Lima Anggota KPPS Terancam Pidana

nurul roudhoh   |   Hukum  |   Senin, 22 April 2019 - 13:08:11 WIB   |  dibaca: 2504 kali
Lima Anggota KPPS Terancam Pidana

BERDUKA: Almarhum Anis Gunawan (40), anggota Linmas saat berjaga di TPS 04 Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga, sebelum meninggal.

SERANG - Pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 menyisakan duka bagi anggota penyelenggara pemilu. Mulai dari ancaman pidana penjara akibat ulah nakal anggota KPPS hingga jatuhnya korban jiwa.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Banten Raya, ancaman pidana penjara dialamatkan kepada empat anggota anggota KPPS TPS 24 Ciloang, Kecamatan Serang, Kota Serang, dan Ketua KPPS di TPS 8 Kemuning, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang. Sedangkan korban jiwa menimpa Ketua Kelompok Peyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Hanafi (49), Anggota Perlindungan Masyarakat (Limas) di Kabupaten Tangerang, Anis Gunawan (40. Hanafi, warga Kelurahan Jurang Manggu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel, dan Anis Gunawan, warga Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang meninggal ketika akan merekap surat suara.

Komisioner Bawaslu Provinsi Banten, Badrul Munir mengatakan, selain menggelar PSU akibat pelanggaran, pihaknya juga meneruskannya ke ranah pidana untuk temuan surat suara tercoblos.“Proses pidana kami memproses bagaimana sesuai Peraturan Bawaslu. Kami langsung tindaklanjuti dengan investigasi dan klarifikasi,” ujarnya ditemui saat memantau PSU di TPS 24 Ciloang, Kota Serang, kemarin.

Untuk diketahui, empat anggota KPPS TPS 24 Ciloang itu diduga mencoblos 15 surat suara untuk tiga pemilih dan dimasukan ke kotak suara untuk suara pilpres, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kota pada Rabu (17/4) lalu.Sementara Ketua KPPS TPS 8 Kemuning diduga membuka kotak suara sebelum proses pemungutan suara tanpa diketahui pengawas TPS dan saksi, serta indikasi surat suara yang tercoblos.TPS 24 dan TPS 8 telah dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) bersama TPS 5 di Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang pada Minggu (21/4).

Berdasarkan Pasal 533 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara mengaku dirinya sebagai orang lain dan atau memberikan suaranya lebih dari satu kali di satu TPS atau lebih dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan dan denda paling banyak Rp 18 juta.

Pria yang berlatar belakang advokat itu menuturkan, dari tiga TPS yang PSU di wilayah Serang hanya dua TPS yang terdindikasi adanya pidana pemilu tersebut. Di TPS 24 Ciloang, Kota Serang terdindikasi ada empat anggota KPPS yang mencoblos surat suara sisa, dan satu anggota di TPS 8 Kemuning, Kabupaten Serang.“Kalau untuk Banten untuk saat ini kami menemukan di dua titik. Pertama di sini (TPS Ciloang, Kota Serang-red) dan kedua di Tunjungteja, Kabupaten Serang. Dua-duanya indikasi pidana, melakukan pencoblosan tanpa hak. Tunjungteja (terduganya) ketua KPPS, di sini salah satunya ketua KPPS,” katanya.

Sedangkan untuk moif terduga, Badrul belum bisa mengungkapkannya ke publik. Hingga saat ini kasus tersebut sudah ditangani oleh Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu). Dia pun tak menutup kemungkinan ada pihak lain yang juga dijerat jika terbukti terlibat.“Ketentuan mencoblos itu bisa dilakukan oleh pemilih, yaitu orang-orang yang punya hak suara. Kita menemukan di TPS ini itu dicoblos oleh petugas dan beberapa oknum lainnya dengan beberapa alasan yang mungkin kami belum bisa sampaikan. Tapi memang kami mendapat petunjuk itu dilakukan oleh oknum petugas KPPS,” ungkap.

Dia juga enggen berspekulasi ketika disinggung apakah pencoblosan surat suara merupakan pesanan pihak tertentu. “Kami belum menemukan itu, kami baru berpatokan pada peristiwa pencoblosan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berhak,” tuturnya.

Ketua Bawaslu Provinsi Banten, Didih M Sudi mengatakan, ketentuan proses pidana pemilu atas temuan surat suara tercoblos sudah dimasukkan pada rekomendasi PSU.“Untuk kasus surat suara tercoblos rekom juga menyangkut penggantian personel KPPS untuk PSU dengan proses pidananya juga berjalan,” ujar mantan Ketua Komisi Transparansi dan Partisipasi Kebupaten Lebak ini.

Ketua KPU Tangsel, Bambang Dwitoro membenarkan. Almarhum Hanafi yang merupakan Ketua KPPS Jurang Manggu Timur, Kecamatan Pondok Aren meninggal setelah mendapat perawatan medis di RSUD Kota Tangsel.

Berdasarkan informasi, kata Bambang, korban sudah merasakan sakit sejak proses rekapitulasi suara berlangsung. “Almarhum Hanafi meninggal pada Kamis (18/4), setelah mendapatkan perawatan di RSUD Kota Tangsel. Almarhum merasakan sakit pas sedang melakukan penghitungan dan istirahat jam 12.00 WIB siang," kata Bambang kepada wartawan melalui telepon, Minggu (21/4).

Bambang menjelaskan, almarhum Hanafi sudah bekerja keras sejak sebelum pemungutan suara. Ia selalu bekerja hingga larut malam, dari mulai distribusi formulir C6 hingga menjaga kotak suara. Puncaknya, kata Bambang, pada hari pencoblosan, Hanafi yang sudah kelelahan, merasa sakit perut pada siang hari.

Kemudian, Hanafi  pulang ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari TPS untuk istirahat. Sekira pukul 14.00 WIB, Hanafi ditelepon anggotanya, karena akan mulai penghitungan. "Habis itu, baru sebentar dia enggak kuat, balik lagi ke rumah.

Katanya kondisinya enggak bagus, enggak bisa melek katanya, akhirnya dipanggillah dokter ke rumahnya. Ternyata asam lambungnya tinggi, dikasih obat segala macam," jelasnya.
Bambang menambahkan, kondisinya tak kunjung membaik hingga Hanafi menghembuskan nafas terakhirnya dan sudah dimakamkan hari itu juga. "Saya juga sudah ke rumahnya untuk menengok keluarganya. Saya juga sudah menginformasikan ke KPU provinsi dan KPU RI," ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Tangerang, M Ali Zaenal Abidin membenarkan, seorang anggota Linmas di TPS 04 Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga bernama Anis Gunawan meninggal saat bertugas. Berdasarkan informasi dari Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK) Kecamatan Teluknaga, Anis terjatuh saat pelaksanaan perhitungan suara sedang berlangsung. “Korban terjatuh saat perhitungan suara sedang berlangsung. Setelah dicek oleh salah seorang anggota KPPS, korban ternyata meninggal,” singkatnya. (dewa/imron)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook