Sambung Plastik Karena Tak Mampu Beli Kain

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Sabtu, 01 September 2018 - 11:36:21 WIB   |  dibaca: 317 kali
Sambung Plastik Karena Tak Mampu Beli Kain

MENTAS : Anggota Sangar TNB saat mentas di sebuah event seni di Alun-alun Kota Serang, belum lama ini.

KABUPATEN SERANG - Bukan hanya pertunjukan seni semata. Sanggar Teater Nol Banten (TNB) memaknai pertunjukan teater sebagai sarana menyampaikan hikmah dalam sebuah kejadian dalam kehidupan. Dramatisasi digunakan agar masyarakat tertarik menangkap pesan tersebut.

Jarang orang mengenal seni yang memadukan musik, tari, dan seni peran bernada kritikan yang dibumbui pesan moral ini. Mungkin seni wayang orang, ketoprak, ludruk lebih familiar bagi kita.Kenyataan itu lah yang mendorong Ronny M Khalid membentuk komunitas TNB pada 2002.

Tujuan pria kelahiran Serang 37 tahun silam ini ingin memberi wadah seni teater di Banten yang sekarang kurang begitu dikenal. Kampung Kukun, RT 01/01, Desa Parigi, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang pun dipilih sebagai sanggarnya.


TNB merupakan kelompok independen yang dibangun dengan visi misi melestarikan nilai-nilai tradisi seni dan budaya di Banten. Membangun pribadi kreatif, inovatif dan produktif berkarya seni. Terdepan dalam perkembangan dan kemajuan kekaryaan, kebudayaan yang berpijak pada ketuhanan, kemanusiaan serta keindahan.


Pembentukan sanggar seni regular tersebut tidak dilaluinya dengan mudah. Ronny harus melalui jalan berliku dan jatuh bangun. Dari kilas baliknya, sudah tak terhitung berapa biaya dari kocek pribadinya dihabiskan untuk sebuah pentas tetater.


Bahkan pernah dalam suatu pementasan, dia terpaksa menyambung plastik demi plastik hitam untuk membuat latar belakang gelap. Sebab untuk membeli Sebuah kain hitam saat itu di luar kemampuannya.


Karena kondisi serba minim itu lah Ronny memilih TNB sebagai nama sanggarnya. Ronny berpandangan setiap berganti peran harus kembali ke posisi nol. Pemeran harus melepas semua karakter dan identitas yang melekat dalam dirinya dan mampu membangun karakter baru dari awal. Nol bukan kosong atau tidak ada. Nol melainkan sebuah titik awal menuju angka 1, 100 dan seterusnya.


Meski serba kekurangan, alumnus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budhi Rangkasbitung ini tak menyerah. Ronny terus menyosialisasikan sanggarnya dan seiring beralannya waktu, pertunjukan seninya mampu memikat yang melihatnya. Dia pun mulai mendapatkan anggota hingga ratusan orang yang sebagian besar adalah pelajar SMA dan SMP.


Ronny yang tercatat sebagai guru seni budaya di SMAN 1 Jawilan, Kabupaten Serang sejak 2005 ini memang cenderung mengajak pelajar masuk ke sanggarnya. Alasannya tak lain adalah untuk menularkan virus obsesi pada dunia teater.


Kemudian juga dia ingin membantu perkembangan pelajar untuk menambah pengalaman dan mengukir prestasi. Teater menguji dan memperkuat mental pelajar tampil di muka umum. Dengan cara itu, kepercayaan diri tumbuh sehingga mempermudah berkomunikasi dengan banyak kalangan.


Melalui teater, ide-ide, bakat, serta pandangan tersalurkan. Di samping juga memberi pengalaman baru hingga memahami banyak hal. Mulai dari aspek sosial ekonomi, agama, filsafat hingga fisika.


Setelah anggota didapat, Sanggar TNB mulai fokus pada pertunjukannya. Ingin terlihat beda dari yang lain mendorong ide-ide kreatif untuk pertunjukannya. 80 persen naskah terinspirasi dari lingkungan sekitar, di samping mengisahkan cerita rakyat tokoh pahlawan zaman dulu. Untuk menguatkan kesan lokal, teater sebagian besar menggunakan Bahasa Jawa Serang.


Kisah unggulan yang sering dibawakan berjudul Ode Kampung. Bercerita tentang pergeseran zaman. Kisah ini diambil dari kehidupan lingkungan di Cikande. Cikande yang dikenal dengan daerah agraris, seiring perjalanan waktu berubah menjadi daerah industri.


“Dari kaca mata saya, terjadi perubahan sosial di Cikande. Petani ramai-ramai jual tanah. Tapi, enggak berpikir akan kemana nantinya, ini jadi persoalan. Makanya, kisah ini saya jadikan sumber inspirasi untuk dimainkan dalam teater yang didramatisasi,” ujarnya.


Sementara cerita legenda yang kerap ditampilkan di TNB, diantaranya kisah perjuangan Nyimas Gamparan. Soal lokasi pertunjukan, TNB tak mengenal tempat, mulai dari sanggarnya hingga ke sekolah-sekolah.


Gempuran TNB dengan karya seninya itu nyata mampu memikat sejumlah pihak. Sejumlah karyanya, kerap ditampilkan pada ajang-ajang pembuka kegiatan seremonial pemerintahan. Baik di tingkat pemerintah kabupaten/kota, provinsi maupun sampai ke taraf nasional.


Sanggar TNB juga pernah tampil di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jawa Barat, Taman Ismail Marjuki (TIM), Jakarta Pusat hingga Taman Budaya Lombok pada 2012. Sekali pentas, melibatkan sampai 30 orang, bahkan lebih dengan peralatan bervariasi.


Agenda terdekat, anak Sanggar TNB di SMAN 1 Jawilan akan terbang ke Aceh dalam kegiatan festival dan lomba seni siswa nsional (FLS2N) pada 26 Agustus 2018. Mereka akan berpartisipasi pada cabang lomba seni kriya dan puisi.


Dari perjalanan itu, Sanggar TNB sukses meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik se-Indonesia pada Festival Teater Nasional Anak di Taman Ismail Marjuki (TIM), Jakarta Pusat pada 2014. Penghargaan diberikan atas prestasinya menjuarai pentas seni teater lima kali berturut-turut tingkat Provinsi Banten di Kampus Untirta.


Lewat insipirasi dan kreativitasnya pula, Ketua TNB Ronny M Khalid dilantik menjadi Ketua Komite Teater di Dewan Kesenian Banten (DKB) pada 2015 dan masih banyak prestasi lainnya.
Sanggar TNB kini bercita-cita mentas hingga ke luar negeri. Untuk bertahan dan terus menggali potensi generasi muda, Sanggar TNB pun bekerja sama dengan sejumlah yayasan.

Berbagai event pun terus diikuti guna menajamkan kemampuannya dalam seni teater.“Asah kemampuan peran, kita latihan rutin seminggu sekali. Persiapan menjelang pentas, tiga bulan sebelumnya kita genjot terus latihan tiap hari,” pungkasnya.


Seperti emas yang harus menggali perut bumi untuk menikmati kilaunya. Suatu karya seni pun harus terus dipertahankan eksistensinya agar keindahannya terus terpancar. Semoga ada Ronny-ronny berikutnya sehingga karya seni tak hilang dimakan zaman. (JERMAINE A TIRTADEWA)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook