WH Dinilai Gagal Jalankan Tugas Gubernur

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Jumat, 12 April 2019 - 11:41:39 WIB   |  dibaca: 231 kali
WH Dinilai Gagal Jalankan Tugas Gubernur

BAKAR BAN : Puluhan mahasiswa dari Badan Koordinasi HMI Jabodetabeka- Banten melakukan aksi bakar ban saat berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Kamis (11/4).

SERANG – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jabodetabeka-Banten berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Kamis (11/4). Mereka menilai Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) telah gagal menjadi Gubernur Banten. Itu ditandai dengan timbulnya persoalan korupsi hingga netralitas ASN.

Pantauan Banten Raya, aksi dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Mereka langsung membentangkan spanduk dan secara bergantian berorasi di gerbang utama KP3B di depan Kantor Gubernur Banten.

Aksi berjalan damai meski sesekali terlihat kontak fisik ketika massa mencoba masuk ke KP3B namun dihalangi aparat kepolisian yang terjadi. Aksi unjuk rasa sempat berhenti sementara pada pukul 15.20 WIB untuk mendengarkan suara azan salat ashar.

Saat rehat, koordinator lapangan aksi Aliga Abdillah mengatakan, aksi tersebut adalah lanjutan dari kegiatan serupa pada pekan kemarin. Isu yang disampaikan pun tetap sama yaitu menunut Wahidin Halim turun dari jabatannya sebagai gubernur.

“Menuntut Wahidin Halim untuk dicopot dari jabatanya karena dia telah gagal.  Gagal untuk melawan korupsi di Banten. Beredarnya kasus (dugaan) korupsi juga sudah banyak. Orang-orang Wahidin Halim yang terlibat di situ, nanti kita tunggu saja di KPK bagaimana prosesnya,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Banten Raya, dugaan korupsi yang dimaksud dan disampaikan pada aksi sebelumnya adalah korupsi yang melibatkan sejumlah ASN pemprov. Dugaan korupsi tersebut terjadi pada tahun anggaran 2017 dan 2018 di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Adapun dugaan korupsi yang dimaksud adalah dari proyek pengadaan komputer di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek pembebasan sembilan titik lahan untuk membangun unit sekolah baru (USB) SMKN dan SMAN. Kemudian juga ada dugaan proyek cacat lelang untuk pembangunan jalan dan jembatan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR).

Ia menuturkan, kegagalan WH juga nampak dari adanya dugaan jual beli jabatan. Bahkan, diakuinya Polda Banten sedang menelusurinya dan telah memanggil Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banten.“Proses promosi jabatan di Banten sudah berubah menjadi jual beli jabatan. Itu jelas tidak dibenarkan. Kita akan konsisten mengawal di situ,” katanya.

Dipaparkan Aliga, isu lain yang menguatkan anggapan kegagalan itu adalah ketidaknetralan tiga ASN pemprov pada Pemilu 2019. Hal itu tertuang dengan putusan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Banten atas kasus grup whatsapp DPD RI utk Kang Fadlin WH.  

Aliga juga dengan tegas menampik tudingan jika aksinya merupakan pesanan dari pihak tertentu. “Sama sekali saya tidak mengenal apa yang disebutkan. Saya juga tidak berminat mengomentari karena memang sama sekali tidak ada sangkut paut ke situ. Ini murni kajian kita, makannya kita turun lagi dan kawal isu itu. Membuktikan kita tidak mempan untuk digembosi,” ungkapnya.

Usai azan, para mahasiswa pun kembali melanjutkan aksinya. Namun kali ini aksi berlangsung panas. Itu bermula saat massa melakukan aksi bakar ban. Melihat hal tersebut, aparat pun mencoba memadamkannya.

Aksi saling dorong berujung kericuhan pun tak terhindarkan. Akibatnya, dua mahasiswa terluka di bagian kepala. Kesakitan, kedua mahasiswa itu nampak tak kuasa berdiri dan tergeletak di dekat lokasi aksi. Mereka terpaksa dipapah rekan-rekannya menuju tempat yang lebih aman.

Sementara itu, tiga mahasiswa lainnya diamankan petugas. Kericuhan lanjutan hampir terjadi ketika mahasiswa memaksa rekan-rekannya yang diamankan dibebaskan dengan menerobos barikade aparat. Akan tetapi hal itu tak terjadi karena mampu diredam oleh kedua belah pihak.

Aksi tersebut menarik perhatian Kapolres Serang Kota AKBP Firman Affandi untuk datang ke lokasi aksi. Setibanya di sana, dia langsung menggelar negosiasi dengan perwakilan mahasiswa. Tak lama, kesepakatan pun tercapai di mana tiga mahasiswa yang diamankan dikembalikan dan massa pun membubarkan diri dengan tertib.

Usai aksi, Kapolsek Curug Kompol Mardison mengatakan, apa yang dilakukan pihaknya sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Sebelum kericuhan pecah pihaknya sudah melakukan pendekatan persuasif kepada koordinator aksi.

“Kami berupaya untuk menjaga jangan sampai menimbulkan percikan api dan ban atau segala macamnya terhadap mahasiswa maupun kami. Apa yang kami lakukan sesuai SOP dan juga bukti nyata selalu pimpinan yang mengambil langkah awal,” tuturnya.

Terpisah, Gubernur Banten Wahidin Halim melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfotiksan) Provinsi Banten menampik semua tudingan yang dilayangkan mahasiswa.“Yang pertama soal tiga ASN sudah jelas sedang dalam proses dan sudah banyak diberitakan secara terbuka.

Pemprov tinggal menerima rekomendasi dari KASN dan semua sudah diatur di undang-undang tentang ASN dan PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 53 (tahun 2010 tentang Disiplin PNS),” ujar Wahidin melalui keterangan tertulis yang diterima Banten Raya.

Sementara untuk dugaan jual beli jabatan dan sempat dilaporkan sudah diusur oleh Polda Banten dan dinyatakan belum memiliki bukti kuat. Selanjutnya kaitan korupsi dan nepotisme, dirinya sudah membuat Satgas Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Lalu juga meningkatkan fungsi Inspektorat yang secara objektif terus mengaudit seluruh OPD. Itu termasuk OPD yang disampaikan oleh mahasiswa. Saat ini, semuanya masih dalam proses audit yang tentunya membutuhkan waktu dan hasilnya akan disampaikan kepadanya secara langsung. kepada masyarakat agar sabar menunggu proses itu dan semua hasilnya akan disampaikan oleh WH secara terbuka. (dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook