Pelaku Buli Berpotensi Jadi Penjahat Ketika Dewasa

nurul roudhoh   |   Gaya Hidup  |   Sabtu, 16 Februari 2019 - 11:39:15 WIB   |  dibaca: 180 kali
Pelaku Buli Berpotensi Jadi Penjahat Ketika Dewasa

SALAM: Erminiwati, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKKB Provinsi Banten (tengah) melakukan salam three ends usai kegiatan sosialisasi, kemarin.

SERANG - Berdasarkan hasil penelitian 24,6 persen pelaku buli pada kalangan anak-anak, berpotensi menjadi pelaku tindak kriminalitas saat memasuki usia dewasa. Hal tersebut terungkap dalam Kegiatan Jelajah Three Ends yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Banten.

Menurut Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak pada DP3AKKB Provinsi Banten, Erminiwati, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), mayoritas buli terjadi di dalam dan sekitar sekolah. Bahkan, masih berdasarkan penelitian, anak yang terindetifikasi pelaku buli, 24,6 persennya saat dewasa bisa melakukan tindak kriminal.

Ia menjelaskan, buli sendiri bisa terjadi di sekolah dan sekitar sekolah bisa disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah kegagalan akademik, bolos sekolah, drop out dan faktor teman sebaya."Media sosial juga menjadi salah satu faktor terjadinya buli dan tindak kekerasan di sekolah, karena media sosial saat ini suka menayangkan aksi pornografi dan pornoaksi," kata Erminiwati kepada ratusan pelajar SMA Negeri 1 Ciomas dan Pabuaran.

Masih dijelaskan oleh Ernubawati, faktor psikologis seperti anak yang hiper aktif juga menjadi salah satu faktor penyebab buli. faktor keluarga yang rentan dengan aksi kekerasan pun turut menyumbang penyabab buli tersebut."Pola asuh yang kurang tepat di dalam keluarga dengan tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya di rumah, dan kerap kali melakukan aksi kekerasan bisa mengakibatkan anak tersebut mencari perhatian di sekolah dengan melakukan buli," ungkapnya."Faktor sekolah itu sendiri juga menentukan, dengan anak yang gagal secara akademik biasanya menjadi korban buli," sambungnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Banten, lanjutnya, dalam hal ini DP3AKKB adalah dengan melakukan penyuluhan di sejumlah sekolah dan orangtua untuk mensosialiasikan program three ends, yaitu mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang dan stop kesenjangan ekonomi yang menjadi program unggulan DP3AKKB dan Kementerian PPPA."Pemeirntah melakukan pencegahan dengan penyuluhan kepada keluarga, bagaimana pola asuh yang baik dalam mendidik anak, karena hal tersebut dimulai dari keluarga dan agama," tegasnya.

Sementara itu, Kepala DP3AKKB Banten Siti Nina Ma'ani mengatakan, tingginya komitmen Pemerintah Banten dalam mencegah dan memerangi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak  telah ditunjukkan dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 9 Tahun 2014, tentang Perlindungan Perempuan Dan Anak Terhadap Tindak Kekerasan. Hal tersebut sejalan dengan program prioritas utama Kementerian PPPA yaitu three end’s (3 end’s) antara lain.

Namun dalam mencapai hal tersebut, kata NIna, tidak hanya menjadi tugas pemerintah sendiri tetapi juga menjadi tugas bersama dan melibatkan kalangan/komunitas pemuda pemudi. perannya sangat dibutuhkan dalam upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah,  peserta mendapatkan informasi tentang kondisi objektif lingkungannya, peserta dapat menyiapkan diri lebih baik sebelum memasuki jenjang rumah tangga dimana rumah tangga yang akan dibangun memiliki pondasi yang kuat dengan kata lain peningkatan ketahanan keluarga sehingga potensi kdrt dapat dicegah dan peserta mampu membangun rumah tangga yang tangguh," imbuhnya. (satibi)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook