Selangkah Mau Untung, Dirut PT KS Malah Mendadak Diganti

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Jumat, 07 September 2018 - 10:27:49 WIB   |  dibaca: 593 kali
Selangkah Mau Untung, Dirut PT KS Malah Mendadak Diganti

Direktur Pemasaran PT KS Purwono Widodo memberikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan pasar baja, usai RUPSLB, kemarin.

JAKARTA - Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi dicopot dari jabatannya dan digantikan Silmy Karim yang sebelumnya menjabat Dirut PT Barata Indonesia. Penggantian Mas Wigrantoro diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Krakatau Steel (KS) yang digelar di Gedung Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (6/9).

Keputusan itu terbilang mengejutkan mengingat selama memimpin PT KS, pria yang akrab disapa Maswig ini mampu memberikan catatan positif, di antaranya adalah menekan nilai kerugian yang selama ini dialami PT KS. Bahkan, Maswig dinilai selangkah lagi mampu membawa PT KS untung kembali melalui enam program yang diterapkannya selama menjabat posisi Dirut.

Enam program itu antara lain meningkatkan likuiditas, mendorong penjualan stok yang tersimpan dalam gudang untuk meningkatkan cash flow, menjual aset non produktif, penyelesaian proyek-proyek strategis yang sudah lama tidak selesai untuk menambah kapasitas produksi sehingga meningkatkan penghasilan, mengubah budaya kerja dan paradigma, melakukan efisiensi dengan mengendalikan biaya sebaik mungkin termasuk pemotongan insentif direksi, optimalisasi aset sesuai peraturan perundangan, dan restrukturisasi keuangan untuk meringankan beban hutang perusahaan.

Direktur Logistik dan Pengembangan Usaha PT KS Ogi Rulino berharap, pergantian dirut tidak memunculkan spekulasi apapun. Direksi suatu perseroan harus siap dipindahtugaskan tanpa mengetahui apa alasannya. "Pengurus perseroan di BUMN itu suatu waktu bisa berhenti dan bisa dilanjutkan. Jadi keputusan pengurus bukan domain kami yang pantas untuk menjawab kenapa harus diganti," ujarnya kepada Banten Raya.

Namun demikian, lanjut Ogi, meski Dirut PT KS telah diganti, program yang sudah ada semasa kepemimpinan Maswig akan tetap dilanjutkan dan semakin disempurnakan oleh dirut dan pengurus yang baru. "Program utama yang enam itu tetap dilanjutkan dengan berbagai perbaikan-perbaikan tentunya. Artinya, kami ini kan semua yang ada di jajaran direksi memiliki amanah yang sama jadi bukan berarti dirutnya diganti programnya juga berubah. Semua harus on going karena semua program itu kan bagus-bagus dari sisi pemasarannya, keuangannya, dan  lain-lain. Makanya harus dilanjutkan," jelasnya.

Selain pergantian dirut, keputusan RUPSLB menyetujui perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum terbatas melalui hak memesan efek terlebih dahulu sebesar Rp1.226.383.182.781 dari semula untuk modal kerja proyek pembangunan Hot Strip Mill 2 (HSM #2) menjadi untuk memenuhi kebutuhan investasi proyek pembangunan HSM #2 .

Diketahui, pembangunan pabrik HSM #2 sudah mencapai 78,17% per Juni 2018 dan diproyeksikan akan selesai pada April 2019 (First Coil). Sedangkan untuk proyek Blast Furnace, PT KS sudah menyelesaikan pencapaian proyek sebesar 99,51% per Juni 2018 dan disiapkan untuk First Blow In (FBI) pada Desember 2018.

Sementara itu, dari sisi penjualan, market share produk baja KS yang paling tinggi adalah Hot Rolled Coil/HRC (Baja Canai Panas) sebesar 39%, Cold Rolled Coil/CRC (Baja Canai Dingin) sebesar 27%, dan Wire Rod/WR (Baja Kawat) sebesar 4% untuk pasar domestik. Volume penjualan tertinggi adalah HRC sebesar 53%, CRC 30% dan WR 3% di tahun 2017.

Direktur Pemasaran PT KS Purwono Widodo mengatakan, sesuai dengan apa yang telah disampaikan World Economic Outlook, IMF pada April 2018, perekonomian dunia diproyeksikan bertumbuh positif hingga 2019. Negara-negara berkembang termasuk Indonesia diproyeksikan mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi positif hingga mencapai 5,50% di 2019 dari sebelumnya 5,07% di 2017.

Namun, Tiongkok diperkirakan mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang menurun hingga 2019. Selain itu, data dari South East Asia Iron & Steel Institute (SEAISI), menyebutkan bahwa Konsumsi baja domestik sepanjang tahun 2009–2017 mengalami pertumbuhan dengan CAGR 7,9%. “Namun demikian, sebagian kebutuhan baja masih dipenuhi oleh impor. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI, total defisit neraca perdagangan baja mencapai USD30,2 miliar selama lima tahun terakhir sehingga kami masih harus menghadapi banyak tantangan di sisa waktu 2018 ini,” ungkapnya. (danang)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook