Terbiasa Bengkak dan Cedera, Incar Prestasi di Papua 2020

nurul roudhoh   |   Banten Sport  |   Rabu, 30 Januari 2019 - 15:15:56 WIB   |  dibaca: 426 kali
Terbiasa Bengkak dan Cedera, Incar Prestasi di Papua 2020

ASAH TEKNIK : Dua atlet wanita Muaythai Banten berlatih teknik di kawasan Alun-Alun Timur Kota Serang, akhir pekan lalu.

SERANG - Muaythai merupakan olahraga yang penuh kontak fisik dan rawan cedera. Bahkan tidak jarang atlet sampai berdarah dan cedera parah. Jarang kaum hawa menekuni olahraga ini sebagai petarung muaythai. Namun di Banten ada beberapa atlet wanita yang menekuni olahraga ini dan berprestasi.

Olahraga asal negeri Thailand, muaythai dalam beberapa tahun ini popular di Indonesia. Bagi kaum wanita dan laki –laki mereka mengikuti olahraga ini untuk beberapa alasan antara lain jadi atlet profesional maupun hanya sarana berolahraga untuk menurunkan berat badan dan menjaga kebugaran.  

Banten sendiri mempunyai beberapa atlet wanita muda yang menekuni olahraga yang penuh dengan kontak fisik ini. Bahkan mereka telah berprestasi di ajang nasional dan kini mereka mengincar medali di ajang PON Papua 2020 mendatang. Mia Amalia dan Dede Dina adalah atlet muaythai andalan Banten.

Mia merupakan juara pertama kejurnas muaythai tahun 2018 untuk kelas 51 kilogram, sementara Dede Dina merupakan juara pertama kejurnas muaythai tahun 2018 untuk kelas 54 kilogram.  “Saya menekuni olahraga ini karena panggilan jiwa.

Walaupun olahraga ini keras dan rawan cedera ini tidak menyurutkan semangat saya untuk terus berlatih dan berprestasi. Kini saya berlatih keras untuk bisa lolos ke PON Papua 2020 dan nantinya bisa meraih medali,” kata Dede.

Dalam menjalani latihan atau bertanding, kedua tak jarang kerap cedera lantaran kontak bodi dengan rekan latihan atau lawan. ”Kalau memar pasti rasanya cenat-cenut dan nyeri. Untuk memar paling dalam waktu 3 hari tidak sakit lagi karena diobati. Walaupun sakit saya tahan dan tidak mau manja. Saya tetap berlatih kalau hanya memar,” ujar dia.

Sementara itu Mia mengaku tidak hanya memar yang ia alami, juga cedera engkel atau keseleo. Cedera engkel yang dialami ini akibat salah jatuh atau rekan berlatih dan lawan menyerang namun dirinya tidak sempat menghindar. “Kalau cedera engkel bisa lama hingga 2 minggu atau lebih tergantung cederanya. Kalau sudah cedera engkel harus istirahat hingga sembuh. Jika dipaksakan akan lebih berbahaya karena bisa mempengaruhi kinerja anggota tubuh,” ungkap Mia.

Jika dalam pertandingan walaupun cedera namun jika masih bertanding kedua wanita ini akan terus bertanding. Mereka memilih tampil seperti biasa bahkan garang di depan lawannya untuk membuat mental lawan ciut saat bertanding. “Kalau kami cedera namun ditunjukkan maka lawan akan dengan mudah untuk mengalahkan kami sebab bagian yang cedera tentunya akan diincar lawan untuk menjatuhkan kami. Kami berusaha tampil galak agar lawan takut kepada kami,” jelas kedua wanita ini.

Jika cedera parah dan pelatih mengharuskan untuk mundur dari pertandingan maka mau tidak mau harus mengakhiri pertandingan lebih awal. “Sedih jika harus mengakhiri kompetisi karena cedera. Ini berarti kami kehilangan peluang untuk jadi juara dan mengharumkan nama Banten. Ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk kejuaraan ke depan untuk berprestasi,”  tambah Mia.

Ditanya dukungan orangtua terhadap olahraga ini, baik Mia dan Dede menjawab, keluarga mendukung kegiatan muaythai yang mereka tekuni. Pada awal-awal memang khawatir. Namun setelah diberi pengertian dan mampu menunjukan prestasi, keluarga memberi dukungan. “Kami bersyukur dari olahraga ini kami bisa berprestasi.

Untuk target ke depan, kami ingin tampil di PON Papua 2020. Kini kami berlatih keras untuk menyiapkan diri untuk menghadapi Pra PON. Kami mohon doanya agar kami bisa lolos dan mempersembahkan medali. Kami ingin mengharumkan nama Banten di kancah nasional,” kata mereka. (Wisnu Agus)       

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook