Pegawai Hotel dan Restoran Bersertifikat Jumlahnya Minim

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 05 November 2018 - 11:09:52 WIB   |  dibaca: 181 kali
Pegawai Hotel dan Restoran Bersertifikat Jumlahnya Minim

TERSERTIFIKASI : Amaris Hotel Cilegon yang berada yang berada di Jl Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Cilegon, Minggu (4/11). Salah satu hotel di Kota Cilegon yang pegawainya telah mengantongi sertifikasi profesi.

CILEGON - Pegawai hotel dan restoran di Kota Cilegon saat ini masih banyak yang belum mengantongi sertfikat profesi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Sertifikasi profesi pegawai hotel dan restoran sangat penting demi profesionalisme pagawai.


Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cilegon, Syarif Ridwan mengatakan, diperkirakan 80 persen pegawai restoran belum tersertifikasi, sedangkan pegawai hotel sekitar 60 persen. “SDM hotel yang belum tersertifikasi tersebut umumnya terdapat pada hotel dan restoran kecil. Hotel-hotel berbintang dan juga restoran franchise sangat memerhatikan terkait sertifikasi. Biasanya hotel dan restoran ternama mereka sudah memunyai sertifikat sendiri, di luar dari organisasi seperti PHRI,” kata Syarif kepada wartawan, Minggu (4/11).

Syarif mengatakan, jumlah tenaga hotel di Cilegon sekitar 800 orang, sementara untuk tenaga restoran lebih dari 1.500 orang. “Banyaknya SDM hotel dan restoran yang belum tersertifikasi diakibatkan karena kurang pahamnya pemilik hotel dan restoran terkait pentingnya sertifikasi bagi pegawai,” kata Syarif yang juga sebagai anggota DPRD Kota Cilegon.

Menurut Syarif, sertfikasi bagi tenaga hotel dan restoran memang biayanya tidak murah. Satu orang bisa mencapai jutaan rupiah. Namun, pihaknya berharap kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon bisa menganggarkan untuk sertfikasi tenaga hotel dan restoran. “Kalau tahun ini ada 100 orang yang mendapat sertfikasi dibiayai pemerintah pusat,” jelasnya.


Syarif juga menyayangkan kepada beberapa pemilik hotel dan restoran yang tidak menyambut baik sertivikasi tenaga hotel dan restoran. “Padahal jika pegawainya memiliki kualitas, maka hotel dan restoran mereka pun akan maju,” ujarnya.

Kata Syarif, pihaknya akan terus berupaya memberikan pemahaman terhadap pemilik-pemilik restoran dan hotel di Kota Cilegon akan pentingnya sertfikasi pegawai. Sertifikat keahlian yang dimiliki pegawai hotel dan restoran demi meningkatkan kualitas pelayanan hotel dan restoran di Kota Cilegon. “Pemeirntah pusat setiap tahun melakukan sertifikasi SDM kepariwisataan untuk meningkatkan kualitas SDM kepariwisataan, dimana diantaranya hotel dan restoran. Kami berharap tahun depan paling tidak kuota untuk kota Cilegon masih sama atau bisa bertambah,” harapnya.

Lebih lanjut Syarif mengatakan, serapan tenaga kerja dari bidang hotel dan restoran sangat membantu mengurangi pengangguran di Kota Cilegon. Investasi di bidang hotel dan restoran, kata Syarif, juga sejauh ini menjadi penyumbang terbesar ketiga pendapatan asli daerah (PAD). “Agar sumbangsih PAD terus meningkat, beberapa regulasi dari pemerintah diperlukan. Kemudahan izin bagi investor yang ingin masuk ke Kota Cilegon, khususnya investor di bidang-bidang yang bisa menunjang aktifitas perhotelan dan restoran,” papar Syarif.


Syarif menambahkan, Kota Cilegon merupakan daerah lintasan menuju destinasi wisata seperti kawasan wisata Pantai Anyar di Kabupaten Serang. Dengan adanya kemudahan perizinan dari pemerintah mampu menggaet investor, maka wisatawan yang hendak menuju destinasi wisata di daearah lain akan berhenti di Kota Cilegon, tentu tingkat hunian hotel dan kunjungan restoran bisa ikut meningkat.


“Saat ini di Cilegon masih kekurangan hotel berbintang. Seperti hotel bintang empat itu masih sedikit, sehingga ketika event-event nasional seperti yang sudah direncanakan yaitu Adeksi (Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia) gagal di Cilegon karena minimnya hotel bintang,” jelasnya.

Terpisah, Ketua LSP Hospitality Cakrawala Indonesia (HCI) Adi Setiawan mengatakan, saat ini, LSP HCI tengah menyusun proposal pengajuan sertifikasi untuk 1.800 peserta dari perhotelan atau restoran k Kementerian Pariwisata (Kemenpar). "Mudah-mudahan di-ACC sehingga lebih banyak yang mendapatkan kesempatan mengikuti uji kompetensi tersebut," katanya.

Adi mengatakan, pengajuan jumlah kuota pada 2019 ini sama dengan yang diajukan pada 2018 lalu, yakni 1.800 peserta. "Mudah-mudahan disetujui semua. Dengan adanya peningkatan kouta setiap tahunnya jumlah peserta yang mendapatkan uji kompetensi semakin banyak. Mengingat jumlah restoran dan hotel di Banten banyak,” tutupnya. (gillang)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook