Imbas Dolar Naik, Pendapatan Perajin Tahu Turun

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Kamis, 13 September 2018 - 11:04:18 WIB   |  dibaca: 70 kali
Imbas Dolar Naik, Pendapatan Perajin Tahu Turun

KEDELAI IMPOR : Kacang kedelai dicuci di salah satu serta pembuatan tahu yang ada di Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, kemarin.

CILEGON- Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memengaruhi jalannya bisnis pengusaha kecil. Produsen tahu dan tempe di Kota Cilegon mengaku cemas, jika dolar negara adidaya itu terus menguat.

Salah satu produsan tahu di Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang, Iyuk Koparela (28), mengatakan, setiap pekannya kebutuhan kedelai untuk produksi tahu di tempat pembuatan tahu miliknya mencapai 1 ton. “Harga kedelai per kilogram saat ini 10 ribu. Padahal, bulan lalu masih 8 ribu per kilogram,” kata Iyuk ditemui Banten Raya di tempat produksi tahu miliknya, (12/9).

Iyuk mengaku, kenaikan harga kedelai tersebut sangat berdampak bagi usahanya. Pasalnya, kedelai yang didapat untuk bahan baku tahu merupakan kedelai impor. “Meski belinya di Cilegon, tapi kedelai itu impor,” kata Iyuk.

Akibat kenaikan harga kedelai, sambungnya, keuntungan yang diterima pihaknya berkurang drastis. Sehari, biasnaya, ia bisa mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp 500 ribu. Setelah adanya kenaikan harga kedelai sejak dua pekan lalu, ia hanya bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 200 ribu. “Kami tidak bisa mengurangi ukuran tahu, sementara untuk menaikkan harga tahu juga tidak mudah, karena naik sedikit pembeli juga protes, kami khawatir pembeli lari dan itu akan lebih repot lagi kami mencari konsumen,” tuturnya.

Iyuk berharap, harga kedelai bisa kembali normal. Ia juga berharap pemerintah melakukan langkah kebijakan ekonomi yang bisa membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali stabil. “Kalau terus-terusan seperti ini, kami akan merugi. Pemerintah harusnya memerhatikan pengusaha kecil,” harapnya.

Iyuk mengungkapkan, 13 kilogram kedelai bisa untuk membuat satu kotak tahu yang beirisi 81 tahu. Satu kotak tahu yang berisi 81 saat ini harganya tidak mengalami kenaikan, yaitu Rp 62 ribu. “Padahal, tahu ini kan makanan masyarakat kecil. Kalau harganya naik, kasihan juga rakyat kecil untuk membeli lauk,” tuturnya.

Disinggung mengenai kenapa tidak menggunakan kacang kedelai lokal, Iyuk menyebutkan kualitasnya berbeda. “Kualitasnya beda, kalau lokal ukurannya kecil-kecil. Warnanya juga berbeda, kalau kata orang, rasa tahunya berbeda,” katanya.

Selaku perajin tahu, Iyuk menyebutkan, kualitas kedelai lokal tidak sebaik kedelai impor. Pada proses pembuatan tahu yang dibutuhkan aci, sedangkan kedelai lokal acinya tidak banyak. Berbeda dengan kedelai impor yang kandungan acinya lebih bagus.


Di sisi lain, kedelai lokal pun terbilang susah dicari.“Pernah coba giling yang lokal itu jauh sekali (kualitas acinya), bagus yang impor (lebih banyak). Sebenarnya kalau pakai yang lokal lebih enak, lebih kenyal, tetapi karena acinya lebih sedikit jadi produksinya lebih mahal (butuh lebih banyak kedelai), jual ke pasarnya susah,” jelasnya.(gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook