Banyak IRT Jadi Pemulung di TPSA

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 01 Oktober 2018 - 11:18:29 WIB   |  dibaca: 48 kali
Banyak IRT Jadi Pemulung di TPSA

PILIHAN PEKERJAAN : Sejumlah ibu-ibu memilih menjadi pemulung sampah di TPSA Bagendung, Jumat (28/9). Ibu-ibu terpaksa menjadi pemulung untuk menambah perekonomian keluarga.

CILEGON - Banyak Ibu Rumah Tangga (IRT) di Lingkungan Sambi Buhut, Kelurahan Bagendung Kecamatan Cilegon terpaksa memilih untuk menjadi pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bendungan. Pekerjaan tersebut dilakukan dalam rangka menambah penghasilan ekonomi keluarga.


Dalam sebulan, para wanita tangguh itu mampu meraih penghasilan rata-rata Rp 800 ribu.Warga Lingkungan Sambi Buhut, Kelurahan Bagendung Aminah (30), mengatakan, dirinya harus berkotor-kotoran dan menghirup bau busuk yang menyengat dari sampah di TPSA setiap hari usai melakukan pekerjaan rumah memasak dan beres-beres.

Ia bersama ibu-ibu melangkah menuju TPSA yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. "Dari pagi, sampai TPSA tutup jam (Pukul) 17.00 WIB saya dan yang lain memilah sampah yang bisa dijual ke lapak. Ini saya lakukan setiap hari setelah masak dan membereskan anak-anak sekolah, buat menambah  penghasilan terpaksa melakukan ini," katanya kepada Banten Raya, Jumat (28/9).

Diterangkan Aminah, sampah yang dipungut adalah sampah pelastik seperti botol minuman, kantong kresek, kardus, besi dan tembaga dan semua sampah yang bisa dijual. Sampah tersebut dikumpulkan dan dibawa pulang.

Sesampainya dirumah, sampah tersebut juga dipilah kembali menurut jenis sampahnya, baru setelah banyak atau sekitar 3 mingguan akan ditimbang di lapak. "Setiap tiga minggu kita jual, biasanya ada orang lapak yang datang untuk mengangkut," terangnya.


Aminah menambahkan, penghasilan penjualan sampah tersebut hanya bisa menghasilkan uang rata-rata Rp 800 ribu. Jumlah tersebut sudah dianggap bisa mencukupi ekonomi keluarganya. Sebab, suaminya hanya pekerja kasar dan bertani saat musim tani.

Selain Aminah ada juga Iyam (35) yang memiliki profesi yang sama. Ia terpaksa menjadi pemungut sampah karena desakan ekonomi dan harus membantu suami mencari penghasilan untuk nafkah keluarga. Ia rela berpanas-panasan dan mengorek-orek sampah untuk memisahkan sampah yang bisa dijual."Buat makan dan sekolah anak pak, saya sudah ngambilin sampah dari TPSA ada," tambahnya.


Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Kebersihan TPSA Bendungan Hatibi mengungkapkan, kurang lebih ada sekitar 60 orang yang menjadi pemulung sampah. Semuanya tergabung kedalam paguyuban Pencakar Bumi yang dibuta oleh lingkungan setempat. Hal tersebut agar para pemulung bisa terkordinir dengan baik."Ada banyak dan sebagian besar memang ibu-ibu. Kalau kami bebas yang penting sudah berkoordinasi, karena di sini sudah terbentuk kepengurusan atau paguyubannya," ungkapnya.


Hatibi menegaskan, setiap harinya ppara pemulung tersebut mengambil dan memilih sampah di TPSA Bagendung. Para pemulung mulai berhenti saat TPSA tutup sekitar pukul 17.00 WIB. "Sebelum pukul 17.00 WIB biasanya mereka selesai, karena nanti pintu gerbang juga kami tutup," tegasnya. (uri)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook