Lomba Cipta Menu Dinilai Habiskan Anggaran

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Jumat, 31 Agustus 2018 - 12:21:17 WIB   |  dibaca: 317 kali
Lomba Cipta Menu Dinilai Habiskan Anggaran

DINILAI : Kepala DKP Pandeglang, Mohamad Amri menilai makanan dan minuman dalam acara lomba cipta menu yang digelar di salah satu hotel di Pandeglang, Kamis (30/8).

PANDEGLANG - Bupati Pandeglang, Irna Narulita menyinggung acara lomba cipta menu berbasis Beragam, Berigizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Pandeglang, di salah satu hotel di Pandeglang, Kamis (30/8).


Bupati menilai kegiatan tersebut hanya menghambur-hamburkan anggaran karena belum adanya karya pangan yang bisa diunggulkan. "Selama program ini dilaksanakan belum memberi dampak yang diharapkan. Padahal, kegiatan lomba cipta menu sudah seringkali dilakukan dari berbagai tingkatan. Tapi sejauh ini baru sebatas seremonial, hanya menghabiskan anggaran," kata bupati dalam sambutannya.


Bupati menyebutkan, saat ini kegiatan lomba cipta menu belum dilaksanakan secara menyeluruh di Pandeglang, sehingga karya-karya yang dihasilkan belum ada yang mampu mengangkat sampai di tingkat nasional. "Acara ini hanya dirasakan di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa belum tersentuh. Pangan lokal belum terangkat, di pasaran tidak ada produk pangan Pandeglang yang diminati," sebutnya.


Seharusnya, menurut bupati, pangan lokal menjadi kebutuhan berbagai kegiatan, dimana Pandeglang kaya akan sumber pangan lokal yang kaya gizi. Bupati pun meminta dinas terkait untuk menciptakan menu yang inovatif agar bisa menggerakkan perekonomian daerah. "Pangan lokal harus menjadi kebutuhan berbagai kegiatan, baik formil maupun non-formil. Ciptakan inovasi supaya perekonomian bergerak. Jangan sampai pariwisata Pandeglang hidup, malah orang luar yang menguasai pasar makanan," pintanya.


Menanggapi hal itu, Kepala DKP Pandeglang, Mohamad Amri tidak membantah program B2SA belum menyentuh ke semua kalangan masyarakat. Hal itu disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang sulit beralih dari beras dan terigu. "Kami selalu berupaya menyosialisasikan kepada masyarakat bagaimana mengubah pola makan sesuai B2SA walaupun kadang masih berat, terutama mengoptimalkan panganan lokal yang ada," katanya.


Hingga saat ini, menurut dia, pola konsumsi masyarakat masih tergolong rendah, karena baru mencapai di angka 71 persen. Padahal, dia mengklaim, sudah sering melakukan sosialisasi hingga ke kalangan pelajar supaya tidak terus bergantung pada beras dan terigu tersebut. "Hasil penelitian pola makan masyarakat belum sesuai dengan B2SA. Padahal makanan bergizi tidak harus mahal, bisa memanfaatkan pangan yang ada di pekarangan rumah," imbuhnya. (yanadi)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook