Bani Syifa Sering Kekurangan Beras

nurul roudhoh   |   Serang Raya  |   Kamis, 18 April 2019 - 12:15:43 WIB   |  dibaca: 617 kali
Bani Syifa Sering Kekurangan Beras

BUTUH KEPEDULIAN: Salah seorang pasien Bani Syifa di Desa Panyabrangan, Kecamatan Pamarayan, sedang bermain, Rabu (17/4).

SERANG – Sebanyak 115 pasien rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tinggal di Yayasan Bani Syifa, di Desa Panyabrangan, Kecamatan Pamarayan dalam satu bulan menghabiskan beras 2 ton untuk makan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pihak yayasan terpaksa harus meminta bantuan keluarga karena bantuan dari pemerintah tidak menentu.

Ketua Yayasan Bani Syifa Baehaki mengaku sering kekurangan beras untuk memenuhi kebutuhan makan para pasien rehabilitasi karena jumlah pasien ODGJ yang masuk ke yayasannya terus bertambah. “Terus terang saja untuk makan dalam satu bulan menghabiskan 2 ton beras, itu belum masuk lauk pauk dan yang lainnya,” kata Baehaki saat ditemui di kediamannya, Rabu (17/4).

Ia menjelaskan, sejak berdirinya yayasan tersebut, pihaknya sebenarnya sudah berkomitmen tidak akan meminta bantun keluarga pasien untuk memberi makan mereka. “Kalau pas kekurangan untuk beli beras kami minta ke keluarga pasien, padahal terus terang saja kadang enggak enak minta ke mereka. Kalau tidak begitu kadang kami kewalahan,” ujarnya.

Baehaki berharap, adanya kepedulian dari pemerintah baik itu provinsi maupun kabupaten terutama untuk memenuhi kebutuhan makan dan tempat tidur mereka. “Tidak saya pungkiri bantuan dari pemerintah itu ada, tapi kan itu sewaktu-waktu saja sementara para pasien kalau makan beda dengan kita-kita yang normal takarannya. Biasanya kita dibantu dengan keluarga pasien yang dulu anaknya pernah dirawat di sini,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, dari jumlah pasien 115 orang tersebut, sekitar 40 orang lebih saat ini kondisinya sudah membaik sampai dengan 80 persen dan sudah bisa diajak berkomunikasi. “Kita tidak punya target berapa lama pasien bisa disembuhkan, tapi kami biasanya bisa memprediksi dari kondisi pasien. Kalau yang paling cepat itu penyembuhannya dua bulan, kalau yang paling lama ada yang sampai tiga tahun,” paparnya.

Adapun pasien yang paling lama penyembuhannya, lanjut Baehaki, yaitu bekas pecandu narkoba karena saraf mereka sudah mengalami kerusakan. “Kalau pecandu narkoba biasanya butuh waktu lama untuk penyembuhannya. Kalau yang stres akibat yang lain di luar masalah narkoba bisa lebih mudah disembuhkan. Pasien yang di sini paling jauh dari Sumatera dan Jawa Timur,” katanya. (tanjung)   

 

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook