Emas Pertama Lahir dari Bulu Tangkis

nurul roudhoh   |   Olah Raga  |   Senin, 08 Oktober 2018 - 15:04:34 WIB   |  dibaca: 169 kali
Emas Pertama Lahir dari Bulu Tangkis

LECUT SEMANGAT : Selebrasi kemenangan tim Indonesia setelah berhasil mengalahkan tim malaysia dengan skor 2-1 pada babak final beregu putra bulutangkis Asian Para Games 2018 di Istora Jakarta, Minggu (7/10).

JAKARTA - Tim beregu bulu tangkis membuka keran perolehan medali emas Indonesia di Asian Para Games (APG) 2018. Nomor beregu putra sejak awal nomor ini memang bukan yang diandalkan oleh National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Namun, para pebulu tangkis membuktikan dengan raihan sekeping emas.

Hary Susanto dan kawan-kawan menaklukkan tim Malaysia pada laga pemungkas di Istora Senayan kemarin. Pada laga pembuka Fredy Setiawan mampu memenangkan duel atas Muhammad Norhilmie, 21-6, 21-12. Sayangnya, Hary/Hafizh Briliansyah kehilangan satu poin setelah kalah, 10-21, 17-21 dari Cheah Liek Hou/Hairul Fozi.

“Kami memang tertekan, sempat down terus, semoga ke depan bisa lebih baik lagi,” sebut Hary. Tetapi, Dheva Anrimusthi menjadi penentu kemenangan Indonesia. Sekaligus mendulang medali emas pertama Indonesia di APG 2018. Setelah Dheva membekuk Mohammad Faris Ahmad Azri, 21-6, 21-12.

Kemenangan tim beregu itu diharapkan bisa meletupkan semangat para pebulu tangkis Indonesia lainnya yang juga berjuang pada nomor individu.

Setidaknya ada empat medali emas yang ditargetkan sebelumnya. Nomor proyeksi medali yakni via Hary/Leany Ratri (ganda campuran SL3-4/SU5), Hary/Ukun Rukaendi (ganda putra SL 3-4) Dheva Anrimusthi/Hafizh (ganda putra SU5) dan Fredy Setiawan (tunggal putra SL4).

Dalam hal ini, Imam Kunantoro, salah satu pelatih tim Indonesia menjelaskan, kesempatan menambah emas terbuka lebar. Khususnya dengan merujuk prestasi Indonesia di APG 2014 Incheon yang juga mengandalkan nomor perorangan. “Kalaupun meleset, kami maunya ke atas, maksudnya lebih banyak,” ujar Imam sembari tersenyum.

Secara kualitas, pebulu tangkis Indonesia memang punya kesempatan lebih besar mendulang medali pada nomor non kursi roda. Persaingan terberat bakal melibatkan pebulu tangkis Asia lainnya. Terutama dari Tiongkok, Jepang, Malaysia ataupun Thailand.

“Anak-anak jangan sampai lengah, karena secara kualitas permainan kami masih unggul,” sebut Imam. Apalagi, di Istora, meskipun tidak semeriah Asian Games, dukungan tetap datang dari masyarakat Indonesia.

Letupan-letupan semangat itu memberikan energi positif bagi pebulu tangkis Indonesia. Tentu untuk mengemban misi menuntaskan empat medali emas target yang dicanangkan sebelumnya. (jpg)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook