GAK Batuk, Tingkat Hunian Hotel Merosot

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Kamis, 06 Desember 2018 - 13:03:38 WIB   |  dibaca: 109 kali
GAK Batuk, Tingkat Hunian Hotel Merosot

MASIH JADI ANDALAN : Suasana di kawasan Pantai Anyer, belum lama ini.

SERANG – Tingkat hunian kamar hotel di Kawasan Wisata Pantai Anyer, Kabupaten Serang mengalami penurunan sejak tiga bulan terakhir. Hal itu terjadi disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sering mengalami erupsi.


Seperti diketahui, berdasarkan rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), peningkatan aktivitas GAK mulai terjadi pada pertengahan 2018 ini. Bahkan pada 18 Agustus tercatat GAK mengalami erupsi sebanyak 576 kali. Aktivitas itu sempat mereda namun kembali terjadi untuk beberapa waktu belakangan ini.  


Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten GS Ashok Kumar mengatakan, perlahan tapi pasti penurunan tingkat hunian kamar hotel selama tiga bulan terakhir mengalami tren menurun. Jika kalkulasikan, penurunan yang terjadi hingga 25 persen. “Ada penurunan di periode tiga bulan terakhir,” ujarnya saat dihubungi wartawan, kemarin.


Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Banten itu, turunnya pengunjung ke hotel di Pantai Anyer dikarenakan adanya peningkatan aktivitas GAK. Wisatawan banyak yang enggan berkunjung karena khawatir akan keselamatan dirinya.   “Sangat berdampak setiap hari di running (text terkait informasi GAK), apa orang tidak takut,” katanya.


Disinggung apakah penurunan itu juga disebabkan oleh tarif objek wisata di Anyer yang mahal, Ashok membantahnya. Dia menegaskan tarif yang berlaku di Kawasan Wisata Pantai Anyer masih dalam batas wajar.“Sebelum masuk ditanya dulu, wong satu bus masuk sampai 60 orang, bayar Rp 600.000 berarti satu orang berapa,” ungkapnya.


Pria berkumis tebal itu berharap, pemerintah bisa menindaklanjuti kondisi tersebut  dengan menggencarkan promosi. Sebab, pada dasarnya GAK masih bisa untuk dikunjungi dari jarak aman. Untuk menghilangkan rasa takut, PHRI berencana menggelar sebuah tur ke GAK pada 9 Desember mendatang.


“Pemerintah provinsi itu tugasnya promosi, juga harus benar berbuat, jangan berbuat itu tidak menyentuh titik sasar. Kalau ada yang sakit ya obatin. Jangan dibilang gara-gara itu (mahal-red) wisatawan enggak datang. Apa hubungannya dengan mahal, itu bagus dong jual mahal, kalau jual murah enggak laku dong,” tuturnya.


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Agoes Soebeno membenarkan, dari hasil surveinya tingkat hunian kamar hotel berbintang di Banten pada Oktober 2018 mengalami penurunan. Di bulan itu tingkat hunian hotel berbintang mencapai 50,24 persen atau turun 3,17 poin dibanding bulan sebelumnya sebesar 53,41 persen.


“Sedangkan dibandingkan bulan yang sama tahun lalu mengalami kenaikan 2,43 poin. Penurunan terjadi karena pada Oktober 2018 tidak ada hari libur (selain akhir pekan). Mengingat adanya hari libur keagamaan di November, maka tingkat penghunian hotel diprediksi akan mengalami kenaikan. Namun hari libur tersebut diprediksi tidak akan mampu mendongkrak kenaikan tingkat penghunian hotel secara signifikan,” ujar Agoes dalam keterangan tertulisnya.


Sementara untuk , rata-rata lama menginap tamu (RLMT) gabungan wisatawan asing dan lokal pada hotel berbintang selama Oktober 2018 tercatat sebesar 1,25 hari.  “Turun 0,21 poin dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 1,46 hari. JIka dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, RLMT gabungan juga mengalami penurunan sebesar 0,34 poin,” katanya. (dewa)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook