Dikepung Rumah Penduduk, Baru Dilaporkan Tahun 2018

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Senin, 28 Januari 2019 - 14:33:51 WIB   |  dibaca: 4582 kali
Dikepung Rumah Penduduk, Baru Dilaporkan Tahun 2018

SEJARAH: Kepala Seksi Budaya dan Permuseuman Dindikbud Lebak Ubaidillah di samping bunker yang ada di Kampung Leuwikaung, belum lama ini.

LEBAK - Kabupaten Lebak dikenal sebagai daerah basis pertempuran melawan penjajah di masa silam. Itulah mengapa ada museum Multatuli di sana. Salah satu peninggalan era kolonial yang masih bisa dilihat di Kabupaten Lebak adalah bunker yang ada di Kampung Leuwikaung, Desa Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung.

Jam menunjukan pukul 09.00 WIB saat Banten Raya mengunjungi bangunan berbentuk kubus tersebut. Lokasinya tepat berada di belakang SDN 2 Rangkasbitung Barat. Meski begitu, tidak ada anak sekolah yang bermain di bangunan yang tingginya hanya 50 centimeter dari permukaan tanah itu. Jika tidak ada plang yang dipasang, mungkin orang tidak akan menyangka bahwa bangunan ini adalah bunker masa perang untuk bersembunyi dari serangan udara musuh.

Bunker dibangun dengan bahan cor semen dengan split batu belah. Lebarnya 5 x 5 meter. Di bagian timur dan barat, terdapat cerukan, dan atap objek memiliki kemiringan seperti atap tipe limasan di sisi utara dan barat. Di atap juga terdapat dua buah lubang pipa besi yang terletak di sisi timur dan barat daya. Kondisi bunker utuh terkubur tanah urugan. Pintu masuk berada di sisi tenggara dengan sebuah engsel besi. Jendela dan pintu masuk sebenarnya hampir tak terlihat karena sebagian besar bunker ini terkubur tanah.

Kepala Seksi Budaya dan Permuseuman pada Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lebak Ubaidillah mengatakan, bunker diperkirakan dibangun oleh Jepang saat menjajah Indonesia tahun 1940.

Meski hanya berjarak 500 meter dari perkantoran Sekretariat Daerah Pemkab Lebak, keberadaan bunker baru dilaporkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2018 lalu. Alasannya, saat itu pemerintah belum yakin bahwa bangunan tersebut adalah bunker yang merupakan cagar budaya.

Setelah mengumpulkan informasi dari masyarakat dan berbagai sumber, baru diyakini kubus yang terkubur itu adalah bunker peninggalan Jepang. Pemkab Lebak saat ini sudah memasang plang pemberitahuan di lokasi itu bahwa bunker adalah cagar budaya yang dilindungi dan tidak boleh dirusak.

Sampai saat ini, belum ada penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan bunker itu. Pemkab Lebak pun tak tahu berapa kedalaman yang dimiliki bunker. DIndikbud Lebak baru berencana mengajukan anggaran di tahun ini untuk proses penelitiannya dengan cara membongkar tanah yang telah menimbun sebagian besar bangunan tersebut.

Ubaidilah menuturkan bahwa Kampung Leuwikaung merupakan dataran tinggi di sekitar Kota Rangkasbitung. Oleh karena itu, Pemerintah Jepang melalui tentaranya membangun bunker tersebut untuk kepentingan mengintai sekaligus menghalau tentara Belanda dari arah Kabupaten Pandeglang atau dari kabupaten lain yang akan masuk ke Kabupaten Lebak.

Tidak hanya di Leuwikaung, tentara Jepang pun membangun bunker-bunker kecil di antaranya berada di Kampung Aweh, Desa Aweh, Kecamatan Kalanganyar, serta Kampung Muhara, Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung. Namun karena bunker di dua lokasi tersebut persis berdiri di bibir Sungai Ciberang dan Ciujung, maka lama kelamaan fisiknya punah terbawa arus sungai, serta terkubur tanah.

Kata Ubaidillah, posisi bunker yang berada di belakang SDN 2 Rangkasbitung Barat sangat menguntungkan karena siswa bisa belajar langsung melihat bangunan sejarah. "Juga karena posisinya di belakang sekolah, bunker aman dari tangan-tangan jahil," tuturnya.

Kini saat Leuwi Kaung menjadi permukiman penduduk, bunker pun dikelilingi rumah. Jika kita mencoba berdiri di atas bunker, maka andangan kita untuk melihat wilayah Kabupaten Pandeglang sudah tidak bisa lagi karena terhalang tembok maupun atap rumah penduduk.

Kini yang sedang direncanakan Pemkab adalah untuk mengembangkannya, mengingat bunker Jepang itu bisa menjadi salah satu obyek wisata untuk umum. "Di Lebak banyak terdapat benda atau bangunan peninggalan sejarah yang tentunya menarik bila kita manfatkan untuk bidang pariwisata sejarah,”kata Bupati Iti Octavia Jayabaya. (HUDAYA MEIDINA)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook