Anak Rentan Korban Pornografi Lewat Internet

nurul roudhoh   |   Metro Tangerang  |   Sabtu, 16 Februari 2019 - 11:14:18 WIB   |  dibaca: 147 kali
Anak Rentan Korban Pornografi Lewat Internet

SOSIALISASI: Kemen PPPA menggelar sosialisasi pencegahan dan penanganan korban dan pelaku pornografi di Yayasan Bethesda Indonesia, Jumat (15/2).

KOTA TANGSEL- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengingatkan dampak negatif dari bebasnya penggunaan internet bagi anak. Salah satu dampak negatif dari penggunaan internet adalah anak bisa terpapar informasi dan konten yang tidak layak seperti pornografi.

Demikian disampaikan Asisten Deputi Perlindungan Anak Dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA Darmawan saat kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanganan korban dan pelaku pornografi yang digelar Kemen PPPA di Yayasan Bethesda Indonesia, Jalan Sarua Raya no. 29, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, Jumat (16/2).

Darmawan menjelaskan, berdasarkan data Kemen PPPA, pengguna internet terhadap anak usia 13-18 tahun di Indonesia mencapai 16, 68% atau 24, 35 juta dari jumlah pengguna internet yang sudah mencapai 143,26 juta. “Ironisnya, dalam perkembangan internet akhir – akhir ini masih terdapat anak dijadikan objek pornografi oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu kita melakukan sosialisasi, guna untuk melakukan pencegahan,” jelasnya.menurutnya, dalam hal ini pihaknya melihat bahwa anak sangat rentan menjadi korban maupun pelaku pornografi dalam perkembangan internet dan jika anak sudah melihat pornografi 30 kali akan timbul rasa penasaran dan muncul untuk mencontohkan atau mempraktekan. “Untuk itu orang terdekatlah yang harus awas dalam mengontrol aktifitas anak dan memastikan mereka tumbuh dan berkembang secara baik dengan melakukan pendekatan,” terangnya.

Untuk melakukan pencegahannya, pihaknya, kata Darwan, akan mensosilisasikan tiga hal kepada masyarakat dalam penanganan yakni, melalui sisi primer, sisi pencegahan dan dari sisi sekunder. “Cara pencegahannya bisa dilakukan melalui pendekatan kekeluargaan, sekolah dan agama,” tukasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Kota Tangsel Khairati mengatakan, sebanyak 126 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi pada 2018, diantaranya adalah penelantaran, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga pelecehan seksual. "Angka yang paling besar adalah kekerasan seksual pada anak," kata Khairati kepada wartawan melalui telepon.

Khairati mejelaskan, pemahaman terhadap anak sangat diperlukan baik di sekolah, terlebih dari orang tuanya sendiri. "Kalau di sekolah saat upacara itu sebentar untuk menjelaskan. Tapi kalau orang tua lebih lama, agar mereka mengerti bagaimana mengawasi anaknya," jelasnya.

Khairati menambahkan, gadget adalah sumber anak zaman sekarang untuk mengakses pornografi. Karena itu, Khairati mengaku bahwa pihaknya rutin melakukan sosialisasi terhadap penanganan pornografi dan pembekalan ke sekolah-sekolah. "Di Tangsel banyak kejadian bermula karena media sosial. Kita harus tangani, makanya kita sosialisasi. Kalau sudah terjadi maka kita akan adakan penanganan secara intensif baik itu secara psikologi atau hukum," pungkasnya. (imron).

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook