Pemalsu KTP-el Ditangkap di Cikande

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Kamis, 14 Maret 2019 - 13:16:24 WIB   |  dibaca: 1086 kali
Pemalsu KTP-el Ditangkap di Cikande

BEKERJA SENDIRI : Tersangka pemalsu KTP-el dihadirkan dalam ekspos Polres Serang, Rabu (13/3).

SERANG - Mei Hendri (39), pemiliki usaha foto kopi di Kampung Situ Terate, Desa Situterate, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang ditangkap Satuan Reskrim Pores Serang, atas dugaan pemalsuan dokumen negara, seperti kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el), surat izin mengemudi (SIM), surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan ijazah.

Kapolres Serang AKBP Indra Gunawan mengatakan penangkapan dokumen negara asli tapi palsu itu terungkap ketika Polres Serang menerima informasi dari masyarakat, tentang adanya ruko foto kopi yang menerima jasa pembuatan SIM."Tersangka ini punya toko foto kopi. Tapi dia menyambi manakala ada yang ingin membuat dokumen negara untuk kebutuhan melamar pekerjaan," katanya kepada Banten Raya saat ekspose di Mapolres Serang, Rabu (13/3).

Menurut Indra, saat penangkapan di toko foto kopi milik pelaku pada Kamis (28/2) lalu, ditemukan beberapa KTP-el dan kartu keluarga asli tapi palsu. Selanjutnya aparat kepolisian langsung menyita alat untuk membuat KTP palsu berupa seperangkat alat komputer, printer dan mesin laminating. "Dari hasil temuan, dokumen negaranya asli, hanya diubah datanya saja dilihat dari jenis KTP nya yang lama. Dia scan, pakai kertas foto, kemudian dia laminating," ujarnya.

Indra mengungkapkan, dari keterangan yang diperoleh, pelaku sudah menjalankan bisnis sampingannya itu sejak tahun 2017 lalu. Dalam pembuatan KTP atau dokumen lainnya dilakukan sendiri, dan caranya pun cukup sederhana dengan menscan dokumen asli lalu diedit melalui komputer dan diprint menggunakan printer warna."Peralatannya masih umum, belum sifatnya percetakan besar. Kalau ada yang ingin membuat, baru dia kerjakan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Indra menegaskan, dalam kasus itu pelaku dikenakan pasal 264 ayat 1, junto 263 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara selama 8 tahun kurungan."Pidananya tentang pemalsuan. Kita sudah cek ke intansi terkait, salah satunya dinas kependudukan, untuk mengecek data KTP-el itu dan memang datanya palsu, tidak tercatat," tegasnya.

Sementara itu, Mei Hendri mengaku jika bisnis pembuatan dokumen negara itu sudah dijalankannya sejak tahun 2017 lalu. Setiap dokumen yang dipalsukan, pemohon dikenakan tarif yang berbeda sesuai dengan kesulitan dokumen yang dibuatnya."KTP Rp50 ribu, SIM Rp100 ribu, ijazah sama KK juga Rp 50 ribu. Yang buat itu kebanyakan yang mau melamar kerja di kawasan Industri. Mereka biasanya buru-buru," katanya.

Mei menjelaskan, material pembuatan dokumen negara itu menggunakan material yang sudah habis masa berlakunya, dengan cara menghapus data identitas di bagian depan, kemudian menggantinya dengan nama pemesan."Bagian depannya saya scan, kemudian datanya dirubah. Setelah itu, saya gunakan KTP asli yang sudah habis masa berlakunya. Bagian belakangnya tidak di hapus, hanya bagian depannya saja, dihapus pakai obat nyamuk (lotion anti nyamuk), baru di cetak," jelasnya. (darjat)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook