Warga Tak Tahu Caleg DPD RI

nurul roudhoh   |   Politik  |   Senin, 08 April 2019 - 11:49:03 WIB   |  dibaca: 1602 kali
Warga Tak Tahu Caleg DPD RI

SERANG - Sebagian besar masyarakat yang ada di Banten tidak tahu dengan dengan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang bertarung di Pemilu 2019. Dalam survei sederhana yang dilakukan Banten Raya terhadap 64 pembaca Banten Raya secara acak, hanya 21,87 persen responden yang mengetahui nama calon anggota DPD RI dari Banten.

Sisanya sebanyak 78,13 persen tidak tahu. Pertanyaan diberikan kepada responden dengan berbagai latar mulai dari mahasiswa 31,25 persen, dosen 7,8 persen, petani 14,6 persen, ibu rumah tangga 7,8 persen, buruh 7,8 persen, ASN 6,25 persen, nelayan 7,8 persen, pelaku usaha 7,8 persen, dan atlet 7,8 persen. Dari 78,13 persen pembaca yang tidak tahu tentang calon anggota DPD RI, 90 persen merasa tidak mendapatkan sosialisasi tentang anggota DPD. Survei dilaksanakan 1-5 April lalu.

"Kalau calon anggota DPRD, saya tahu. Kalau calon anggota DPD, DPR, enggak tahu. Emang gak pernah ada yang datang sih," kata Lilis Muflihah (23), warga Lingkungan Jerang Barat, RT 001/001, Kelurahan Karang Asem, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, akhir pekan kemarin.

Selain calon anggota DPD RI, pengetahuan warga tentang caleg anggota DPR RI juga masih rendah. Sebanyak 64,1 persen pembaca tidak tahu siapa saja calon anggota DPR RI di Banten. Sementara sisanya 35,9 persen tahu. Untuk calon anggota DPRD kabupaten/kota, sebanyak 50 persen warga mengaku tahu calon, dan 50 persen sisanya mengaku tidak kenal dan tidak tahu dengan calon anggota DPRD.

Adapun untuk pengetahuan soal hari pencoblosan, sebanyak 87,5 persen pembaca mengaku sudah tahu tanggal pencoblosan, dan sisanya 12,5 persen tidak tahu tanggal pencoblosan, tapi sudah tahu akan adanya pencoblosan. Sebanyak 43,75 persen warga tidak tahu jumlah partai politik peserta pemilu 2019, sisanya 56,25 persen tahu jumlah partai politik peserta pemilu. Sebanyak 89,06 persen warga menyatakan akan menggunakan hak pilihnya, sebanyak 3,12 persen tidak, dan 9,3 persen masih ragu-ragu.

Mayoritas warga juga sudah tahu calon presiden dan wakil presiden yang bertarung. Sebanyak 92,18 persen sudah tahu calon presiden dan wakil presiden, dan yang menjawab tidak tahu hanya 7,8 persen. Selain itu, ada beberapa daftar pertanyaan lain yang diajukan dalam survei dengan tujuan untuk membantu sosialisasi pemilu ini yang bisa dilihat di diagram yang kami sajikan.

Keraguan warga terhadap para calon legislatif mayoritas karena belum mengenal sosok yang akan mereka pilih.Awal Pasenggong, salah seorang ASN Pemprov Banten hingga mengaku masih belum yakin apakah akan menggunakan hak politiknya di balik bilik suara atau tidak. Saat ini dia berdomisili di Kota Serang namun ditetapkan akan memilih di Kota Tangerang sesuai dalam data daftar pemilih. “Saya milihnya di Tangerang, sedangkan saya tinggal di Serang,” ujarnya.

“Saya juga belum tahu secara lengkap siapa saja calon-calonnya. Terutama yang calon legislatif. Tapi kalau sudah ada yang cocok jelas saya akan menyalurkan hak pilih. Ini kan masih ada waktu buat saya menjatuhkan pilihan,” katanya.

Seorang ASN Pemkab Serang Ipah Illa Fadilah juga mengaku belum bisa memastikan apakah akan menggunakan hak pilihnya atau tidak. Hingga saat ini belum ada peserta pemilu yang bisa menarik perhatiannya. “Masih ragu sama calonnya,” ungkapnya.

Sama dengan Awal, wanita kelahiran Pandeglang itu memastikan akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi lima tahunan jika ada peserta pemilu yang bisa membuatnya pantas untuk dipilih. “Kalau sudah ada yang menarik perhatian dan memang berkualitas kenapa enggak,” tuturnya.

Di kalangan petani, pengetahuan tentang calon legislatif relatif masih kurang. Ahmad Sahawi, petani di Desa Pekuncen, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang mengaku tidak tahu siapa saja yang mesti dia pilih baik itu caleg DPRD, DPR RI, maupun DPD RI. "Gak tahu ya pak, wong saya mah di sawah terus," katanya.

Hal sama juga diungkapkan, Syamsudin petani di Desa Cirinten, Kabupaten Lebak. "Enggak tau juga berapa surat suara yang akan dipilih nanti. Pernah lihat baliho di jalan mah. Kalau calon presiden denger ada dua Pak Jokowi dan Pak Prabowo tapi kurang tau orangnya yang mana. Kalau untuk datang ke TPS gimana nanti, kalau orang-orang berangkat ikut berangkat, itu pun kalau badannya sehat," ujarnya.

Adapun kalangan orang-orang terdidik seperti mahasiswa dan dosen, rata-rata sudah tahu kapan pemilu akan dilaksanakan, dan siapa yang akan mereka pilih. Hendri Gunawan, dosen Universitas Serang Raya (Unsera)  mengatakan, informasi pemilu ia dapatkan dari media massa, baik cetak, elektronik, maupun daring, yang sering dibaca. "Sebagai dosen penting untuk tahu peristiwa apa saja yang terjadi. Apalagi peristiwa pemilu yang sangat penting," katanya.

Hendri memastikan akan menggunakan hak pilihnya. Hendri sendiri yang lahir di Lampung saat ini sudah tercatat sebagai warga Kota Serang dalam KTP elektronik yang dipegangnya.
Rozi EL Eroy, dosen Al Khairiyah Citangkil, mengaku tahu siapa saja calon-calon yang mencalonkan diri, baik sebagai caleg di kabupaten/ kota maupun Provinsi Banten. Sebagai warga negara yang baik ia akan menyalurkan hak suaranya di bilik suara pada 17 April 2019 mendatang.

Leviana, mahasiswi Unsera ini menjawab cepat saat ditanya kapan pemilu 2019 akan dilaksanakan. “Tahu tanggal 19 April,” ujar Levi sapaanya. Levi sedikit tahu dan mengenal dengan beberapa calon DPRD yang akan mencalonkan diri di kotanya yakni Kota Serang. “Tahu Ayip Najib, Wahyu Papat, Yofie dan lain-lain,” kata perempuan berkulit putih ini.

Ia juga mengenal dan tahu dengan calon legislatif (caleg) DPR RI dan DPD perwakilan Banten yang akan mencalonkan diri pada pemilu 2019 ini. “Tahu Yofie (NasDem), Egy Kurnia (PKB), dan Veria (PKB). Kalau calon DPDnya Aprilia Andiara, Eten, dan Junaedi,” sebutnya.

Masih kata Levi, para calegnya pernah datang ke wilayahnya untuk menyosialisasikan diri kepada masyarakat. “Pernah,” ujar Levi.Koordinator Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih KPU Provinsi Banten Eka Satyalaksmana mengakui, sosialisasi yang dilakukannya sebelumnya terfokus pada peserta pemilu seperti capres-cawapres dan parpol serta DPD RI.

“DPD pun kita banyak menyosialisasikan soal jumlahnya, ada 26. Siapa sajanya kita dorong untuk pro aktif, misalnya mereka mau buka website (KPU Banten) untuk cari tahu. Kita dorong masyarakat yang ingin tahu siapa saja calon DPD-nya yuk pro aktif. Gunakan handphone-nya, gunakan kuotanya buka website KPU, buka DCT (daftar calon tetap) di situ. Bisa diakses langsung,” ujarnya.

Mantan komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Banten itu menuturkan, meski fokus terhadap jumlah untuk DPD RI namun dalam alat peraga sosialisasinya KPU menampilkan secara utuh. Seluruh calon anggota DPD RI dipampangkan.

“Tapi di setiap sosialisasi diberbagai segmen kita itu nyiapin bahan sosialisasi. Baik itu pamflet, flyer, kami siapkan isinya ada peserta pemilu capres-cawapres, parpol dan DPD. Kita juga sudah sosialisasi melalui media massa, di situ diperlihatkan calon-calon anggota DPD RI,” katanya.

Hari pencoblosan yang semakin dekat, kata dia, membuat pihaknya semakin gencar bersosialisasi. Pihaknya telah melakukan pemetaan dan menyasar 10 segmentasi sosialisasi, diantaranya pemilih pemula, pemilih perempuan, pemilih berkebutuhan khusus hingga kaum marjinal.      

“Kami fokus pada kelompok masyarakat di wilayah yang analisis kami tingkat partisipasi rendah berdasarkan data pemilu sebelumnya. Misalnya di (Kecamatan) Cilograng, Pamarayan, Baros. Sementara untuk ASN dikategorikan pemilih dengan knowledge (pengetahuan-red) tentang pemilu yang mereka bisa mandiri mencari informasi. Kepala daerahnya juga sudah banyak menyosialisasikan,” ungkapnya.  

Untuk menarik minat pemilih, sosialisasi pun dilakukan dengan metode seunik mungkin. Harapannya, metode kreatif itu bisa diterima oleh semua segmentasi pemilih. “Kita berupa asemuanya untuk unik supaya bisa diterima oleh berbagai segmen masyarakat,” tuturnya.  

Tak ketinggalan juga, KPU telah merancang berbagai program mulai dari sosialisasi tatap muka sampai berbasis keluarga. Sosialisasi berbasis keluarga dilakukan dengan cara penyelenggara yang langsung mendatangi pemilih.

“Kami tidak mengumpulkan massa, kami yang datang ke kampung, di desa, di TPS yang analisis kami partisipasinya rendah. Bertemu RT dan ibu-ibu pengajiannya, kapan ada pengajian kita masuk, di Cileles, Cikeusik sudah, kita numpang dikegiatan pengajian, kita masuk. Pertemuan lain untuk pemilih pemula ada goes to campus, kemarin ada kami gelar konse,” pungkas mantan kuli tinta ini. (dewa/tanjung/hudaya/purnama/ismet/tohir/harir/uri/gillang/imron/basyar)

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook