Sampah Hilang, Untung pun Datang

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 14 September 2018 - 14:26:38 WIB   |  dibaca: 351 kali
Sampah Hilang, Untung pun Datang

KOTA SERANG - Penanganan sampah organik yang dilakukan para siswa SMP Permata Insani Islamic School Kabupaten Tangerang patut diadopsi oleh Pemerintah Kota Serang. Dengan memanfaatkan belatung lalat tentara hitam masalah sampah di sekolah mereka yang berlokasi di Pasar Kemis ini tertangani. Bahkan sekolah mampu meraup untung dari ternak belatung.

Adalah Nasywaa Yunita Kusuma Nuur'aini, Annisa Mouna Kalista, dan Luthfi Nur Fauzan, siswa SMP Permata Insani Islamic School, yang menjadi pelopor penanganan sampah organik di sekolah mereka dengan memanfaatkan belatung lalat tentara hitam.

Dalam sehari 17 kilogram (kg) sampah yang dihasilkan sekolah habis untuk bahan makanan belatung ini. Bahkan bila sebelum penanganan sampah ini sampah yang dihasilkan sekolah bisa mencapai satu mobil penuh dalam sehari saat ini setelah sampah organik dikelola sampah yang diangkut dari sekolah berkurang hanya setengah mobil.“Bahkan kurang dari setengah mobil,” kata Nasywaa yang ditemui di stand pameran teknologi tepat guna di Alun-alun Barat Kota Serang, Kamis (13/9).


Nasywaa menjelaskan bahwa lalat tentara hitam berbeda dengan lalat pada umumnya. Lalat ini tidak membawa penyakit karena siklus hidupnya sangat singkat dibandingkan dengan lalat biasa, misalkan lalat hijau. Cara mengembangbiakkan lalat ini pun cukup mudah. Ia pun hanya belajar satu hari di Bogor bagaimana cara mengembangbiakkan lalat tentara hitam tersebut.

Belatung yang dikembangbiakkan pun saat masa panen sebagian bisa dijual sebagai pakan ternak dan sebagain lagi dikembangbiakan lagi sebagai bibit. Harga belatung yang masih basah mencapai Rp7.500 sampai dengan Rp10.000 per kg. Sementara harga belatung kering yang sudah dioven Rp37.000 per 100 gram. Sisa sampah organik yang dimakan belatung kemudian akan mengering dan menjadi kompos yang bisa laku seharga Rp4.000 per kg.


Pembuatan kompos dengan memanfaatkan belatung lalat tentara hitam juga lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan sistem fermentasi. Pembuatan kompos sampah organik dengan menggunakan sistem fermentasi membutuhkan waktu kurang lebih 21 hari sampai menjadi kompos. Sementara proses pembuatan kompos dengan menggunakan belatung lalat tentara hitam hanya membutuhkan waktu 1-7 hari.


Atas penanganan sampah di sekolahnya ini Nasywaa dan teman-temannya mendapatkan banyak penghargaan. Mereka, misalkan, menjadi juara 2 dalam lomba teknologi tepat guna tingkat Kabupaten Tangerang, juara 1 lomba teknologi tepat guna tingkat Provinsi Banten, dan juara 1 Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional dan mendapatkan medali emas.


Ketua Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Pasar Kemis Sri Dwi Atmoko mengatakan bahwa ulat lalat tentara hitam (hermetia illucens) mengurai semua sampai organik. Dalam 24 jam sampah organik itu bisa langsung hancur bergantung pada bobot belatung yang ada. Biasanya setiap 6 kg belatung mampu menghabiskan 12 kg sampah organik dalam 24 jam. Proses penetasan dari telur membutuhkan 7 hari dengan menggunakan bahan pelet atau dedek yang dibasahi air. Setelah berumur 7 hari belatung sudah bisa memakan sampah organik apa pun.

Akan lebih baik bila sampah yang diberikan pada belatung dihancurkan terlebih dahulu sehingga ukuran belatung akan sama rata dengan yang lain. Pengembangbiakan belatung hanya membutuhkan waktu selama 7 hari dan tibalah saat panen.

Saat panen belatung dibagi menjadi dua, satu untuk dijual sebagai pakan dan satu lagi dikembangbiakkan agar menjadi lalat dan menetaskan telur lagi. Setelah belatung panen maka selama 7 hari akan menjadi kepompong lalu berubah menjadi lalat dan menetas. Karena itu secara umum umur belatung hanya 14 hari.


Dwi mengungkapkan bahwa biaya memulai pengembangbiakkan lalat tentara hitam ini juga murah. Untuk pengembangbiakan sederhana bisa dengan modal Rp500 ribu dengan menggunakan kotak kecil sebagai penampung belatung. Harga bibit belatung 1 gram hanya Rp25 ribu. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook