27 Bayi Mati Setiap Pekan

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 09 November 2018 - 15:50:52 WIB   |  dibaca: 94 kali
27 Bayi Mati Setiap Pekan

TANTANGAN BERSAMA : Suasana diskusi isu AKi dan AKb antara USAID Jalin dengan para wartawan di salah satu hotel di Kota Serang, Kamis (8/11).

SERANG – Sensus yang dilakukan Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia dalam Studi Banten II menunjukkan bahwa setiap minggu ada 27 bayi yang baru lahir di Banten meninggal dunia. Selain itu, setiap minggu ada 5 ibu di Banten yang juga meninggal dunia.


Studi Puska UI menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2016 terdapat 240 ibu di Banten yang meninggal dunia. Kabupaten Serang memiliki kasus kematian ibu paling tinggi di Banten, mencapai 59 kasus. Sementara sensus kematian ibu sepanjang tahun 2015-2017 di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang menunjukkan jumlah kematian ibu mencapai 324.


Sementara sensus kematian bayi tahun 2015 di Banten terdapat 1.380 bayi meninggal pada usia 0-28 hari. Adapun Kabupaten Lebak memiliki 371 kasus dan Kabupaten Tangerang 322 kasus kematian neonatal atau kematian yang terjadi sebelum bayi berumur satu bulan tertinggi.


Sensus itu juga mengungkapkan bahwa sebanyak 64 persen kematian ibu terjadi pasca persalinan, 9 persen kematian terjadi saat melahirkan, dan 24 persen pada saat kehamilan.
"Penyebab kematian ibu di Banten akibat pendarahan yakni mencapai 38 persen dan hipertensi dalam kehamilan 19 persen," ujar Regional Manager Usaid Jlin Project Provinsi Banten Harris Rambey saat menggelar diskusi terkait isu AKI dan AKB dengan para wartawan yang dilakukan di salah satu hotel di Kota Serang, Kamis (8/11).


Harris mengungkapkan bahwa sebagian besar kematian ibu dan bayi sebetulnya dapat dicegah dengan mendeteksi dini dan penanganan yang tepat. Selain itu, peningkatan akses terhadap layanan kesehatan juga memegang peranan penting dalam menurunkan AKI dan AKB.

Misalkan menyediakan Bank Darah Rumah Sakit atau Unit Tranfusi Daerah. Sayang, sampai tahun 2015 hanya ada 3 Bank Darah RS dan 1 Unit Tranfusi Daerah di Banten."Pada tahun 2015 hampir 15 persen ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan kehamilan lengkap sepanjang kehamilannya," katanya.


Harris menyatakan bahwa studi Banten II juga menunjukan terjadi pergeseran kematian ibu dari wilayah terpencil ke wilayah urban. Pada periode 2015-2017 sebanyak 65 persen kematian ibu di wilayah studi Banten II terjadi di fasilitas kesehatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemudahan akses terhadap layanan kesehatan perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan."Layanan kesehatan yang berkualitas dapat berkontribusi menurunkan resiko kematian ibu dan bayi baru lahir," katanya.


Harris mengatakan bahwa upaya menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir memerlukan kontribusi dari semua pihak terkait. Ia mencontohkan, optimalisasi sistem rujukan hanya dapat dicapai dengan perbaikan sistem transportasi dan komunikasi, yang perlu didukung oleh sektor non kesehatan. Ia menyebutkan saat ibu hamil atau bersalin memerlukan darah, maka seharusnya ketersediaan darah dapat dipantau melalui aplikasi telepon pintar.


Pemimpin Redaksi koran harian Banten Raya Budi Sudiarto mengatakan selama ini pemberitaan di koran harian yang dipimpinnya memang lebih banyak menyoroti angka-angka kematian ibu dan anak tanpa melihat faktor-faktor lain yang juga ikut menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Karena itu ke depan ia ingin pemberitaan menyasar faktor-faktor lain seperti upaya yang dilakukan komunitas dalam mengurangi resiko kematian ibu dan bayi. Dengan pemberitaan jenis feature ia yakin akan dapat menggugah pembaca, khususnya pemerintah, lebih serius menangani masalah kematian ibu dan bayi. "Beritanya lebih mengarah pada menggugah pembaca karena kalau lebih menghajar susah untuk di daerah ini," katanya. (tohir)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook