Mimpi Spesialis Pembaca Doa Apel yang Terwujud

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 06 Februari 2019 - 11:55:45 WIB   |  dibaca: 118 kali
Mimpi Spesialis Pembaca Doa Apel yang Terwujud

PENUH HARU: Tb Ahmad Khotib (tengah memakai kopiah) menerima ucapan selamat dari rekanrekannya di Pemprov Banten usai apel gabungan di Lapangan Setda Provinsi Banten, Senin (4/2).

KOTA SERANG - Tb Ahmad Khotib hanya menjalankan tugasnya sebagai pembaca doa di gabungan Pemprov Banten awal bulan ini. Tapi mungkin apel kali akan dikenang sepanjang umurnya. Atas kewenangan seorang Gubernur Banten, mimpinya ke tanah suci akhirnya terwujud.

Apel gabungan memang menjadi rutinitas setiap aparatur sipil negara (ASN) di Pemprov Banten di Senin pekan pertama setiap bulannya. Lapangan Setda Provinsi Banten di pagi hari akan selalu dipenuhi para abdi negara. Tak terkecuali di awal Februari 2019.

Tahap demi tahap pelaksanaan apel dilalui dan tiba lah Tb Ahmad Khotib menjalankan tugasnya. Bisa jadi staf pelaksana di Sekretariat DPRD Banten ini sangat dinanti para peserta apel. Setiap Khotib muncul, wajah para ASN seperti membentuk raut senang. Sebab tugasnya adalah membaca doa. Membaca doa artinya apel telah selesai.

Benar saja, selesai Khotib menutup doanya apel pun bubar. Para ASN juga balik kanan untuk kembali ke kantornya masing-masing. Tapi pemandangan rutin itu tak terjadi di pagi itu. Pelakunya adalah Gubernur Banten Wahidin Halim.

Orang nomor satu di Banten itu tiba-tiba kembali ke mimbar inspektur upacara. Padahal jatah untuk memberikan arah sudah dilakukannya. Pengeras suara pun dinyalakannya. Mantan anggota DPR RI itu tanpa basa-basi menanyakan siapa identitas sang pembaca doa di apel tadi. "Yang baca doa siapa tadi?" ujarnya dengan nada rendah tapi cukup tegas itu.

Khotib pun sempat kaget. Dirinya dicari oleh seorang gubernur dihadapan banyak orang. Langsung saja dirinya merasa segan. Wajahnya agak pucat. Sedikit gugup Khotib pun menjawab bahwa dia lah yang bertanggung jawab untuk pemcaan doa apel.

Langsung saja gubernur menodongnya dengan pertanyakan apakah Khotib sudah menjalankan ibadah haji. Ayah empat anak pun menjawabnya itu adalah agenda yang belum kesampaian. Gayung pun bersambut, gubernur langsung mengatakan bahwa Khotib akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Bak menemukan mata air di tengah gurun. Khotib senang bukan main. Pengurus musala Sekretariat DPRD Banten dan Masjid Raya Albantani tak bisa menutupi rasa senangnya. Di tempatnya berdiri dia langsung bersujud syukur. Air mata pun tak bisa ditahannya dan segera saja membasahi pipinya. Tanpa dikomando, para peserta apel pun langsung menghampiri Khotib untuk memberikan selamat.

Khotib yang juga Ketua Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Sekretariat DPRD Banten kepada Banten Raya mengungkapkan apa yang diterimanya di apel adalah mimpi yang selama ini dia selalu kejar. Mimpi yang selalu terlahang oleh faktor ekonomi."Semuanya bagaikan mimpi buat saya. Dari dulu saya sangat mendambakan untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Berziarah ke makam Rasulullah SAW, namun karena faktor biaya dan daftar tunggu yg sangat panjang, keinginan itu sepertinya sulit diwujudkan.

Namun Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati PaK WH (Wahidin Halim). Memberangkatkan saya ke tanah suci sebagai petugas yang harus mengurusi jemaah haji," ungkap pria berusia setengah abad ini dengan penuh semangat.  

Dia tak hentinya bersyukur kepada sang pencipta dan juga mendoakan gubernur agar selalu diberi kesehatan. Pria yang sudah menjadi ASN di Pemprov Banten selama 17 tahun ini mendoakan agar gubernur selalu diberi petunjuk dalam memimpin Banten.  

Khotib mendorong agar reward atau bentuk apresiasi yang diterima dirinya bisa terus berlanjut. Itu tak lain untuk menjadi motivasi bagi ASN dan Masyarakat berprestasi. Agar lebih giat lagi bekerja dan berkarya.

Kini harapannya hanya satu yaitu bisa berangkat ke tanah suci bersama sang ibunda yang kini berusia 75 tahun. Sang ibu akan berangkat ke tanah suci pada tahun depan. Keinginannya bersangkat bersama karena dia ingin mengurusi sang ibu selama di tanah suci karena telah berusia uzur.

"Kasihan beliau sudah tua dan uzur, harus berangkat haji sendirian tahun 2020. Melalui kesempatan ini saya sangat berharap dan memohon kepada pihak Kementrian Agama, supaya ibu saya bisa berangkat tahun ini juga," harapnya sambil menutup perbincangan.

Satu pintu tertutup masih ada pintu-pintu lain yang terbuka. Mungkin itu yang ditunjukkan oleh Khotib. Ketika satu jalan buntu maka tuhan akan membukaan jalan-jalan lainnya. (JERMAINE A TIRTADEWA)

 

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook