Inflasi Akhir Tahun Disebabkan Cabai

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 05 Desember 2018 - 11:43:48 WIB   |  dibaca: 101 kali
Inflasi Akhir Tahun  Disebabkan Cabai

KARENA CABAI: Seorang pedagang cabai merah menjajakan barang dagangannya di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang, belum lama ini. November 2018, Banten mengalami inflasi, dimana salah penyumbangnya dikarenakan adanya kenaikan harga cabai merah.

SERANG- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis kondisi Banten pada November 2018 telah mengalami inflasi sebesar 0,40 persen. Dominan penyumbang inflasi adalah cabai merah, sewa rumah, bensin, bawang merah dan telur ayam ras.

Kepala BPS Provinsi Banten Agoes Soebeno mengatakan, November 2018 harga barang atau jasa kebutuhan pokok masyarakat di Banten secara umum mengalami kenaikan. Hal ini terlihat dari meningkatnya  angka indeks harga konsumen (IHK) dari 141,75 pada Oktober menjadi 142,31 atau terjadi perubahan indeks (inflasi) sebesar 0,40 persen. “Inflasi tahun kalender tercatat sebesar 2,77 persen,  sedangkan inflasi year on year (IHK November 2018 terhadap November 2017) tercatat sebesar 3,49 persen,” ujarnya.


Ia menuturkan, adapun perkembangan harga barang dan jasa atau inflasi di tiga kota adalah Kota Serang 0,47 persen, Kota Cilegon sebesar 0,35 persen, dan Kota Tangerang mengalami inflasi sebesar 0,39 persen.“Dengan inflasi tahun kalender masing-masing kota adalah Kota Serang 3,12 persen, Kota  Cilegon 2,15 persen dan Kota Tangerang 2,81 persen,” katanya.

Pemantauan BPS terhadap 415 jenis barang dan jasa, 237 komoditas mengalami perubahan harga. Itu berdasarkan perbandingan hasil survei biaya hidup (SBH) 2012 di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon baik secara mingguan, dua mingguan maupun bulanan. “Rincian lengkapnya adalah 173 komoditas  mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 64 komoditas mengalami penurunan harga,” ungkapnya.

Dipaparkannya, adapun kelompok komoditas yang memberikan andil terhadap  inflasi Banten terdiri atas kelompok bahan makanan sebesar 0,130 persen,  kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,125 persen.

Kemudian, kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,057 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,050 persen kelompok. Lalu kelompok kesehatan sebesar 0,028 persen, kelompok sandang sebesar 0,003 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi serta olahraga mengalami kenaikan sebesar 0,002 persen.

“Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi selama November 2018 antara lain cabai merah, kentang, biaya check up, bawang merah, dan sosis
 daging ayam. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga paling banyak antara lain adalah sawi putih, diapers, tengiri, kacang tanah dan melon,” tuturnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Soeharso mengaku bahwa pihaknya sudah mengantisipasi potensi kenaikan harga kebutuhan pokok jelang Natal dan tahun baru. Salah satu caranya adalah dengan melakukan operasi pasar sesuai arahan kementerian perdagangan. “Mereka pedagang biasanya memanfaatkan akhir tahun sebagai kesempatan untuk mendulang pendapatan.

Daya beli masyarakat di periode itu cenderung meningkat akibat adanya pemberian bonus akhir tahun atau bentuk lain kepada karyawan. Itu dianggapnya kesempatan. Kami sudah antisipasi, kami rencanakan gelar operasi pasar,” ujarnya.


Tidak hanya itu, harga jelang akhir tahun juga akan dipantau secara berkelanjutan oleh tim khusus. Ia berharap, berbagai upaya ini membuat harga di pasar terkendali, sehingga daya beli masyarakat tidak terhambat.


“Mudah-mudahan antisipasi sudah jauh-jauh hari, ada kebijakan gelontoran operasi pasar sebelum harga beras naik, stoknya dicukupkan baik gabah petani maupun impor dan pantauan langsung perintah menteri terhitung sejak akhir November sampai dengan Januari nanti,” tuturnya. (dewa)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook