleh tentara Jepang dan mendapatkan perlakuan baik oleh tentara Jepang namun menurutnya banyak juga tentara Jepang yang bertidak kejam pada pribumi. Banyak tentara Jepang mengambili beras milik penduduk sehingga banyak yang kelaparan dan mati.

Mereka yang masih hidup bahkan kerap kali makan makanan apa saja yang mereka temukan, seperti talas gatal dan gedebong pisang.“Waktu itu kan enggak kayak sekarang. Jadi generasi sekarang harus bersyukur dan mempertahankan kemerdekaan ini,” katanya.


Djanawi yang mengaku lahir tahun 1926 ini mengisi hari-hari tuanya di rumah. Saat ditemui Banten Raya kemarin Djanawi sedang memperhatikan seorang lelaki yang sedang membuat batu bata di belakang rumahnya. “Waktu muda abah yang bikin bata,” katanya mengenang. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook