Kapal Hancur, Pelabuhan Paku Lumpuh

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Selasa, 08 Januari 2019 - 16:09:12 WIB   |  dibaca: 162 kali
Kapal Hancur, Pelabuhan Paku Lumpuh

MENGANGGUR : Para nelayan di Pelabuhan Paku, Desa Anyer, Kecamatan Anyer memperbaiki kapal mereka yang rusak akibat tsunami, Senin (7/1).

SERANG – Bencana tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) lalu tidak hanya menelan korban jiwa, namun juga merusak dan menghancurkan kapal dan perahu nelayan yang diparkir di Pelabuhan Paku, Desa Anyer, Kecamatan Anyer. Akibatnya, sampai hari ini para nelayan belum bisa melaut karena masih memperbaiki kapal mereka.

Pantauan di lokasi, suasana Pelabuhan Paku terlihat lengang hanya ada beberapa orang yang duduk-duduk di bangku yang ada di depan warung. Kemudian, tempat pelelangan ikan (TPI) yang biasanya ramai dikunjungi pembeli untuk membeli ikan belum beroperasi. Sedangkan, pada nelayan yang berada di belakang TPI sedang sibuk bergotong royong memperbaiki kapal mereka yang rusak ringan.

Anwar, salah seorang nelayan mengatakan, ombak besar yang terjadi dua pekan lalu memporakporandakan kapal milik para nelayan. “Untuk kapal yang rusak berat dan rusak ringan ada 12 kapal, sedangkan yang tenggelam dan kondisinya hancur ada lima kapal. Saat kejadian tsunami kemarin kapal-kapal ini diparkirkan di dermaga dan belakang TPI,” kata Anwar, Senin (7/12).

Ia menuturkan, untuk kapal yang mengalami rusak berat dan ringan masih ada kemungkinan bisa diperbaiki, namun untuk kapal yang tenggelam dan hancur harus dibangun kembali. “Untuk yang rusak ringan sama yang rusak berat perbaikannya kurang lebih butuh biaya Rp15 juta sampai Rp20 juta, kalau yang hancur atau rusak total butuh biasa sekitar Rp50 juta karena harus membangun dari awal,” ujarnya.

Anwar menyebutkan, para nelayan terkendala biaya untuk memperbaiki kapal yang rusak ringan dan rusak berat tersebut, sehingga mereka hanya memperbaiki bagian yang tidak memakan biaya besar. “Yang rusaknya ringan kita naikan ke atas (darat-red) bareng-bareng. Untuk biaya belum ada sama sekali. Kemarin itu ada bantuan dari ibu bupati (Rt Tatu Chasanah-red) untuk meringankan beban satu kapal Rp1 juta,” tuturnya.

Sejak kejadian tsunami tersebut, lanjutnya, para nelayan belum ada satu pun yang beroperasi walaupun kapalnya masih utuh karena mereka masih khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Jadi kami nelayan tidak ada pemasukan sama sekali. Harapan kami sebagai nelayan betul-betul mengharapkan adanya bantuan untuk memperbaiki kapal kami, baik dari pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat,” ungkapnya.

Adapun jumlah kapal nelayan yang ada di Pelabuhan Paku sebanyak 30 unit, dengan jumlah nelayan tangkap delapan orang dan nelayan pariwisata 30 orang. “Sejak pertama TPI tutup saja karena enggak ada nelayan yang menjual ikan. Terus sekarang mah penghasilan ikan tidak menentu karena banyak limbah di laut jadi ikannya pindah-pindah,” ujar pria yang mengaku jadi nelayan sejak tahun 1986 itu. 

Fatoni, nelayan Pelabuhan Paku lainnya mengatakan, bencana tsunami yang terjadi di Anyer hanya merusak kapal-kapal nelayan namun tidak sampai merusak rumah warga. “Alhamdulillah kalau rumah mah enggak ada yang rusak. Kemudian enggak ada korban jiwa karena tidak ada nelayan di kapal karena kejadiannya malam hari. Kita tahunya kapal sudah pada rusak saja,” katanya. (tanjung)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook