WH Nilai Survei Demokrat Abal-abal

nurul roudhoh   |   Politik  |   Kamis, 04 April 2019 - 12:39:20 WIB   |  dibaca: 988 kali
WH Nilai Survei Demokrat Abal-abal

SERANG – Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) menyebut jika survei kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah daerah di Banten adalah survei abal-abal. Penilaian tersebut didapat karena dia meragukan pelaksana survei dan indikator pendukung dari kegiatan yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat (DPD) Provinsi Banten itu.“(Salah satu yang disoroti dari hasil survei adalah) soal pengangguran, itu tugas siapa memang? Ya abal-abal itu mah jangan dipercaya, jangan diadu-aduin,” ujarnya kepada awak media, akhir pekan kemarin.

Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu menuturkan, ketidakpercayaan dirinya terhadap survei karena penunjukan pelaksana survei yang masih diragukan kapasitasnya. Dengan demikian, hasil survei yang dirilis Demokrat belum bisa dipercayainya. “Dari Demokrat dari siapa pun. Kita lihat lembaga surveinya segala, kan kamu (wartawan-red) tahu survei-survei lembaga di Indonesia yang kapabel,” katanya.

Keraguan WH terhadap hasil survei juga dipengaruhi oleh metode survei yang dilakukan. Dari semua hal tersebut maka sulit baginya untuk bisa menjadikan hasil survei menjadi acuannya mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya. “Margin of error-nya, yang disamplingnya, teknik wawancaranya,” ungkapnya.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Demokrat Provinsi Banten Azwar Anas enggan berkomentar terkait pernyataan WH. Sebelumnya, dia mengatakan jika survei adalah bentuk kontrol partai pengusung terhadap kadernya yang kini menjadi gubernur.

“Ini kan akan berefek pada Partai Demokrat Banten. Kitu melihat target kita adalah 14 kursi (untuk DPRD Banten pada Pemilu 2019), yang mana sampai hari ini survei kita baru dapat 11. Mudah-mudahan ada waktu satu bulan ini kita untuk mengejar ketertinggalan kita,” tuturnya.  

Sementara itu, pengamat politik dari Untirta Suwaib Amiruddin mengatakan, sah-sah saja bagi warga memberikan penilaiannya. Hasil survei yang masih disoroti masyarakat secara umum memang berorientasi pasa kebutuhan dasar yang kini terus diperjuangkan pemprov.  

“Lapangan kerja, Banten punya industri yang sangat besar. Kalau pihak industri mendahulukan masyarakat Banten itu jauh harus lebih diprioritaskan. Kita belum mendapatkan data terkait apakah pemprov ini ada hitam di atas putih dengan pihak industri. Tarolah misalnya isi (perjanjian) orang Banten yang harus diserap dibandingkan orang luar,” ujarnya.

Dia cukup memaklumi jika masih ada yang tidak puas dengan kinerja Pemprov Banten. Terlebih WH-Andika Hazrumy masih di tengah periode kepemimpinannya. “Tentu sudah banyak yang dilakukan Pak Wahidin dan Andika terutama di bidang pendidikan. Tapi yang paling penting adalah lapangan pekerjaan. Kita memberikan pekerjaan rumah bagi pemprov, ke Pak WH dan Andika,  mumpung ini masih awal pemerintahannya,” pungkasnya.  

Diberitakan sebelumnya, 41,3 persen warga Banten mengaku tak puas dengan kinerja Pemprov Banten. Hal tersebut terungkap dalam rilis survei DPD Partai Demokrat Banten di Sekretariat DPD Demokrat Banten, Kamis (21/3).

Untuk survei, Demokrat menggandeng lembaga survei Voxpol Center yang dilakukan pada 10 hingga 7 Februari dengan jumlah responden 2.500 orang. Rincian hasil survei sendiri teridir atas 39,3 persen masyarakat Banten mengaku tak puas dengan kinerja Pemprov Banten yang dipimpin Wahidin Halim-Andika Hazrumy.

Selanjutnya ada 2 persen warga yang mengaku sangat tidak puas. Sementara yang mengaku puas berada di angkat 35,7 persen dan hanya 2,2 persen yang sangat puas. Sementara 20,8 persen lainnya mengaku tak tahu atau tidak menjawab. Sementara margin of error atau toleransi tingkat kesalahan survei seebsar 2 persen.

Responden juga memberikan permasalahan utama yang perlu segera dituntaskan. 31,5 persen warga menilai di Banten masih sulit mencari pekerjaan. Kemudian 30,6 persen warga menilai harga kebutuhan pokok mahal. Posisi ketiga adalah permasalahan jalan rusak dengan prosentase 9,4 persen. Selanjutnya ada biaya pendidikan dan tingkat kemiskinan berturut-turut sebesar 3,5 persen dan 3,4 persen. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook