Mahasiswa Untirta Tolak Hoak

nurul roudhoh   |   Pendidikan  |   Sabtu, 17 November 2018 - 12:14:27 WIB   |  dibaca: 411 kali
Mahasiswa Untirta Tolak Hoak

SEMINAR : Sejumlah pembicara menyampaikan materi mengenai pemilih cerdas tolak informasi hoak di Aula Kampus Teknik Untirta, Jumat (16/11).

CILEGON – Mahasiswa Untirta dituntut untuk menjadi pemilih yang cerdas dan rasional, dalam memberikan hak pilihnya dalam Pemilu serentak 2019 mendatang. Hal tersebut disampaikan Rektor Untirta Sholeh Hidayat saat membuka Seminar Menjadi Pemilih Cerdas yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Komisi Pemilihan Umum dan Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta, di Aula Kampus Teknik, Jumat (16/11).

Rector Untirta menjelaskan, pemilu menjadi parameter dalam berdemokrasi. Pemilu memfasilitasi aspirasi elit dan pemilu sarana perwujudan aspirasi yang berkualitas dan bertanggungjawab berdasarkan Undang-undang Dasar 45 dan Pancasila.

“Ciri-ciri pemilih cerdas diantaranya adalah memastikan bahwa pemilih sudah terdaftar dalam daftar pemilih tetap, mengenal dan memahami rekam jejak dari calon anggota legislative, presiden dan memahami mengerti secara mendalam visi misi para calon legislative, DPD dan presiden,” kata Rektor Untirta kepada ratusan mahasiswa yang hadir.

Pemilih yang cerdas juga dapat melaksanakan hak pilih secara benar sesuai dnegan ketentuan yang berlaku. Menjadi pemilih yang rasional bukan yang emosional dan memantau jalannya pemungutan dan perhitungan suara yang dilakukan di tempat pemungutan suara (TPS) masing-masing.“Sebanyak 40 persen dalam Pemilu Serentak adalah pemilih pemula, oleh karena itu saya berharap kepada mahasiswa yang hadir dan sebagai pemilih pemula untuk memanfaatkan kesmepatan lima tahun sekali ini untuk turut serta menentukan nasip bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Dalam kesmepatan itu, Sholeh juga mengajak kepada mahasiswa Untirta untuk menolak informasi hoak, karena sebagai pemilih cerdas mahasiswa bisa membedakan antara informasi yang benar dan akuran dengan informasi hoak.

Di lokasi yang sama Hendrasmo Tenaga Ahli Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik pada Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia mengatakan, dalam sehari ada ratusan informasi hoak mewarnai media social di Indonesia.

Ia mengatakan, demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang bebas polusi atau hoak, karena informasi haok sangat menyesatkan. Salah satu upaya pemerintah pusat, kata Hendrasmo, adalah mengkampanyekan literasi media mengenai bahaya hoax kepada organisasi masyarakat dan kemahasiswaan.

“Kami juga mengajak kepada masyarakat dan mahasiswa untuk tidak mudah terprovokasi, dan peduli terhadap informasi yang diterima dengan melakukan kroscek terlebih dahulu sebelum menyebar informasi tersebut,” katanya.

Di Indonesia, lanjut Hendrasmo, ada sekitar 44.300 portal media. Dari jumlah tersebut yang baru diverifikasi baru 300 portal media. Dengan banyaknya jumlah portal media tersebut, pihaknya memiliki system yang mampu memfilter informasi yang berisikan pornografi, pornoaksi dan hoak.

Senada disampaikan Ketua KPU Banten Wahyu Furqon, buta terburuk adalah buta politik. Pemilih cerdas dan tidak buta politik harus melihat mencermati dan mengkritisi visi misi peserta pemilu. Karna belum tentua visi misi tersebut sesuai dengan keinginan pemilih.“Pemilih yang cerdas bisa membedakan mana hoax mana bukan. KPU Banten sendiri sudah mendeglarasikan tolak berita hoak, politisi agama dan many politik,” imbuhnya. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook