Tolak Penggusuran, Nelayan di Cilegon Akan Mengadu ke Menteri Kelautan

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 10 September 2018 - 11:36:13 WIB   |  dibaca: 267 kali
Tolak Penggusuran, Nelayan di Cilegon Akan Mengadu ke Menteri Kelautan

CILEGON - Ratusan nelayan di Pantai Tanjung Peni, Kota Cilegon melakukan rapat koordinasi atas rencana penggusuran pangkalan nelayan di Perairan Tanjung Peni, Kecamatan Grogol. Relokasi nelayan Tanjung Peni itu dilakukan menyusul adanya rencana kerjasama antara PT Krakatau Steel (KS) selaku pemilik lahan Pantai Tanjung Peni dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Banten.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilegon Yayan Hambali mengatakan, ada sekitar 140 nelayan yang menjadikan Pantai Tanjung Peni sebagai pangkalan perahunya. Ratusan nelayan tersebut, akhir September 2018 ini diminta untuk tidak lagi memarkir perahunya di Pantai Tanjung Peni. "Pantai Tanjung Peni memang lahan milik PT KS, rencananya lahan tersebut akan dikerjasamakan dengan Pelindo untuk pengembangan pelabuhan," kata Yayan ditemui di Pantai Tanjung Peni, Minggu (9/9).

Yayan menjelaskan, atas rencana kerjasama dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, pihaknya sudah diminta oleh PT KS melakukan sosialisasi rencana relokasi pangkalan nelayan Tanjung Peni. Namun, ratusan nelayan yang sudah bertahun-tahun menjadikan Pantai Tanjung Peni sebagai pangkalan perahunya menolak rencana tersebut. "Saya sudah diundang PT KS beberapa waktu lalu terkait lahan Tanjung Peni yang akan dikerjasamakan dengan Pelindo, akhir September ini, nelayan diminta angkat kaki, tapi nelayan menolak," jelasnya.

Yayan menegaskan, pihaknya juga belum mengetahui apakah PT KS mempunyai lahan relokasi yang bisa digunakan nelayan memarkir perahu. Jika tidak ada lahan, tentu pihaknya secara keras menolak rencana itu. "Kami akan sampaikan masalah ini ke Bu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia -red)," tegasnya.

Dari sekitar 608 nelayan yang ada di Cilegon, lanjut Yayan, ada sekitar 140 nelayan yang menggunakan Pantai Tanjung Peni sebagai pangkalan perahunya. Saat ini, di Cilegon hanya tersisas delapan titik pantai yang bisa dijadikan sebagai pangkalan perahun nelayan. "Kalau satu lagi pangkalan perahu (Tanjung Peni -red) hilang, nelayan akan kesulitan memarkir perahunya. Perahu kan butuh pantai untuk tambat, bukan seperti mobil yang bisa dibawa pulang ke rumah," tegasnya.

Yayan menjelaskan, Pantai Tanjung Peni sendiri memunyai bibir pantai dengan panjang sekitar 800 meter. Tempat tersebut bisa untuk memarkir sekitar 80 sampai 100 perahu nelayan. "Kalau tempat tersebut ditutup, perahu nelayan mau di taruh di mana? Sementara garis pantai di Cilegon setiap tahun terus berkurang akibat industrialisasi, ini alasan penolakan kami," jelasnya.

Ia berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon memerhatikan nasib nelayan. Kemajuan industri di Kota Baja ini, diharap tidak mengesampingkan warganya yang bermatapencaharian sebagai nelayan. "Kalau garis pantai terus berkurang, sama saja membunuh nelayan secara pelan-pelan," ucapnya.

Yayan menambahkan, jika pemerintah tidak memperhatikan nasib nelayan, maka pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa. Bahkan, kekuatan nelayan bukan tidak mungkin untuk unjuk rasa di tengah laut yang bisa mengganggu aktivitas kapal dan pelabuhan. "Makanya, kami minta perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat," tambahnya.

Salah satu nelayan di Pantai Tanjung Peni, Kecamatan Grogol Madroni mengatakan, pihaknya sangat keberatan ketika diminta untuk angkat kaki dari Pantai Tanjung Peni. Dipilihnya Pantai Tanjung Peni untuk pangkalan perahu nelayan juga keinginan PT KS setelah adanya pembangunan PT Krakatau Posco di Kubangsari. "Kami dulu digusur di tempat yang sekarang dibangun Posco, sekarang mau digusur lagi," keluhnya.

Sementara itu, sampai berita ini naik cetak, beberapa pejabat PT KS tidak menanggapi ketika dihubungi melalui sambungan telepon. (gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook