MUI Perbolehkan Imunisasi

nurul roudhoh   |   Metro Cilegon  |   Senin, 15 April 2019 - 10:58:27 WIB   |  dibaca: 64 kali
MUI Perbolehkan Imunisasi

PAPARAN : Kepala Dinkes Cilegon, Arriadna (kedua dari kiri) bersamaArifianto (paling kanan), dan narasumber lainnya saat seminar Pekan Imunisasi Dunia, Sabtu (13/4).

CILEGON - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon menggelar acara seminar kesehatan bertajuk Pekan Imunisasi Dunia tingkat Kota Cilegon, Sabtu (13/4) di Aula Setda Kota Cilegon. Seminar tersebut digelar untuk menjawab isu di masyarakat terkait haramnya imunisasi.

Acara ini menghadirkan narasumber, seperti dr. Arifianto, SP.A (Praktisi kesehatan anak), DR. dr Novilia Sjafri Bachtiar.M.Kes (Biofarma), dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Cilegon, KH. Sayuti Ali.Ketua MUI Kota Cilegon, KH Sayuti Ali mengatakan, fatwa MUI tentang imunisasi ini adalah bentuk kehati-hatian. MUI, lanjut Sayuti, memperbolehkan imunisasi ini.

Untuk itu, Sayuti menyarankan kepada Dinkes Kota Cilegon agar selalu memberikan edukasi agar masyarakat tidak terpengaruhi isu-isu yang tidak bertanggung jawab.Dalam kesempatan tersebut, Sayuti juga meminta agar masyarakat berkonsultasi dalam menyikapi isu-isu yang bekembang. "Kami selalu membuka konsultasi di sekreatriat MUI Kota Cilegon," tegasnya.

Sementara itu, Walikota Cilegon, Edi Ariadi dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinkes Kota Cilegon, dr.Arriadna, menyatakan, pemikiran yang keliru tentang imunisasi melalui berbagai media massa beberapa tahun terakhir ini dipandang dapat mengganggu kemajuan program imunisasi di Kota Cilegon.

Kata Edi, perlu dilakukan penjelasan terhadap pemikiran yang keliru tersebut agar kejadian dan kematian penyakit infeksi berat dapat dicegah dan ditekan melalui imunisasi. "Kerjasama berbagai pihak, baik pemerintah, para profesi kesehatan, terutama dokter anak dan pihak swasta serta masyarakat luas perlu ditingkatkan,' ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Cilegon, dr. Arriadna mengatakan, Kota Cilegon capaian imunisasi pada bayi tahun 2018 untuk usia 0-11 bulan sebanyak 8.707 anak atau telah mencapai 100,3 persen.

Akan tetapi, kata Arriadna, cakupan ini belum semua kecamatan/ kelurahan mencapai angka 95 persen. "Artinya cakupannya tinggi, akan tetapi belum merata. Imunisasi rutin tidak lagi hanya untuk bayi, akan tetapi meliputi imunisasi bayi, baduta, dan usia sekolah," tegasnya.

Jika imunisasi bayi telah mendapatkan capaian yang baik, tidak sama halnya dengan imunisasi baduta yang hanya 50 persen dan imunisasi anak sekolah 92 persen.Dikatakan, orangtua seringkali masih menganggap bahwa setelah imunisasi campak usia 9 bulan, imunisasi sudah lengkap, sehingga menolak untuk imunisasi ulangan/booster anaknya ketika usia 1,5 tahun dan usia sekolah.

Selain itu, isu utama yang masih menjadi tantangan adalah adanya informasi yang beredar tentang kehalalan vaksin yang menyebabkan banyaknya keraguan di masyarakat, sehingga bertumpuk surat penolakan, terutama di sekolah untuk program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) dan ori difteri.

"Tujuan dari acara ini adalah meningkatkaan pemahaman masyarakat tentang manfaat vaksin dan pentingnya imunisasi bagi kesehatan anak, yang kedua, membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi rutin sebagai dasar untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, dan yang ketiga, membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya program imunisasi sebagai investasi dalam mewujudkan bangsa yang sehat, bermutu, produktif, dan berdaya saing," imbuhnya.

Sementara itu dr. Arifianto, SP.A mengatakan, anggapan vaksin mengandung darah babi dan nanah itu vaksin pada tahun 1700-an. Saat ini vaksin sudah tidak lagi mengandung 2 unsur tersebut yang selama ini mendapatkan stigma dari masyarakat yang berkembang. "Imunisasi saat ini sudah memenuhi syariat Islam," ungkapnya.Imunisasi pada dasarnya dibolehkan sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah penyakit pada anak.(*/zaki)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook