Lempengan Cimandiri Picu Bencana Besar

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Kamis, 11 Oktober 2018 - 12:17:31 WIB   |  dibaca: 367 kali
Lempengan Cimandiri Picu Bencana Besar

MUATAN BERLEBIH : Pengendara sepeda motor mengangkut barang yang berlebihan di Jalan Soekarno-Hatta, Rabu (10/10).

RANGKASBITUNG - Lempengan sesar Cimandiri di Desa Cimandiri, Kecamatan Panggarangan berpotensi memicu terjadinya bencana gempa bumi cukup besar. Hal itu terjadi karena titik lokasi sesar Cimandiri merupakan pertemuan lempengan megathurst Australia dan Selat Sunda.


"Berdasarkan keterangan para ahli, ternyata lempengan sesar Cimandiri memicu bencana sangat luar biasa besar. Lebih besar dari gempa Palu," kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi kepada Banten Raya, Rabu (10/10).


Menurut Kaprawi, sesar Cimandiri merupakan titik pertemuan lempengan megathurst Australia dan Selat Sunda, sehingga tidak dapat terbayangkan kalau sampai terjadi bencana gempa. "Saya sendiri sampai tidak bisa tidur dan sakit saat mengetahui kalau ternyata Kabupaten Lebak menjadi titik pertemuan lempengan Australia dan Selat Sunda," tuturnya.


Kaprawi berpendapat, kearifan lokal warga Lebak dalam menghadapi bencana sudah bagus. "Ancaman bencana di Kabupaten Lebak sangat luar biasa. Para pimpinan daerah sudah memerintahkan berbagai kalangan agar meningkatkan kewaspadaan. Warga senantiasa meningkatkan budaya waspada," ucapnya.


Diberbagai wilayah Kabupaten Lebak, tambah Kaprawi, terutama wilayah notabene rawan bencana dengan luas wilayah yang 30 persen dari luas Provinsi Banten ada di Lebak. Luas bentangan lautan Lebak sepanjang 91,42 kilometer. "Potensi alamnya melimpah namun juga terdapat beberapa ancaman yang harus diantisipasi. Kemudian, Pemda (Pemerintah Daerah) sudah apa saja dilakukan dalam menghadapi bencana," tambahnya.


Kaprawi menegaskan, penanganan pra bencana saat terjadi tanggap darurat dan pasca bencana sudah terekam. "Kita sudah melaksanakan sesuai amanat Undang - Undang (UU)
Nomor 24/2007 tentang penanggulangan bencana," tegasnya.


Potendi-potensi ancaman bencana di Lebak, terang Kaprawi, diantaranya ancaman longsor di 12 kecamatan, ancaman banjir 16 kecamatan, dan ancaman gempa dan tsunami terbentang  pesisir pantai sepanjang 91,42 kilometer. "Khusus pesisir pantai itu terpapar jumlah penduduk hampir 21 ribu jiwa. Syukur Alhamdulilah kearifan lokal menghadapi bencana tinggi, jika terjadi gempa tidak menunggu alat peringatan tsunami tapi langsung lari ke dataran lebih tinggi," terangnya.


Dikatakan Kaprawi, Pemkab Lebak melalui BPBD dan bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI) direncanakan akan memasang alat peringatan tsunami di blok sesar Cimandiri. "Itu juga bagian upaya ikhtiar Pemda melalui kerjasama pihak berkompeten di bidangnya. Rencana dipasang di sesar mandiri atau blok cimandiri untuk mengantisipasi jika  gempa melanda Lebak dan sekitarnya, sehingga dapat terekam," katanya.


Asda II Pemkab Lebak Budi Santoso menambahkan, sebelumnya sudah ada alat peringatan tsunami dipasang di Binuangeun. "Dulu sudah ada cuman gak terawat. Antisipasi mitigasi bencana dilakukan struktur dan non struktural," katanya. (purnama)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook