BPBD Pantau Lokasi Longsor

nurul roudhoh   |   Lebak  |   Selasa, 23 April 2019 - 11:27:04 WIB   |  dibaca: 281 kali
BPBD Pantau Lokasi Longsor

MENINJAU: Kepala Pelaksana Harian BPBD Lebak Kaprawi (tengah) meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Kampung Jampang, Kecamatan Cimarga, belum lama ini.

RANGKASBITUNG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak memantau kondisi  tanah di lokasi bencana pergeseran tanah (longsor) di Kampung Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga. Pemantauan dilakukan karena kontur tanah di lokasi tersebut sangat labil dan berpotensi mengalami longsor.

"Dari hasil pemantauan, sebanyak 115 rumah warga terkena dampak bencana pergeseran tanah. Sebanyak 20 unit di antaranya rusak berat dan ambruk," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi kepada Banten Raya, Senin (22/4).

Kaprawi menjelaskan, selain bangunan rumah, sebanyak tiga bangunan musola juga kena dampak, sehingga perlu segera dilakukan relokasi. "Terkait relokasi ini kita mau realisasikan opsi berupa pemberian dana stimulan. Sementara ini kisaran Rp 15 juta," katanya.

Menurut Kaprawi, dana stimulan tersebut bersumber dari dana TT sebagai upaya Pemkab Lebak dalam menanggulangi penanganan bencana. Sebelumnya Pemkab Lebak akan merelokasi ke tempat lebih aman.

"Untuk lokasi lahan sudah ada namun setelah diteliti kontur tanah sama tidak aman. Artinya berpotensi besar mengalami pergerakan tanah karena dari hasil penelitian tanahnya itu di bagian lapisan tengah keras, bawahnya lumpur dan atasnya lumpur jadi tidak direkomendasikan menjadi tempat relokasi," katanya.

Kaprawi mengakui bahwa kondisi kontur tanah labil itulah yang menjadi pertimbangan Pemkab Lebak mengambil opsi pemberian dana stimulan. "Jadi kita berikan uang langsung kepada korban untuk pindah rumah. Lokasinya mereka yang memilih sendiri di tempat lebih aman tidak direkomendasikan oleh kita karena harus pindah desa bahkan kecamatan agar mendapatkan lokasi lebih aman," katanya.

Kaprawi menjelaskan, pindah kecamatan atau desa, besar kemungkinan menjadi kendala karena tidak semua warga mau pindah dari kampung halamannya. "Makanya pemberian stimulan menjadi opsi terakhir. Yang jelas kita harapkan warga tidak lagi tinggal atau mendirikan bangunan lagi di tempat sama," katanya.

Kaprawi berpendapat, lokasi lahan sekarang ditinggali warga sudah tidak aman. Sewaktu-waktu bisa terjadi pergeseran tanah. "Apalagi jika musim hujan. Soalnya dari hasil pengecekan di lapangan potensi datangnya bencana sudah terlihat," katanya.

Potensi tersebut berdasarkan hasil pengamatan air sumur bor warga sudah tidak lagi mengeluarkan air. Artinya di dalam tanah terjadi pergerakan atau patahan lapisan tanah.
"Untuk mencegah terjadinya bencana kami tengah berupaya secepatnya merealisasikan pemberian dana stimulan," katanya. (purnama)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook