Dua Tahun Plaza Mandiri Dibiarkan Tak Terurus

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 10 Desember 2018 - 12:36:22 WIB   |  dibaca: 388 kali
Dua Tahun Plaza Mandiri Dibiarkan Tak Terurus

MASIH BELUM JELAS : Pintu masuk Plaza Mandiri Kota Cilegon tampak tertutup, Minggu (9/11). Sudah dua tahun gedung bekas pusat perbelanjaan Matahari ini dibiarkan kosong.

CILEGON - Gedung Plaza Mandiri atau yang sering dikenal sebagai gedung Matahari Lama di Jalan Sultan Agung Tirtayasa Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, sudah dua tahun dibiarkan kosong.


Gedung milik Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon yang sebelumnya ditempati kantor sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut dikosongkan di awal tahun 2017 dengan tujuan akan dibenahi untuk akan dijadikan sentra bisnis dan usaha kecil menengah (UKM).  


Pantauan Banten Raya kemarin, gedung lima lantai itu terkunci dan tidak ada penjaganya. Lantai dasar tampak dipenuhi tumpukan sampah dan persis di pintu masuk utama sebelah kanan, nampak tembok dipenuhi lumut serta ditumbuhi pohon benalu.


Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi menyatakan, Pemkot Cilegon belum memiliki rencana untuk melakukan pembangunan atau pemanfaatan gedung tersebut, sehingga sampai sekarang kondisi kedung kosong. "Yah sudah kosong (2 tahun lebih-red) Belum ada rencana, kami mau buat apa belum dipikirkan," katanya kepada Banten Raya, Jumat (7/11).


Saat ditanya apakah gedung tersebut akan dijadikan untuk pembangunan mal atau sentra bisnis dan dicarikan investor sebagai pengelola seperti yang direncanakan, Edi hanya menjawab belum ada rencana apa-apa. "Belum ada rencana, buat apa nantinya, belum dipikirkan," jawabnya.


Asisten Daerah (Asda) III Kota Cilegon Dana Sujaksani meminta Banten Raya menanyakan persoalan gedung tersebut ke bagian aset. Sebab, hal tersebut menjadi tanggungjawab bagian aset. "Tanya langsung ke bagian aset. Apa pembangunannya yang pas bisa ditanyakan kepada bagian itu (aset)," katanya.


Dana berpendapat, gedung tersebut lebih cocok dibangun mal pelayanan publik. Dimana semua pelayanan bisa satu gedung atau satu pintu dan ada juga pusat swalayan seperti mal biasa, sehingga warga bisa melakukan pelayanan publik sambil melihat dan berbelanja. "Kalau saya ditanya buat apa, harus ada konsep yang inovatif. Sekarang biar bisa maksimal maka bisa dibuat mal pelayanan publik. Kalau di Bali hanya gedung pelayanan publik satu pintu maka disini ditambah mall," imbuhnya. (uri)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook