Nelayan Terate Terus Berkurang

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Rabu, 21 November 2018 - 11:55:31 WIB   |  dibaca: 479 kali
Nelayan Terate Terus Berkurang

TIDAK BEROPERASI : Beberapa perahu nelayan dibiarkan rusak di TPI Terate, Kecamatan Kramatwatu karena tidak dioperasikan pemiliknya, Selasa (20/11).

SERANG -  Banyaknya industri di Kramatwatu mendorong para nelayan di perairan Terate, Kecamatan Kramatwatu beralih profesi menjadi buruh kuli bangunan di pabrik-pabrik yang ada di wilayah mereka. Pasalnya, pendapatan menjadi nelayan tidak menentu, sedangkan bekerja di pabrik dinilai lebih menjanjikan bagi para nelayan. Akibatnya, perahu mereka teronggok rusak karena lama tidak dioperasikan.


Juwadi, pengurus Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Terate mengatakan, sejak sekitar dua tahun lalu tepatnya sejak dimulainya konstruksi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7, para nelayan mulai meninggalkan profesinya. “Sekarang nelayannya sudah mulai berkurang soalnya pada kerja di PLTU, terus yang menggantikan enggak ada,” kata Juwadi, saat ditemui di TPI Terate, Selasa (20/11).


Ia menuturkan, dari jumlah perahu sebanyak 21 unit, kini hanya tinggal lima unit perahu yang masih beroperasi. Sisanya rusak karena lama tidak digunakan. “Yang muda yang tua juga sekarang mah pada larinya ke pabrik semua, karena kata nelayan di sini kalau kerja di pabrik sudah pasti per hari dapat Rp110.000, kalau mencari ikan kan bisa saja sehari dapat Rp110.000 tapi dua hari enggak dapat sama sekali,” ujarnya.


Akibat dari berkurangnya nelayan yang mengoperasikan perahunya untuk mencari ikan, lanjut Juwadi, perolehan ikan di TPI Terate terus berkurang. “Sekarang mah sedikit dapat ikannya. Kadang pedagang yang membeli ikan di sini pada enggak kebagian padahal sudah datang subuh-subuh. Dulu mah ikan tuh sampai siang juga suka masih banyak bahkan kadang enggak habis, kalau sekarang mah berebut untuk dapat ikan,” tuturnya.


Ia mengaku prihatin dengan kondisi tersebut, namun pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa karena menjadi pekerja di proyek merupakan hak para nelayan. “Sekarang mah susah cari orang yang mau jadi nelayan, sementara perahu kan tidak bisa dioperasikan satu dua orang tapi harus rombongan. Mungkin kalau proyeknya sudah selesai pada mulai cari ikan lagi, tapi kan sebentar lagi proyek Wilmar mau dimulai pembangunannya,” paparnya.


Ia mengungkapkan, saat ini perolehan ikan sedang menurun karena sedang musim angin barat sehingga tangkapan ikan tidak maksimal. “Kebetulan sekarang ini lagi musim angin barat jadi hasil tangkapan kurang bagus, terus para nelayan yang masih suka mencari ikan juga banyak di rumah. Kalau ikan mah tiap pagi pasti ada cuman kadang enggak banyak,” katanya. (tanjung)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook