Warna Cangkang Harus Solid, Kulit Ari Wajib Dibuang

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Kamis, 14 Februari 2019 - 14:31:54 WIB   |  dibaca: 174 kali
Warna Cangkang Harus Solid, Kulit Ari Wajib Dibuang

SABAR BERI PELAJARAN : Abdul Hakim dengan sabar mengajari warga yang belajar membuat seni dari cangkang telur, belum lama ini.

TANGSEL - Abdul Hakim hanya guru sekolah dasar di SDN 01 Muncul Tangsel. Namun insting seninya membuat karyanya dikenal banyak orang. Dari cangkang telur, wajah para pahlawan nasional dan dunia berubah menjadi lukisan menarik dan memiliki nilai jual yang menjanjikan.

Peluh bercucuran dari kening Abdul Hakim. Jemari pria 40 tahun ini dengan teliti menempelkan kulit telur ke dalam sebuah pola kalifgrafi di atas permukaan kanvas putih. Di atas kanvas, sketsa berwujud kalimah sahadat, La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah telah tergambar. Keningnyanya mengerenyit memperhatikan kepingan demi kepingan yang baru saja dipasang. Satu dua kali, Abdul Hakim harus menata ulang jika ada kepingan cangkang telurnya terlepas .

Pekerjaan melukis telur bukan pekerjaan gampang. Kulit telur yang dibuatnya berukuran sangat kecil hingga ada pula kulit telur yang digunakan berupa pecahan-pecahan yang sangat kecil. "Sebentar ya mas, tanggung," ujarnya sembari mempersilakan wartawan melihat hasil karyanya di ruang kerja.

Gelas berisi air putih di samping kanvas ia reguk, pekerjaan ini membuatnya kehausan. Dia pun rehat sejenak, kemudian melanjutkan aktivitasnya sampai selesai. Setengah jam kemudian, setengah pola telah terisi cangkang telur. Kuning kemerah-merahan. "Untuk membuat setengah pola, saya bisa hampir seminggu menempel kulit telur ke lukisan," terangnya.

Pada Pertengahan 2011, Abdul Hakim telah menekuni karya seni lukis berbahan kulit telur. Dari tangannya, berbagai macam kulit telur disulap menjadi kaligrafi, panorama alam, dan wajah orang terkenal. Karyanya pun telah melirik pasar luar negeri seperti ke Qatar dan Jepang. "Awalnya hobi, tapi jadi keterusan begini," katanya.

Dengan tatapan serius, kembali ke pekerjaanya. Peluhnya membasahi kaus yang dipakai pria ramah senyum tersebut. Hawa panas menyeruak di studio kecil miliknya. Ya, Abdul Hakim membuat studio kecil di dalam rumahnya, Jalan Raya Puspiptek, Gang Anggrek, Baruasih, Kota Tangsel. Studio itu seperti museum mini. Semua lukisan telur hasil karyanya di studio mungil tersebut.

Selain menjadi bengkel kerja, studio ini juga menjadi markas perkumpulan Betah Bale, sebuah komunitas pencinta seni lukis telur di lingkungannya. Para penggiat seni lukis telur di sana tidak hanya dilatih keterampilan, melainkan melatih emosional dan kesabaran. Bayangkan untuk melukis wajah, ia butuh waktu satu sampai tiga minggu untuk menyelesaikannya. Kalau nggak dilatih kesabaran, saya yakin lukisan bakal lama jadinya, ujarnya.

Pria yang juga guru di SDN Muncul I, Setu, mengaku, awal mula ia berbisnis lukisan telur dimulai pada bulan Oktober 2010. Saat itu, dirinya tengah membereskan dapur. Banyak sampah kulit telur yang terbuang begitu saja. Nalurinya sebagai seniman mulai datang. Sampah telur yang menggunung sengaja ia kumpulkan untuk membuat sebuah karya seni.

Sampah yang saya kumpulkan belum saya buat lukisan dulu, tapi baru sebatas dibuat vas bunga, ujar pria tegap itu seraya menyesap teh yang ia bawa dari dalam rumah.Setelah diperkenalkan kepada handai tolan, ternyata ekspektasinya di luar dugaan. Mereka kagum dengan hasil karyanya. Lambat laun pikirannya berubah untuk mencari cara lain membuat karya seni yakni lukisan. Karena saya kebetulan suka melukis, ya saya pikir kenapa tidak dijadikan lukisan saja? ujarnya.

Dengan pelitur, lem kayu dan triplek, sampah-sampah telur itu disulap jadi lukisan. Sampah terbuang itu berubah menjadi barang berharga. Tak cuma sekadar berharga, diakui Hakim, harga lukisan telur miliknya bisa dibanderol dengan nominal angka puluhan juta rupiah.

Hakim mengakui selalu mendapatkan sebagian besar kulit telur secara gratis. Setelah mendapatkan bahan yang diinginkan, ia harus melihat kualitas telur tersebut. Bahan yang baik adalah cangkang telur tanpa kulit ari. Kalau tidak, kulit ari akan memengaruhi lukisan.

Setelah Setelah dibersihkan, kulit telur itu dijemur hingga benar-benar kering. Kemudian, dia membuat pola gambar di media tripleks maupun kanvas. Menurut dia, media tripleks lebih mudah digunakan. Kulit telur ini ditempel. Jadi, media dasarnya harus keras, ungkapnya. Meski begitu, Abdul Hakim masih sering menggunakan kanvas untuk melukis.

Di tengah naiknya harga alat lukis dan kanvas, media telur yang rentan menjadi penggantinya. Menurutnya, untuk menciptakan barang berharga tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Asal ada niat dan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang unik, bagi saya itu sudah cukup, paparnya.

Apalagi sampai saat ini kulit telur yang digunakan masih tetap sampah yang dibuang oleh sebagian besar orang. Saya dapat kulit telur sekarang dari tukang nasi goreng. Saya bilang saya beli saja, daripada dibuang saya bilang buat saya saja lebih bermanfaat, ujarnya.

Meski demikian, ia tak ingin berkarya sendiri. Lewat komunitas seni yang diberi nama Betah Bale, Abdul Hakim menyalurkan ilmunya kepada pemuda sekitar. Besar harapan dengan komunitas ini, ada banyak anak muda yang akan menjadi seniman dan meneruskan ilmu saya, tandasnya. (KHANIF LUTFI)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook