Industri Meledak, Petugas Ditenggat 6 Jam

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Jumat, 09 November 2018 - 16:00:11 WIB   |  dibaca: 237 kali
Industri Meledak, Petugas Ditenggat 6 Jam

EVAKUASI KORBAN : Tim mengevakuasi korban dari ledakan gas yang berbahaya saat Simulasi Asean Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (ARDEX) Tahun 2018 di Kawasan Industri Estate Cilegon (KIEC), Citangkil, Kota Cilegon, Kamis (8/11).

CILEGON - Petugas penyelamat hanya memiliki waktu 6 jam dalam standar operasional prosedur penanganan bencana untuk bisa menjangkau lokasi bencana dan mengidentifikasi keparahan bencana. Laporan itu bisa langsung disampaikan ke kepala daerah untuk bisa memutuskan status darurat bencana. Hal itu juga yang mestinya kata Kepala Pusat Latihan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo jika terjadi bencana industri di Kota Cilegon.


“Jika ada status darurat bencana itu maksimal 14 hari. Jika masih perlu ditambah ditambah 14 hari lagi. Begitu juga bantuan luar negeri seperti tenaga medis juga maksimal 14 hari, itu juga kalau diperlukan karena sumber daya manusia yang terbatas,” kata Agus dalam simulasi penanganan bencana tingkat Asia Tenggara yang digelar di Kawasan Industri Krakatau Steel, Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, kemarin.


Dalam simulasi tersebut diceritakan terjadi gempa berskala 8,7 skala richter dengan di kedalaman 10 kilometer Selat Sunda. Dampaknya, gelombang tsunami sampai empat meter menerjang pantai Cilegon dan sekitarnya. Industri mengalami kebocoran, dan instalasi kimia berbahaya meledak. Suara sirine berdentum, hilir mudik ambulans terjadi di sekitar kawasan Industri Krakatau Steel. Warga berlarian mencari tempat tinggi.


Agus mengatakan, latihan tersebut dilakukan karena memang potensi bencana di Cilegon sangat besar. Di sepanjang pantai, berderet pabrik industri kimia yang jika meledak akan berdampak tak hanya di Kota Cilegon, tetapi bisa sampai ke daerah lainnya.


Dalam menanggulangi bencana tersebut, pemerintah Indonesia bisa meminta bantuan ke negara tetangga terdekat khususnya ASEAN. Tetapi, tidak semua bantuan bisa kita terima.  “Seperti di Palu ada obat-obatan yang tidak bisa masuk, begitu juga bantuan luar negeri juga harus melalui pemeriksaan karantina terlebih dahulu,” ujarnya.


Penanganan bencana, kata Agus, ada pos penanganan bencana tingkat kota. Selanjutnya, pos penangangan bencana nasional. “Pos penanganan bencana nasional itu yang berhak menerima atau tidaknya bantuan asing,” ujarnya.Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Cilegon Edi Ariadi mengapresiasi simulasi tersebut. Petugas penanganan bencana bisa lebih tanggap dalam menghadapi bencana. “Masyarakat juga menjadi tahu bagaimana penyelamatan ketika ada bencana di sekitar industri,” jelasnya. (gillang)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook