Pejabat Lebak Terjebak Gempa di Palu

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Senin, 01 Oktober 2018 - 12:55:21 WIB   |  dibaca: 138 kali
Pejabat Lebak Terjebak Gempa di Palu

Imam Suangsa, Sekretaris Dindikbud Lebak, saat mengungsi di perbukitan di Palu, Jumat (28/9).

RANGKASBITUNG - Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindikbud) Lebak Imam Suangsa, serta Hendri (35), warga Desa Cisungsang, dan Uus, warga Desa Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, masih terjebak di lokasi gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9).

Ketiganya saat gempa terjadi sedang mengikuti acara kebudayaan yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI di Swiss Belhotel. Hotel yang mereka datangi ambruk terkena goncangan. Untungnya ketiganya sempat menyelamatkan diri.


Kepala Dindikbud Lebak Wawan Ruswandi mengatakan, 15 menit setelah gempa terjadi, Imam Suangsa, Hendri, dan Uus menyelamatkan diri ke perbukitan di Palu sampai keadaan kondusif. Esoknya, Sabtu (29/9), mereka kemudian dievakuasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta petugas gabungan ke Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu.

Saat berita ini dibuat, Imam Suangsa, Hendri, serta Uus masih berada di bandara tersebut menunggu dipulangkan ke Banten.“Selama satu malam, Pak Imam dan dua warga Lebak, berada diperbukitan. Setelah aman, pagi harinya, mereka diungsikan ke bandara di Palu,” kata Wawan.


Kepala Bidang Pendidikan Pendidikan Luar Sekolah pada Dindikbud Lebak Abdul Malik menambahkan, dari hasil komunikasi terakhirnya dengan Imam Suangsa, mereka masih menunggu kepastian pemulangan.  “Saat ini kondisinya sehat. Tinggal menunggu bandara di Palu normal kembali," kata Abdul Malik.


Belum selesai dikejutkan dengan gempa bumi dan hantaman gelombang tsunami, warga kota Palu kembali menyaksikan horor saat tanah tempat mereka berpijak berubah menjadi sungai lumpur raksasa yang menghisap dan menyeret fondasi-fondasi bangunan.  

Beberapa video beredar menunjukkan kengerian sungai lumpur tersebut. Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengkonfirmasi bahwa telah terjadi fenomena pencairan tanah atau soil liquefaction  di sebagian wilayah di Palu Selatan dan Tenggara.

Sutopo menyebut, setidaknya ada 4 wilayah yang tanahnya mengalami likuifaksi. Yakni derah sekitar Jalan Dewi Sartika, di beberapa wilayah Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kecamatan Biromaru yang masuk Kabupaten Sigi, serta di Desa Sidera, Sigi.

Kawasan perumahan di sekitar Kelurahan Balaroa bahkan kata Sutopo ambles puluhan sentimeter ke tanah.Dalam ilmu mekanika tanah, Soil Liquifacition adalah fenomena saat tanah kehilangan kekuatan dan kepadatannya karena saturasi dan kelembapan air yang meningkat. Konturnya berubah menjadi lembut dan bahkan cair hingga berwujud seperti lumpur.  

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hidayati mengatakan bahwa Likuifaksi merupakan salah satu dari beberapa bahaya dan resiko gempa bumi. Ada setidaknya 4 bahaya gempa bumi, yang pertama guncangan yang menghancurkan bangunan, kemudian keretakan dan deformasi tanah.  ”Lalu ada dua bahaya “ikutan” yakni Tsunami dan longsor atau likuifaksi tanah,” jelas Sri.

Likuifaksi ini ternyata sebelumnya sudah terjadi paska gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu. Sri mengatakan, tim PVMBG menemukaN fenomena pencairan tanah ini di beberapa desa di Kabupaten  Lombok Utara. Desa Tampes, Kecamatan Kayangan, Desa Beraringan, Kecamatan  Kayangan dan beberapa desa di Kecamatan Bayan.

Sri menjelaskan, pencairan atau pelulukan tanah terjadi karena kandungan tanah yang tidak cukup solid alias lembut lalu adanya kandungan air. ”Tanah kota Palu sendiri terdiri dari unsur Aluvium, semacam pasir halus. Juga mengandung jenuh air,” jelasnya.

Saat terguncang oleh gempa, kata Sri, kandungan saturasi air yang ada di tanah bagian bawah teraduk-aduk dan membuat tanah semakin lembut dan lembut sehingga kekuatannya untuk menopang bangunan diatasnya semakin berkurang. Sehingga fondasi-fondasi bangunan terlihat seperti tenggelam kedalam lumpur. Bahkan terlihat terseret aliran lumpur tersebut.

Menurut rekam sejarah, Likuifaksi juga terjadi pada gempa dan tsunami jepang tahun 2011 juga terjadi pencairan tanah di sekitar kota Tokyo.Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo angkat bicara terkait isu penjarahan di Kota Palu. Sebelumnya, sejumlah warga diduga melakukan penjarahan terhadap sejumlah toko dan minimarket.

Tjahjo membantah adanya perilaku penjarahan. Dalam pantauannya, memang ada sejumlah masyarakat yang mengambil barang-barang, khususnya makanan dan minuman di beberapa toko. "Ada toko di bandara yang rusak akibat gempa, makanan dan minuman berhamburan kemudian diambil masyarakat. Jadi bukan penjarahan," ujarnya kepada wartawan melalui pesan singkat, kemarin (30/9).

Tjahjo mengaku melihat langsung aksi warga mengambil mengambil makanan dan minuman yang berhamburan tersebut. Dia memahami kebutuhan masyarakat, mengingat belum banyak makanan, minuman, serta bantuan yang masuk meski sangat diperlukan.

Di sisi lain, mayoritas toko juga memilih tutup. Kondisi pada hari Sabtu (29/9) lalu memang sangat darurat. Sebab, alokasi bantuan baru tiba sekitar sabtu malamnya.Oleh karenanya, pihaknya telah meminta Pemda memfasilitasi pembelian minuman dan makanan di toko. Tjahjo juga mengaku telah meminta langsung ke Gubernur Sulteng untuk membeli minuman dari toko yang tutup.

Terkait pembayarannya, Tjahjo mengaku di lakukan secara gotong royong. Sehingga dia memastikan, pemilik mendapat penggantinya. "Kita gotong royong, saya juga ikut bantu beli juga," katanya.

Namun demikian, hal itu sifatnya hanya sementara. Oleh karenanya, dia membantah isu yang menyebut korban gempa bisa mengambil semua barang-barang yang ada di toko atau pusat perbelanjaan.


Sementara itu, korban tewas akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bertambah jadi 832 Orang.  Informasi terbaru tersebut disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kemarin siang. "Update dampak bencana jumlah korban jiwa sampai siang ini pukul 13.00, total 832 orang meninggal dunia terdiri di Kota Palu 821 orang dan Donggala 11 orang," kata Sutopo. Korban tewas akibat tertimpa bangunan dan diterjang tsunami. (hudaya/jpg)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook