Tak Ada Angpao di Rumah Kami, Yang Ada Cuma Kebahagiaan

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Rabu, 06 Februari 2019 - 12:46:25 WIB   |  dibaca: 351 kali
Tak Ada Angpao di Rumah Kami, Yang Ada Cuma Kebahagiaan

SEDERHANA : Hidangan Imlek yang disajikan di rumah keluarga Wan Ki Au di Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Selasa (5/2).

TANGERANG - Ribuan warga Cina Banteng-sebutan bagi warga Jeturunan Tionghoa di kawasan Tangerang telah beradab-adab tinggal sepanjang pinggiran kali Cisadane. Tak sedikit dari mereka hidup dalam belenggu kemiskinan. Meski demikian, perayaan Imlek tahun ini selalu berkesan.

Cat rumah bergaya pecinan itu sudah lapuk dimakan usia. Lumut menghiasi di setiap sudut dinding. Rumah berukuran 10 x 7 meter itu telah sesak dihuni keluarga Wan Ki Au (60), orang Tionghoa yang bermukim di pinggiran Sungai Cisadane, Kelurahan Sukajadi, Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Rumah beratap walet terbuat dari bahan batu bata dan kayu. Rumah ini berhimpitan satu sama lain dengan tetangganya dan memanjang ke belakang. Bagian bangunan yang masih tampak asli hanya pada bagian atapnya yang meruncing. Kondisi rumah dengan rumah yang lain tak jauh berbeda dengan yang lain. Kumuh dan tidak terawat.

Rumah tersebut sudah dihuni tiga generasi sebelum Wan Ki Au lahir, sejak tahun 1910-an. Terik matahari menyeruak masuk ke dalam rumah. Hawa panas terasa hingga ke sudut dapur. Wangi hio terbakar tercium cukup menyengat. Asapnya terlihat mengepul di sekitar ruangan. Di rumah Wan Ki Au. Ada sesajian yang diletakkan di atas meja. Lengkap.

Lebih dari 20 sajian mulai dari sayur. Lauk pauk seperti ikan, ayam sampai Rambutan tersedia di meja persembahan berukuran 2x3 meter itu. Pria 60 tahun itu tengah khusyuk memanjatkan doa.

Tidak hanya membakar dupa dan kertas persembahan. Dalam tradisi Imlek, makanan ini merupakan jenis makanan yang paling disukai leluhur. Makanan tersebut ada yang disimpan di wadah plastik yang sederhana.

Masuk ke dalam rumah Wan Ki Au seperti masuk ke dalam rumah peninggalan Kolonial Belanda. Lembab dan temboknya dibiarkan tidak dicat. Semen acaiannya pun sudah lapuk. Beberapa ada yang terlihat bata merah.Di bagian lebih dalam, ada pembatas dari bilik yang digunakan sebagai kamar. Depannya ada bale atau dipan agak lebar yang biasa digunakan Wan Ki Au di waktu santai.

Lantainya juga masih dari tanah. Sedangkan atapnya, masih dari bambu sebagai penyangga genting. Sebagian terlihat sudah menghitam. Beberapa bamboo juga terlihat lapuk. Di makan usia dan ditempa musim.

Rumah Wan Ki Au sangat kontras dengan rumah para tetangga mereka. Di sebelahnya, ada beberapa rumah bertingkat. Di sekelilingnya juga. Rumahnya terlihat cukup layak untuk ditinggali. Berhiaskan cat warna-warni. "Sejak Jepang belum kelihatan batang hidungnya di Tangerang, keluarga babah saya sudah di sini," ujarnya.

Eke panggilan akrabnya. Sehari-hari ia hanya sebagai pekerja serabutan. Pendapatannya tak menentu. Kalau ada yang meminta bekerja, asap dapurnya pun bisa ngebul. Kalau tidak, makan seadanya. Ayah satu anak ini merupakan keturunan ke-tiga. Ia mewarisi rumah tua dari peninggalan kakeknya. Kalau dilhat, mungkin lebih tua dari perkiraan.

Di rumahnya, tak ada hiasan atau ornamen khas imlek. Seperti angpau atau lampion yang tergantung taupun lampu kelap-kelip sebagai penghias ruangan. Sangat sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Untuk perayaan setahun sekali. "Sudah biasa kayak gini," ujarnya.

Eke memaknai Imlek dengan cara lebih. Bukan sekadar bersuka cita. Berkumpul bersama keluarga merupakan suatu yang patut disyukuri. Meski tidak ada kue dan makanan yang berlimpah. Kehangatan keluarga sudah cukup membuatnya merayakan imlek dengan khusyuk."Saya tinggal di sini sejak kecil.

Seingat saya, dulu kakek saya juga tinggal di sini. Kemudian turun ke ayah saya, dan akhirnya sekarang turun ke saya. Usianya saya lupa, tapi setahu saya, ratusan tahun. Saya saja turunan ke-tiga, kata Eke sambil mengingat-ingat kejadian puluhan tahun silam.

Ya, Etnis Tionghoa di Tangerang merupakan keturunan imigran cina hokkian. Menurut cerita, mereka tiba di Tangerang sekira tahun 1407 sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dibentuk. Sedangkan penaman cina benteng merujuk sebagai penamaan Tangerang yang sebelumnya bernama benteng.

Sangat ramah. Eke mempersilakan kami duduk. Bahkan beberapa kali memperbolehkan kami masuk melihat lebih ke dalam ke tiap sudut rumahnya. Hampir tak ada perabotan. Hanya tembok dan beberapa hiasan dinding kuno. Kontras dengan pandangan awam yang memandang orang Tionghoa sebagai keluarga yang tajir.

Di tahun baru, harapan Eke sangat sederhana. Sesedarhana rumahnya. Tetapi memiliki makna luas. Ia berharap bisa hidup lebih baik. "Ya dapet kerjaan, dan lebih baik dari tahun kemarin. Semoga saja dikabulkan dewa," ujarnya penuh harap.

Eke meminta kepada dewa dan leluhur untuk terus diberikan kesehatan. Baik anak dan istrinya. Mereka juga menginginkan terus ada kehangatan keluarga di rumahnya. Rumah peninggalan terdahulunya. Yang sampai sekarang masih berdiri kokoh.

Selepas berdoa, mereka sekeluarga berencana pergi untuk berkunjung ke rumah saudara dan kerabat. Tak jauh memang. Masih di sekitar Kota Tangerang. Ada yang di Neglasari. Dan sebagian di Teluk Naga.

Selain Eke, banyak keturunan Cina di bantaran Sungai Cisadane yang dikenal dengan Cina Benteng, hidup dalam keterbatasan, tak memilki pekerjan tetap.Etnis Tionghoa di Tangerang. Malam Imlek dilalui dengan perayaan barongsai dan long atau liong dalam dialek Hokkian. Kemudian, acara puncak berlangsung pada hari Tahun Baru, keluarga bersembahyang bersama.

Mereka yang muda berpakaian bagus dan saling mengucapkan selamat tahun baru kepada orangtua, leluhur, dan sanak keluarga yang lebih tua. Silaturahmi pun berlangsung di tengah jalanan kampung- yang kerap becek akibat hujan pada Tahun Baru Imlek. Inilah makna Tahun Baru sejati, yakni ritual dan reuni keluarga. (KHANIF LUTFI)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook