Identifikasi Jenazah Bisa 1,5 Bulan

nurul roudhoh   |   Nasional  |   Selasa, 06 November 2018 - 15:19:13 WIB   |  dibaca: 95 kali
Identifikasi Jenazah Bisa 1,5 Bulan

TERUS DICARI : Basarnas bersama DVI Polri mengangkat serta mengindentifikasi korban yang ditemukan di perairan Karawang di bawa ke JICT 2, Priok, Jakarta, Selasa (5/11).

JAKARTA - PROSES identifikasi jenazah kecelakaan Lion Air JT 610 bergerak cepat. Bila sampai Minggu (4/11) hanya ada 14 korban yang teridentifikasi, kemarin (5/11) tim Disaster Victim Indonesia (DVI) berhasil mengidentifikasi 13 korban lain.

Mereka adalah Reni Aryanti, 51; Ravi Andrian, 24; Eryanto, 41; Vera Junita, 22; Resti Amelia, 27; Fifi Hajanto, 42; Dede Anggraini, 40; Petrous Rodlf Sayers, 58; Eka Suganda, 49; Niar R. Soegoyono, 39; Sudibyo Onggo Wardoyo, 40; Hendra, 39; dan Mito 37. Komandan Operasi DVI Polri Kombespol Lisda Cancer menjelaskan, sebanyak 8 dari 13 korban itu teridentifikasi dengan metode DNA. Lima sisanya menggunakan metode sidik jari.

Dengan demikian, hingga kemarin total korban yang teridentifikasi sebanyak 27 orang. Untuk korban lainnya, tim DVI memastikan terus berupaya mengidentifikasi. ”Saya dengar ada body part jenazah yang akan dikirim ke DVI lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombespol Putut Cahyo menuturkan, perjalanan identifikasi korban masih panjang. Namun, metode tes DNA tidak akan terpengaruh dengan kerusakan body part akibat waktu. ”Memang kerap kali sampel rusak, tapi ini soal DNA. Dalam tiap sel ada, misalnya ada lima DNA, yang rusak tiga, lainnya masih bisa,” terangnya.

Dengan begitu, keluarga korban tidak perlu khawatir. Sebab, selama masih ada body part yang bisa diambil sampelnya, tentu akan teridentifikasi. ”Kami sudah dapatkan 249 body part yang diambil sampel,” terangnya.

Sampai kapan proses identifikasi berlangsung? Putut menjelaskan, bila berkaca pada kasus Air Asia, identifikasi bisa sampai satu setengah bulan. ”Mungkin bisa sama,” ucapnya.

Sementara itu, Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi menuturkan, identifikasi korban sangat penting untuk mengeluarkan dokumen. Misalnya, dokumen kematian. Dokumen tersebut menjadi salah satu syarat agar keluarga korban mendapatkan hak asuransi, BPJS Ketenagakerjaan, dan lainnya.

Tanpa dokumen kematian tersebut, proses pencairan cukup sulit. Untuk yang tidak teridentifikasi, prosesnya melalui persidangan. ”Ini butuh waktu kalau sidang,” papar jenderal berbintang satu tersebut. (jpg)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook