304 Lahan Tol Serang-Panimbang Bersengketa

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Senin, 01 Oktober 2018 - 12:39:59 WIB   |  dibaca: 242 kali
304 Lahan Tol Serang-Panimbang Bersengketa

SERANG – PT Wijaya Karya (Wika) Serang Panimbang selaku pengembang Tol Serang-Panimbang terkendala dalam proses pembebasan 304 bakal lahan tol. Lahan tersebut masih bersifat sengketa baik disebabkan adanya keberatan soal harga, penerima hak pembayaran hingga kepemilikan lahan yang belum jelas.


Berdasarkan data yang dirilis PT Wika Serang Panimbang, ke 304 bidang lahan yang bersengketa per 21 September itu berlokasi di empat kabupaten/kota. Kabupaten dan Kota Serang sebanyak 142 bidang lahan yang terdiri atas 8 bidang lahan di Kelurahan Pengampelan.


Selanjutnya, Desa Pabuaran 1 bidang, Desa Cisait 7 bidang, Desa Silebu 62 bidang, Desa Sukajadi 13 bidang dan Desa Mompok 2 bidang. Kemudian Desa Cilayangguha 11 bidang, Desa Cikeusal 7 bidang, Desa Panyabrangan 1 bidang, Desa Bojong Catang 27 bidang dan Desa Kemuning sebanyak 3 bidang. Kini, 120 bidang sudah dalam proses konsinyasi atau proses di pengadilan.


Kabupaten Lebak sebanyak 12 bidang yang berlokasi di Desa Bojong Cae 9 bidang dan Desa Cisangu 3 bidang. Sementara di Kabupaten Pandeglang sebanyak 150 bidang yang berlokasi di Desa Kadupandak 3 bidang dan Desa Pasir Sedang 60 bidang.


Lalu di Desa Bungurcopong 8 bidang, Desa Pasir Durung 3 bidang, Desa Kudu Malati 41 bidang, Desa Pasir Gadung 28 bidang dan Desa Patia sebanyak 6 bidang.Manajer Bidang Lahan PT Wika Serang Panimbang Rendy Dwiandika membenarkan, ada sejumlah bidang calon lahan Tol Serang-Panimbang yang belum bisa dibebaskan karena bersengketa. “Kami beri keterangan (progres pembebasan lahan) berdasarkan warna.

Hijau itu sudah siap bayar. Biru sudah terbayar dan merah sengketa serta kuning sengketa namun sudah dititip kepengadilan atau konsinyasi,” ujarnya saat ditemui di ruang rapat PT Wika Serang-Panimbang, akhir pekan kemarin.


Ia menjelaskan, adapun lahan yang bersengketa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama lahan tersebut belum diketahui kepemilikannya, kedua adanya penolakan harga dan ketiga terkait hak penerima pembayaran pembebasan lahan yang belum putus.  


“Ada juga perusahaan yang punya tanah tapi enggak tahu. Lokasinya perusahaan itu enggak tahu di mana. Kalau di BPN (Badan Pertanahan Nasional) nama (kepemilikannya) PT ini, kita tanya ke yang bersangkutan enggak tahu lokasinya di mana,” katanya.


Jika dilihat secara keseluruhan, progres pembebasan lahan untuk wilayah Serang, 2.218 persil atau bidang lahan, 1.558 diantaranya sudah terselesaikan. Kabupaten Lebak dari 2.722 persil sudah 746 dan Kabupaten Pandeglang dari 1.492 persil sudah 495 persil yang diselesaikan.


“Di Lebak memang kesadaran masyarakat itu sendiri. Berkas untuk dibayar masih kurang, makannya untuk memacu ya kita bayar dulu yang lengkap-lengkap berkasnya. Di Serang dari 120 bidang yang konsinyasi sebagian sudah bayar di September, tinggal 100 lagi sisanya itu di Oktober selesai,” ungkapnya.   

 
Lebih lanjut diungkapkan Rendy, adapun realisasi dari sisi penyerapan alokasi anggaran pembebasan lahan hingga 21 September sudah mencapai Rp 693,7 miliar. Terdiri atas Kabupaten dan Kota Serang Rp 354,2 miliar, Kabupaten Lebak Rp 231,2 miliar dan Kabupaten Pandeglang Rp 108,2 miliar. Sedangkan total kebutuhan untuk pembebasan lahan itu mencapai Rp 1,24 triliun.


Untuk pembebasan lahan sendiri wilayah Serang ditargetkan rampung pada Oktober 2018, Kabupaten Lebak pada November 2018 dan Kabupaten Pandeglang di Februari 2019.“Ada beberapa titik yang menjadi prioritas pembebasan. Di wilayah Serang di Desa Cilayangguha, Dahu, Bojong Pandan dan kemuning. Di Lebak yaitu dari Desa Bojong Cae hingga Desa Mekar Agung. Itu diprioritaskan agar konstruksi kami tidak terputus-putus, enggak spot-spot pembangunannya,” paparnya.


Manajer Operasional PT Wika Serang-Panimbang Muhamad Ali mengungkapkan, secara umum pengerjaan konstruksi tol dibagi dalam tiga seksi. Seksi 1 yaitu dari Serang hingga Rangkasbitung, seksi 2 Rangkasbitung hingga Cileles dan Seksi 3 dari Bojong hingga Panimbang.


“Porsi BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) itu Serang hingga Cileles atau seksi 1 dan 2, dengan panjang 50,67 kilometer. Saat ini progresnnya untuk seksi 1 sudah 9,69 persen dan ditarget selesai pada November 2019. Sedangkan untuk  seksi tiga menjadi porsi pemerintah, direncanakan mulai konstruksi pada Januari 2019 dan selesai pada Agustus 2020 bersamaan dengan penyelesaikan seksi 2,” tuturnya.


Lebih lanjut dipaparkan Ali, selain pengerasan jalan pihaknya juga terus melakukan pembukaan jalan bagi lahan yang telah dibebaskan. Selain itu PT Wika Serang-Panimbang juga membangun tembok pemisah antara kawasan proyek dan pemukiman warga.“Ada 226 alat berat yang kami turunkan agar proses pengerjaan konstruksi bisa selesai tepat waktu,” ujarnya.


Sementara itu, Direktur Utama PT Wika Serang-Panimbang Mulyana mengatakan, selain untuk penunjang akses transportasi, keberadaan Tol Serang-Panimbang juga memiliki manfaat yang tak kalah penting, khususnya bagi masyarakat sekitar. Salahnya  satu adalah untuk peningkatan ekonomi.


“Ada manfaat jangka panjang dari Tol Serang-Panimbang ini selain konsen pada kepariwisataan. Tol bisa menjadi bagian ekspos pertumbuhan ekonomi. Disesuaikan mungkin dengan arsitektur kabupaten/kotanya. RTRW (rencana tata ruang wilayah) untuk apa. Jadi petani kelapa bukan lagi menjual kelapa tapi diolah dulu sehingga nilai ekonominya meningkat. Untuk akses penjualan pun lebih mudah karena ada tol,” katanya.


Sebagai bentuk dukungan pengembangan kawasan sekitar tol, kata dia, Tol Serang-Panimbang akan dilengkapi dengan tujuh interkoneksi simpang susun. Ketujuh akses itu terdiri atas simpang susun Petir, Cikeusal, Rangkasbitung, Cikulur, Bojong, Cileles dan Pegalaran.


Bahkan simpang susun Cikeusal berdasarkan informasi yang diterimanya akan menjadi titik awal akses tol menuju Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B). Akses jalan tersebut juga nantinya akan dilakukan pelebaran jalan.


“Tol Serang-Panimbang dengan panjang 83,67 kilometer berawal dari junction Walantaka dari ruas Tol Jakarta-Merak kilometer 64+200 hingga keluar di Panimbang. Sepanjang 83,66 kilometer itu ada tujuh simpang susun,” pungkasnya. (dewa)

 

 

 

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook