Narkoba Rp28,5 Miliar Diamankan

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 30 Agustus 2018 - 14:37:23 WIB   |  dibaca: 2292 kali
Narkoba Rp28,5 Miliar Diamankan

MAKIN CERDIK : Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Arman Depari (kiri depan) dan Kepala BNNP Banten Brigjen Pol M Nurochman (kanan) menunjukkan tersangka pembawa sabu 7 kilogram dan 65 pil ekstasi, kemarin.

SERANG - Sebanyak 7 kilogram (kg) sabu senilai Rp10,5 miliar diamankan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten di PT ICE, Kelurahan Batu Jaya, Kecamatan Batu Ceper, Kota Tangerang. Selain sabu, sebanyak 65 ribu butir pil ekstasi senilai Rp18 miliar juga ikut diamankan dari tersangka Mulyadi, warga Karang Tengah, Kota Tangerang.

Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Arman Depari mengatakan, sabu yang diamankan BNNP Banten sama persis dengan jenis narkoba yang diedarkan oleh anggota DPRD Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Ibrahim Hasan alias Ibrahim Hongkong yang ditangkap pada 21 Agustus 2018 lalu."Iya sama, dilihat dari fisik, kemasan dan warna. Tapi kalau untuk ekstasinya berbeda, kalau yang ini buatan Belanda," katanya kepada Banten Raya di sela ekspos pengungkapan kasus tersebut di kantor BNN Provinsi Banten, Rabu (29/8).

Menurut Arman, 7 kg sabu dan 65 ribu pil ekstasi itu dikirim dari Malaysia menggunakan kapal kargo tujuan Sumatera Utara. Dari sana, narkoba kembali dikirim melalui jasa pengiriman barang PT ICE melalui jalur darat pada 24 Agustus 2018."Barang bukti berasal dari Malaysia diselundupkan melalui jalur laut. Ternyata perbatasan di laut banyak kelemahan sehingga terjadi kebocoran yang dilakukan oleh sindikat untuk memasukan narkoba ke Indonesia," ujarnya.

Arman menjelaskan, dari keterangan yang diperoleh dari tersangka Mulyadi yang ditangkap pada 27 Agustus 2018, narkoba itu merupakan pesanan dari warga binaan lembaga permasyarakatan (Lapas) Klas II A Salemba, Jakarta Pusat berinisial AN "Keterangan tersangka yang diperiksa, bahwa dia diperintahkan oleh seseorang yang sekarang ada di LP atas nama AN. Tapi ini masih pengembangan, soal posisi dan peran masing-masing. Sebab setelah kita gali narkoba ini akan diterima oleh Aryanto dan nama itu ternyata palsu. Aryanto dan Mulyadi merupakan orang yang sama," terangnya.

Arman menambahkan, dengan serangkaian pengungkapan narkoba di wilayah Sumatera, Banten dan Jakarta, BNN menilai masih banyak kebocoran di jalur laut dan mudahnya penggunaan alat komunikasi oleh warga binaan di dalam lapas."Kurang pengawasan. Kebocoran bukan hanya di perbatasan tapi juga di Jakarta dan ini juga selalu terulang, di dalam lapas masih bisa mengontrol dan mampu menggerakan orang lain untuk mengedarkan narkoba," tambahnya.

Untuk itu, Arman mengimbau agar semua instansi terkait dapat bekerjasama dan mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia. "Kami mengimbau dalam situasi apapun, setiap instansi maksimal bekerja sama dengan kita. Karena pemberantasan narkoba ini, untuk kepentingan masa depan generasi kita ke depan," katanya.

Sementara itu, Kepala BNNP Banten Brigjen Pol Muhammad Nurochman mengatakan, narkoba yang berhasil diamankan oleh BNN, rencananya akan disebarluaskan di wilayah Banten dan Jakarta."Sebagian besar di Banten. Tapi karena itu perbatasan (Tangerang Kota) kemungkinan juga masuk Jakarta. Pelaku Mulyadi ini berprofesi sebagai sales bir," katanya.

Meski sudah berhasil mengungkap kasus itu, Nurachman mengaku masih kecolongan. Sebab dari hasil penyelidikannya, narkoba kali ini merupakan pengiriman yang kedua kalinya."Ini yang kedua. Untuk yang pertama tak termonitor. Kita juga minta waktu ke teman-teman media untuk melakukan pengembangan,” jelasnya.

Dalam kasus ini, Mulyadi dikenakan pasal 114 ayat 2, 112 ayat 2, 132 ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 RI tentang Narkotika dengan ancaman penjara seumur hidup atau hukuman mati. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook