Didiskualifikasi Karena Pakai Hijab

nurul roudhoh   |   Olah Raga  |   Selasa, 09 Oktober 2018 - 14:53:25 WIB   |  dibaca: 200 kali
Didiskualifikasi Karena Pakai Hijab

JAKARTA - Komite Nasional Paralimpik (NPC) Indonesia mengaku bersalah atas insiden yang menimpa judoka tuna netra Indonesia Miftahul Jannah di Asian Para Games kemarin. Mereka lalai lantaran tidak melakukan komunikasi usai technical meeting cabor judo pada Minggu (7/20).

Miftah terpaksa harus memendam mimpinya tampil di multievent atlet penyandang disabilitas se-Asia itu. Wasit mendiskualifikasi dirinya lantaran tidak mau melepas hijabnya ketika hendak bertanding di JiE Expo Grand Ballroom Kemayoran.

Gadis 21 tahun tersebut turun di kelas -52 kg putri. Saat itu Mifta hendak bertarung melawan judoka Mongolia Oyun Gantulga. Baru menginjakkan kaki di atas matras, tiba-tiba juri yang berada di pinggir arena memberi peringatan. Dengan memintanya untuk membuka hijab.

Presiden NPC Indonesia Senny Marbun menuturkan, larangan tersebut sudah sesuai aturan Federasi Judo Internasional (IJF). Poinnya, melarang untuk menutupi area kepala kecuali adanya tindakan medis. "Dan sifatnya harus dipatuhi. Berlaku bagi atlet difabel maupun atlet normal," katanya.

Keselamatan menjadi alasannya. Sebab, kedua atlet yang main tuna netra. "Mainnya, dua atlet ini ditempelkan dulu. Kemudian langsung banting-bantingan. Nah, kalau saat lawan menarik dan tercekik gimana?" urai Senny.

Deputi IV Kemenpora Mulyana turut berkomentar mengenai insiden tersebut. Komunikasi antara induk organisasi dan tim harus diperbaiki. Apalagi, saat mengikuti mutievent. Wajib untuk terus saling berkomunikasi.

Tak hanya itu, Mulyana menyoroti kinerja tim pelatih dalam mempersiapkan atletnya baik teknis maupun non teknis. "Harus ada evaluasi mengenai ketidakpahaman pelatih secara regulasi," katanya.

Penanggung Jawab Tim Judo Indonesia Ahmad Bahar menuturkan, adanya miss komunikasi. Pihaknya tidak menghubungi NPC mengenai aturan tentang penutup kepala itu. "Kami sudah menemui NPC dan menyampaikan permasalahannya. Semuanya sudah terlanjur dan imbasnya merugikan Indonesia," ujarnya.

Terpisah, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengaku sangat prihatin adanya kejadian diskualisifkasi terhadap judoka Indonesia lantaran tidak bersedia melepas jilbabnya. ’’Seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi,’’ katanya. Karena panitia mempertimbangkan keyakinan yang dianut oleh atlet.

Zainut mengatakan seharusnya panitia atau penanggung jawab pertandingan judo bisa mengkomunikasikan dengan pihak pembuat peraturan. Supaya peraturan yang sifatnya diskriminatif bisa direvisi. Sehingga regulasi menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Dia lantas membandingkan dengan perhelatan Asian Games 2018, dimana ada atlet perempuan yang tetap mengenakan jilbab. Contohnya atlet karate, panjat tebing, dan panah. Dia berharap panitia pertandingan judo bisa menjelaskan insiden tersebut ke publik secara detail. ’’Tidak cukup hanya karena peraturan semata,’’ kata dia. (jpg)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook