Dijamin Tidak Ada Bon-Bonan Qari Qariah

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 11 Februari 2019 - 11:53:50 WIB   |  dibaca: 607 kali
Dijamin Tidak Ada Bon-Bonan Qari Qariah

BUMIKAN AL QURAN : Camat Purwakarta Balukia Ikbal (kanan) di antara panitia MTQ XVIII Tingkat Kota Cilegon saat berkunjung ke kantor Banten Raya di Pondok Cilegon Indah (PCI), Kota Cilegon, Jumat (8/2).

KOTA CILEGON - Acara diskusi "Jagongan" Banten Raya, Jumat (/2) kemarin, mengundang Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Cilegon dan Panitia Lokal (Panlok) Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-18 Kota Cilegon.

Diskusi terbatas ini mengangkat tema "Membumikan Alquran di Kota Cilegon". Hadir dalam acara, Ketua Harian LPTQ Kota Cilegon Abdullah Syarif mewakili Ketua Umum LPTQ Kota Cilegon yang juga Sekda Kota Cilegon Sari Suryati, Wakil Ketua Bidang Diklat Sutisna Abbas, perwakilan dari Bagian Bimbingan Mental (Bintal) Setda Kota Cilegon Dading, dan dari Panlok MTQ, yakni Camat Purwakarta Balukia Iqbal dan sekretarisnya selaku Ketua LPTQ Kecamatan Purwakarta Wawan Ihwani. MTQ ke 18 Tingkat Kota Cilegon yang dipusatkan di Kecamatan Purwakarta akan dibuka Senin (11/2) hari ini hingga Jumat (15/2) nanti.

Ketua Harian LPTQ Kota Cilegon Abdullah Syarif memulai diskusi dengan menjelaskan mengenai program-program dan tugas LPTQ, posisi MTQ, dan peran masyarakat dalam ajang MTQ. Menurut Abdullah, ada tiga kewajiban dalam mengamalkan Alquran.

Pertama, kewajiban personal, yaitu kewajiban setiap muslim untuk memahami dan mengamalkan Alquran dalam kehidupannya. Kedua, kewajiban komunal, yaitu kewajiban mengamalkan Alquran daslam kehidupan bermasyarakat. "Kota Cilegon sudah dikenal dengan masyarakatnya yang religius sejak dulu. Sudah menjadi tradisi di masyarakat setiap setelah salat Magrib mengaji, setelah salat Subuh, dan pada hari Jumat," kata AB-sapaan akrab Abdullah Syarif.

Ketiga, kata AB, adalah kewajiban konstitusional. Kewajiban inilah yang dijalankan pemerintah dalam mewujudkan penghayatan dan pengamalan Alquran di masyarakat. Kewajiban secara konstitusional diwujudkan oleh LPTQ melalui berbagai program, salah satunya melaksanakan MTQ.

Dikatakan, tugas pokok LPTQ adalah melaksanakan pengamalan dan penghayatan Alquran kepada masyrakat, sedangkan kewajiban LPTQ diantaranya adalah melaksanakan MTQ dan pembinaan baca tulis Alquran, agar memahami dan mengerti sehingga mangamalkannya. "Jadi, MTQ itu ajang untuk mengetahui seberapa tingkat keberhasilannya dalam pembinaannya. Apa sih hasil kita selama ini," ungkap AB.

Pelaksanaan MTQ merupakan event tahunan. Yang jauh lebih penting, menurut AB, adalah pembinaan qari dan qariah sebelum dan sesudah MTQ. "MTQ sudah biasa, kalau ada kekurangan dalam penyelenggaraan. Ruhnya justru pembinaan itu," tegasnya.

Dalam pelaksanaan MTQ tahun ini, LPTQ telah melakukan pembinaan terhadap qari dan qariah dari perwakilan kecamatan se-Kota Cilegon pada November-Desember 2018. Setelah pembinaan selama dua bulan itu, para qari-qariah dikembalikan kembali ke kafilah mereka di kecamatan.

"Acara formalnya tanggal 11 sampai 15 Februari itu. Kita mencari yang lebih baik dari yang terbaik," ungkapnya seraya menambahkan bahwa jumlah peserta dari delapan kecamatan sebanyak 400 peserta akan berlomba pada 9 cabang mata lomba dengan 34 golongan.

LPTQ Kota Cilegon memastikan qari dan qariah yang berlaga pada MTQ ini asli warga Cilegon sebagaimana perintah kepala daerah. Hal itu dilakukan dengan memperketat saat seleksi administrasi. Tidak ada naturalisasi atau "ngebon" qari qariah dari daerah lain.

Selain mempertahankan sumber daya manusia (SDM) asli warga Cilegon, juri dan hakim dalam perlombaan sangat penting, karena dari keputusan mereka akan menghasilkan qari dan qariah yang berkualitas yang akan mewakili Kota Cilegon di ajang selanjutnya. Makanya, para juri atau dewan hakim mengikuti orientasi yang dilakukan LPTQ agar mereka memegang teguh kode etik hakim.

Layaknya ajang olahraga, qari dan qariah juga harus mendapat penghargaan lebih. Abdullah membandingkan hadiah yang diterima atlet olahraga yang mencapai miliaran. Qari dan qariah juga harus mendapatkan hal yang sama, bahkan dia mengusulkan para pemenang diangkat menjadi pegawai tenaga harian lepas di pemkot untuk bertugas di bidang-bidang keagamaan. Atau diarahkan ke perusahaan-perusahaan untuk mengurus bidang keagamaan di perusahaan.

"Jangan sampai ada juara qari jadi tukang ojek. Iya waktu dia diundang untuk ngaji di acara hajatan jadi qari, setelah ngaji selesai, sorban dilepas, lalu ngojek. Kita ingin memulyakan para duta-duta qurani, harus ada hadiah yang sebanding," ungkapnya.

Wakil Ketua Bidang Dikat LPTQ Cilegon Sutisna Abbas mengatakan, pembinaan terhadap qari dan qariah di Cilegon dilakukan melalui pondok-pondok pesantren dan madrasah. Pembinaan itu sudah berjalan dua tahun sejak era kepemimpinan Tb Iman Ariyadi hingga saat ini. Sebelum perlombaan, ada pemusatan latihan lebih dulu.

Qari qariah dititipkan ke pesantren-pesantren dan madrasah sesuai dengan jalur bidangnya. "Tilawah ada jamiatul khurafat wal kufah. Ada punya Pak Kiayi Rois, di sana itu tempat pembinaan tilawah, anak-anak, remaja, dewasa, sampai qiroah sab'ah.

Bagi anak yang punya minat syar'il quran ke MAN 2 Cilegon. Yang minat qiroatul kutub ke Haji Mundir, di situ bisa belajar baca kitab kuning. Begitu juga khot (seni kaligrafi), datang saja ke madrasah Pak Mutilah. Mereka kita arahkan ke tempat-tempat itu," jelasnya.

Target LPTQ Kota Cilegon adalah mengahsilkan qari dan qariah yang berprestasi di tingkat provinsi, sehingga bisa mengangkat kafilah Kota Cilegon yang tahun sebelumnya posisi dua terbawah.

Wakil Ketua Panlok, yang juga Sekmat Purwakarta Wawan Ihwani, mengungkapkan, Kecamatan Purwakarta yang menjadi panitia mengusung tiga sukses. Sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, dan sukses pelaporan.

Untuk meraih sukses penyelenggaraan, langkah pertama yang dilakukan panitia adalah menyiapkan mess kafilah di town house milik The Royal Krakatau Hotel. Ada delapan cottage, yang dinilai cukup mewah untuk para qari dan qoriah. Setelah pawai taaruf pada Senin siang, kafilah bisa langsung check in.

Agar girah atau gaung ajang MTQ lebih besar, panitia juga akan mengerahkan semua elemen masyarakat di lokasi-lokasi lomba, sehingga lomba tidak sepi dari massa. "Panggung utama sebagai ikon penyelenggaraan MTQ juga akan kita isi dengan hiburan yang bernuansa Islami. Kami berikan ruang bagi warga yang punya bakat nyanyi, qosidah, agar tampil," ungkapnya.

Selain itu, panitia juga menyiapkan warung-warung amal bagi OPD yang ikut berperan serta dalam ajang ini. Juga media center bagi awak media hasil kerjsama dengan Diskominfo Kota Cilegon. Media center yang menempati ruangan di lantai dua kantor kecamatan akan dilengkapi beberpa fasilitas pendukung, seperti komputer, internet, dan lainnya.

Sukses prestasi. Kecamatan Purwakarta yang juga peserta MTQ juga menargetkan menjadi juara umum. Namun, kata Wawan, harapan itu akan ditempuh dengan cara-cara yang fair. Tidak menghalalkan segala cara.

Sukses ketiga adalah sukses pelaporan. MTQ yang menggunakan aggaran dari rakyat pelaporan penggunaanya harus menggunakan prinsip akuntabilitas, transparansi dan dapat dipertanggungjawabkan.Ketua Panlok MTQ Balukia Iqbal menegaskan, sukses MTQ bukan hanya sukses lima hari pelaksanaan, tapi sukses bagaimana siar agamanya berjalan. Balukia mengaku akan menjadi tuan rumah yang baik. (marjuki)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook