Kini Jadi Kuli Bangunan, Bermimpi Masuk Tentara

nurul roudhoh   |   Pandeglang  |   Selasa, 22 Januari 2019 - 14:36:01 WIB   |  dibaca: 504 kali
Kini Jadi Kuli Bangunan, Bermimpi Masuk Tentara

Dede (kanan di foto kedua) saat menjalani pekerjaaannya sebagai kuli.

PANDEGLANG - Suara mesin pemotong keramik yang digunakan dua orang remaja cukup memekakan telinga wartawan Banten Raya saat berkunjung ke sebuah proyek perumahan di bilangan Kota Tangerang, Senin (21/1) pagi. Namun dua remaja kuli bangunan tersebut tampak sudah terbiasa dengan suara bising mesin pemotong yang beratnya kurang lebih 3 kilogram itu.

Sepintas memang tidak ada yang aneh dari aktivitas dua kuli bangunan tersebut. Namun siapa sangka kalau satu dari dua kuli itu adalah atlet junior Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Provinsi Banten yang sarat prestasi bernama Dede Fariz (20). “Saya terpaksa jadi kuli karena harus mencukupi kebutuhan hidup orang tua dan saya sendiri,” kata Dede saat membuka obrolan.

Dede juga mengaku tidak menyangka bisa terjun menjadi kuli. Semenjak duduk di SMPN 2 Cimanuk hingga lulus SMAN 2 Pandeglang, ia tidak punya pekerjaan lain selain berlatih dan bertarung di arena pertandingan judo lokal dan nasional. “Tadinya saya punya cita-cita menjadi atlet profesional dan bisa menghasilkan uang makanya terus berlatih dan rajin ikut kejuaraan. Namun ternyata seperti ini.

Bukannya tidak berprestasi tapi karena perhatian pemerintah daerah saya rasakan minim dan tidak ada jaminan bagi atlet di kemudian hari,” jelas pria yang sejak kecil sudah ditinggal mati bapaknya ini.

Menurut keterangan Dede, ia nekad menjadi kuli bangunan lantaran cita-citanya menjadi atlet judo profesional menipis. Gara-garanya Dede dicoret dengan alasan tidak jelas dari daftar atlet PJSI Banten untuk PON Jabar 2016 silam. Pencoretan Dede ini disebut-sebut buntut dari miskomunikasi dengan pelatihnya.

Tepatnya ketika Dede mempertanyakan uang latihan yang besarnya Rp5 juta per bulan. “Saat persiapan PON Jabar dan latihan berjalan 4 bulan, ada informasi bahwa uang latihan dari KONI Banten Rp 5 juta pe rbulannya sudah cair. Saya tanyakan ke pelatih dan saya hanya nerima Rp2 juta selama tiga bulan. Dari sana saya kesal karena latihan sangat capek. Ibu juga menyarankan agar saya berhenti dan cari pekerjaan lain,” beber Dede.

Cerita soal pendapatan Dede yang selalu berkurang saat berstatus atlet teryata bukan saja terjadi menjelang PON 2016. Pada tahun 2014 menurutnya ia mendapatkan bonus dari Gubernur Banten Rano Karno Rp20 juta setelah berhasil mengharumkan Kontingen Banten dengan menjadi juara 3 di PON Remaja Surabaya. “Bonus itu saya laporkan ke pelatih dan uang diambil Rp6 juta katanya untuk pajak. Pelatih itu saya kasih lagi Rp1 juta. Jadi bersihnya saya dapat Rp 13 juta,” kenang atlet yag lahir di Pandeglang tahun 1998 ini.

Kendati merasa mendapatkan perlakuan yang kurang baik, peristiwa itu tidak dipedulikan Dede. Apalagi tim pelatih waktu itu sempat datang ke rumahnya untuk mengajak kembali berlatih tepatnya setelah Dede dinyatakan tidak diikutkan di PON Bandung.

Namun rupanya Dede tekadnya bulat untuk berhenti berlatih dan menyatakan mundur sebagai atlet PJSI Banten. “Ibu juga menasehati saya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Makanya saya menyatakan mundur dari atlet PJSI Banten. Kalau sebagai atlet judo Pandeglang saya tetap sampai sekarang walaupun di Porprov Banten saya kembali tidak dipanggil untuk memperkuat Kontingen Pandeglang,” kata Dede.

Di Kabupaten Pandeglang, Dede juga mengaku pernah meminta tolong kepada pelatihnya untuk dicarikan pekerjaan agar bisa tetap berlatih dan tampil di kejuaraan-kejuaraan. “Waktu itu saya ditawari kerja di waralaba. Saya gak mau karena saya pikir menyita waktu dan tidak ada waktu berlatih. Apalagi aturan kerjanya ketat,” jelasnya.

Sebelum memutuskan jadi kuli bangunan dengan penghasilan Rp80 ribu per hari, Dede menyatakan pernah ikut tes menjadi anggota TNI di Kodam Siliwangi dengan jalur khusus yakni sebagai atlet. “Saya gagal di pantohir. Setelah itu saya di sini (sebagai kuli).

Namun saya masih punya mimpi untuk meneruskan cita-cita saya sebagai atlet profesional dan akan mendaftar lagi di Akmil. Doakan saya dapat pekerjaan yang layak dan tetap mempertahankan kemampuan saya sebagai pejudo. Saya ingin mengharumkan nama daerah dan bangsa degan judo,” pungkasnya.

Sementara itu, pembina Judo Pandeglang Bai Suwirot membenarkan bahwa Dede Fariz adalah atlet asal Pandeglang. “Setelah berhenti latihan saya pernah ajak gabung lagi dan dititipkan jadi satpam tapi dia tidak mau,” kata Bai.Bai juga menyatakan Dede sempat akan pindah menjadi atlet DKI Jakarta. “Setelah itu saya tidak tahu dia kemana,” jelas Bai. (Muhaemin)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook