Tidak Terurus, Jadi Tempat Pembuangan Air Comberan

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Rabu, 09 Januari 2019 - 15:25:25 WIB   |  dibaca: 136 kali
Tidak Terurus, Jadi Tempat Pembuangan Air Comberan

PUNYA SEJARAH : Stasiun Kereta Api Anjerkidul di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer rusak parah karena tidak terurus, Senin (7/1). Stasiun ini terakhir beroperasi pada tahun 1987-an.

SERANG - Tidak banyak orang yang tahu jika Kecamatan Anyer yang terletak di bagian selatan Kabupaten Serang tidak hanya memiliki keindahan pantai dengan pasir putihnya yang halus, tapi juga memiliki peninggalan sejarah yang berharga.

Senin (7/1) siang, waktu menunjukan pukul 10.30 WIB, terik matahari di wilayah Anyer begitu panas. Orang-orang mulai melakukan aktivitasnya kembali setelah sepekan lebih mereka tinggal di pengungsian akibat terdampak tsunami yang terjadi pada pertengahan Desember lalu.

Anyer dan sekitarnya mulai normal kembali, pemilik warung sudah membuka tempat usahanya, begitu juga dengan tukang ojek, mereka mulai mangkal di tempat mereka mencari nafkah. Sedangkan tukang parkir mulai sibuk mengatur kendaraan yang berlalu lalang di pertigaan Anyer menuju arah Kecamatan Mancak.

Tidak jauh dari keramaian itu, sekitar 200 meter tepatnya di belakang Bakso Khosim yang berseberangan dengan SDN Anyer 1, terdapat sebuah bangunan lama bersegi empat yang pada bagian temboknya tertulis ANJERLOR. Bangunan yang semua dicat berwarna putih itu merupakan stasiun kereta api yang dibangun pada 24 Januari 1900 masehi.

Bangunan yang sekarang dicat berwarna warni itu memiliki tiga ruangan. Dua ruangan dalam kondisi rusak parah karena bagian atapnya sudah bolong-bolong dan di dalam ruangan itu terdapat rongsokan seperti besi dan kursi dari kayu yang tidak terpakai lagi. Sedangkan yang satu ruangan dijadikan tempat untuk kegiatan pemuda.

Pada bagian tembok yang tertempel daun pintu tertulias kata-kata bijak “Kita sangat sibuk mikirin hidup enak, tapi lupa mikirin mati enak”. Sedangkan pada tembok bagian ruangan yang tidak terpakai, terdapat tali tampar yang diikatkan pada kayu yang menempel ke tembok yang digunakan untuk menjemur baju dan bantal. “Iya itu anak-anak muda yang mengecet. Ruangan yang bagian belakang doang yang dipakai. Kalau malam kadang buat tidur mereka,” kata ibu penjual pecel yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

Bangunan stasiun yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemkab Serang itu berada di Kampung Rahayu, Desa Anyer, Kecamatan Anyer. Namun warga di kampung itu tidak banyak yang tahu akan sejarah stasiun yang sangat penting dalam sejarah Anyer tersebut. “Orang sekarang mah enggak banyak yang tahu sejarahnya. Kalau mau bisa tanya ke bapak saya Pak Yunus, dulu dia pekerja di stasiun ini, tapi sekarang orangnya udah pikun kalau diajak ngomong harus ditowel (dicolek) dulu dan ngomongnya harus kuat,” ujar ibu yang memakai baju daster itu.

Atas petunjuk itu, saya mencoba menemui Yunus yang sedang sibuk membuat dudukan sepeda dari kayu buat cucunya. Namun Yunus sulit untuk diajak bicara karena pendengarannya yang kurang. Akhirnya seseorang menyarankan untuk menemui Pak Selamet yang rumahnya sekitar 25 meter dari stasiun.

Slamet yang ditemui sedang ngopi di dalam rumahnya mengaku tidak mengetahui secara detil terkait stasiun dan KAI yang beroperasi di wilayah Anyer, namun Slamet masih mengingat kapan KAI di wilayah Anyer berhenti beroperasi.

“Saya juga dulu kerja di KAI tapi saya tugasnya di Ciwandan. Seingat saya kereta di Anyer ini berhenti beroperasi sekitar tahun 1978-an. Begitu kereta di Chandra Asri dioperasikan kereta di sini dihentikan,” kata Slamet.

Pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah itu menuturkan, kereta Anyer dulunya selain sebagai angkutan penumpang juga sebagai angkutan hasil pertanian yang ada di wilayah Anyer dan sekitarnya serta untuk mengangkut batu karang ke daerah luar Anyer. “Jadi warga di sini dulu ada yang bekerja mecahin batu karang terus dijual ke pengepul, habis itu diangkut pakai kereta,” ungkapnya.

Menurut Slamet, kereta Anyer hanya melayani rute Anyer-Rangkasbitung, sedangkan batu karang dan hasil pertanian dari Anyer yang akan dibawa ke Jakarta dan daerah lainnya dipindah ke kereta lain di stasiun Rangkasbitung.

“Keretanya dulu cuman ada satu, disebutnya kereta Anyer, kalau sekarang kan ada kereta Krakatau, ada kereta Halimun dan lainnya. Biasanya kereta dari Rangkasbitung sampai sini pagi-pagi terus jam 09.00 WIB balik lagi,” ujar pria kelahiran tahun 1945 itu.

Slamet yang pernah bertugas sebagai juru langsir, atau orang yang bertugas memindahkan wesel atau jalur kereta itu mengungkapkan, keberadaan kereta Anyer sangat membantu mobilitas warga Anyer yang mau keluar Anyer atau sebaliknya.

“Sama penumpangnya ramai seperti sekarang-sekarang ini. Kalau bangunan stasiun ini paling baru beberapa tahun saja rusaknya, terus rel keretanya juga sebagain masih terlihat dan sebagian lagi di uruk karena di atasanya dibangun rumah,” tuturnya.

Stasiun kereta api di Kecamatan Anyer tidak hanya berada di Kampung Rahayu, Desa Anyer saja namu juga terdapat stasiun lain, yaitu di Kampung Cikoneng, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer. Namun kondisi stasiun di Kampung Cikoneng cukup memprihatinkan karena tidak terurus.

Bangunan yang memilki panjang sekitar 13 meter dan lebar 7 meter itu sama memiliki tiga ruangan. Pada ruangan pertama sudah tidak lagi beratap dan lantai ruangan yang berbentuk tanah itu dijadikan tempat pembuangan air comberan karena di depan bangun stasiun itu dibangun rumah semi permanen oleh warga setempat.

Sedangkan pada ruangan tengah pintu dalam posisi tergembok dan ruangan ketiga temboknya hanya tinggal sebagian karena beberapa bagian temboknya sudah tidak ada lagi. Sementara temboknya yang berwarna putih ditumbuhi lumut. Pada tembok itu pula tertulis ANJERKIDUL. “Sudah enggak terurus kang, warga juga enggak berani ngapa-ngapain karena kalau cagar budaya enggak boleh diapa-apain katanya. Suka ada anak-anak sekolah yang datang ke sini tapi sudah jadi comberan dalamnya,” ujar Hamdi, warga setempat yang ditemui di lokasi.

Hamdi menuturkan, kondisi bangunan stasiun yang saat ini ada sama seperti yang dulu dilihatnya saat masih SMP yaitu sekitar tahun 1992. “Dari dulu sudah seperti ini. Kalau saya dulu kecil masih ada rel keretanya tapi sekarang mah pada diambilin orang pada malam hari. Tanah yang dijadikan bangunan rumah di sekitar sini semua milik KAI (Kereta Api Indonesia),” katanya. (TANJUNG)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook