Masa Minta Pembakar Bendera Diadili

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 05 November 2018 - 11:04:17 WIB   |  dibaca: 251 kali
Masa Minta Pembakar Bendera Diadili

PROTES : Suasana aksi bela tauhid di landmark Kota Cilegon, Jalan Jendral Sudirman, Kota Cilegon, Minggu (4/11). Aksi ini berlangsung damai.

CILEGON – Seribuan umat Islam dari kurang lebih 35 ormas Islam di Kota Cilegon melakukan aksi damai dengan nama Aksi Bela Tauhid, di Bundaran Landmark Kota Cilegon, Minggu (4/11). Dalam aksinya, peserta aksi meminta oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang membakar bendera bertuliskan lafadz Tauhid di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, diproses hukum hingga diadili di pengadilan.


Untuk diketahui, hingga saat ini tiga anggota Banser dalam pembakaran bendera tersebut hanya ditetapkan sebagai saksi oleh pihak kepolisian, sementara pembawa bendara yang telah diamankan telah ditetapkan sebagai tersangka.


Pantauan di lokasi, aksi dimulai sekitar pukul 13.00. Peserta aksi berkumpul di Masjid Agung Cilegon atau Masjid Al-Ikhlas, sejak pukul 11.00. Sebelum aksi, mereka melakukan shlata dzuhur berjamaah. Usai shalat, mereka jalan bersama atau long marc menuju ke landmark di Simpang Cilegon, dan melakukan orasi.    


Salah satu peserta aksi dalam orasinya menyatakan, bukan hanya oknum Banser yang membakar saja yang harus meminta maaf, namun Banser secara organisasi harus memohon maaf kepada umat Islam atas tindakan kadernya tersebut.“Bukan hanya yang melakukan pembakaran, perwakilan Banser di seluruh daerah kami minta untuk menyatakan permintaan maaf kepada umat Islam juga,” teriaknya saat memberikan orasi.


Koordinator Aksi Bela Tauhid, Tb. Maman Sutrisno menyatakan, aksi tersebut merupakan penegasan terhadap isu nasional atas pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Harapannya, kata Maman, kepolisian melakukan pengawalan dengan baik soal kasus yang terjadi.“Ini isu nasional yang kami kawal, ini penegasan jika semuanya harus melakukan pengawalan terhadap kasus yang terjadi,” tegasnya.


Badan Koordinasi Pendidikan Al-Qur’an dan Keluarga Sakinah Indonesia (BKPAKSI) Kota Cilegon salah satu ormas yang ikut dalam aksi tersebut.Ketua BKPAKSI Kota Cilegon, Bayu Panatagama menyatakan, peserta aksi berharap pihak kepolisian adil dalam menyelesaikan kasus hukum yang sudah dianggap melakukan penghinaan terhadap tauhid tersebut. Untuk itu, peserta meminta oknum pembakar kalimat tauhid jangan hanya dijadikan saksi.


“Ribuan umat Islam tergerak dan menganggap jika pembakaran (bendera bertliskan lafadz tauhid) adalah sikap penistaan yang sudah tidak mungkin dipahami secara syariat. Kami minta pihak penegak hukum harus tegas soal kasus oknum pembakar bendera tauhid,” katanya.

Bayu menjelaskan, aksi juga bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada umat Islam Kota Cilegon untuk mengembalikan ruh tauhid yang sebenar-benarnya. Sebab, di Kota Cilegon sudah banyak penyimpangan, seperti lesbian, gay, bisexual dan trnas gender (LGBT), kasus narkoba, dan lainnya. “Ini momen bersama untuk mengingatakan kembali umat di Kota Cilegon, mereka harus paham lafad tauhid bukan hanya soal tulisan, tapi dimaknai meresap sampai ke dalam hati,” jelasnya.


Bayu menegaskan, seluruh umat tetap menjaga kondusifitas di Kota Cilegon dalam penyampaian aspirasinya. Tidak boleh ada kerusuhan dan saling menghasut. Atas dasar itu pula, kata Bayu, pesoalan tersebut harus sepenuhnya diberikan kepada pihak kepolisian.“MUI sudah menyampaikan (pendapatnya_red) bendera yang dibakar bukan bendera bendera HTI, namuan itu bentuk justifikasi yang harus menjadi alat dukung, jangan diputarbalikan. Kami insyaallah kondusif,” tegasnya. (uri)
 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook