4 Tahun, 113 Hektar Lahan Pertanian Beralih Fungsi

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Selasa, 29 Januari 2019 - 12:13:01 WIB   |  dibaca: 264 kali
4 Tahun, 113 Hektar Lahan Pertanian Beralih Fungsi

CILEGON – Lahan pertanian di Kota Cilegon semakin menyusut karena belaih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon, pada 2013, lahan pertanian di Kota Cilegon, khususnya persawahan tercatat seluas 1.736 hektar, sedangkan pada pada 2017 tercatat seluas 1.623 hektar. Atau mengalami penyusutan sebanyak 113 hektar.Jika dihitung raa-rata, selama empat tahun tersebut setiap tahun penyusutan lahan pertanian sebanyak 28 hektar.

Kepala DKPP Kota Cilegon, Wawan Hermawan menyatakan, penyebab utama alih fungsi lahan pertanian adalah untuk industri dan perumahan. Hal tersebut dikarenakan Kota Cilegon merupakan kota dengan investasi yang sangat tumbuh pesat, sehingga untuk menampung investasi tersebut maka lahan yang sebagaian besar merupakan persawahan beralih fungsi untuk pabrik dan perumahan.

“Kita tidak bisa pungkiri jika yang menjadi penyebab utamanya adalah industri dan perumahan. Rata-rata 28 hektar lahan pertanian setiap tahunnya menyusut karena berubah fungsi,” katanya kepada wartawan, Senin (28/1).

Selanjutnya, kata Wawan, yang menyebabkan lahan pertanian belaih fungsi lainnya adalah Kota Cilegon bukan menjadi pemasok utama beras atau gabah, sehingga tidak menjadikan acuan untuk pemasok pertanian dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Saat ini rata-rata produksi gabah giling kering 14.000 ton, sementara total kebutuhan beras warga Kota Cilegon sebanyak 28.155 ton pertahun, sehingga untuk bisa memenuhi kebutuhan harus mengambil dari wilayah lain. “Pertanian kita ini ini hanya bisa memenuhi 31 persen kebutuhan beras sendiri, selebihnya kita mengambil dari daerah lain. Karena bukan wilayah produsen maka tidak menjadi perhatian khusus pemerintah,” pungkasnya.

Untuk bisa mendorong kembali gairah pertanian di Kota Cilegon, imbuh Wawan, pihaknya telah bekerjasama dengan investor bidang pertanian untuk bisa menggarap dan mempekerjakan buruh tani di Kota Cilegon, khususnya tanaman dengan nilai ekonomis yang tinggi seperti melon dan semacamnya. “Targetnya ada 71 ribu ton melon pertahun, ini kita sedang mengajak investor untuk bekerjasama dengan petani, sehingga pertanian kembali bergairah,” imbuhnya.

Sementara itu, Lurah Cikerai, Kecamatan Cibeber, Astari mengungkapkan, dari luas wilayah Kelurahan Cikerai sekitar 318 hektar, sekitar 40 persennya atau 127 hektar merupakan lahan pertanian. Namun, saat ini lahan pertanian tidak lagi produktif, karena kabanyakan lahan sudah dimiliki oleh warga luar kota dan ditanami pohon jenis kayu keras, seperti Jati dan Mahoni. “Separuhnya sudah punya orang luar, dan mereka tidak bertani namun ditanami pohon-pohon seperti jati dan semacamnya,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata Astari, pertanian yang ada di wilayahnya merupakan pertanian tadah hujan, sehingga minat masyarakat asli juga sudah mulai berkurang untuk menggarap sawah dan ladang. “Kalau dulu kami masih bisa menyaksikan sawah menguning, sekarang mah jarang. Sebab sebagian besar tidak digarap lagi,” imbuhnya. (uri)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook