Pengadaan Bibit Kakao Meninggalkan Hutang

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Selasa, 23 April 2019 - 11:56:50 WIB   |  dibaca: 150 kali
Pengadaan Bibit Kakao Meninggalkan Hutang

SIDANG: Penangkar bibit kakao dan cengkeh asal Lampung Suherwanto memberi kesaksian saat sidang, kemarin.

SERANG- Pengadaan bibit kakao dan cengkeh pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak dari dana APBN dan APBD tahun 2016 sebesar Rp 1,1 miliar ternyata lebih meninggalkan hutang sebesar Rp 8 juta kepada penangkar bibit tanaman di Lampung.

Hal itu terungkap dalam sidang keterangan saksi untuk tiga terdakwa yaitu Kepala Dishutbun Lebak Kosim Ansori, Bendaraha Dishutbun Indra Evo Kurniawan, dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Edeng Heryamin, yang digelar di Pengadilan Tipikor Serang, Senin (22/4).

Penangkar bibit kakao dan cengkeh asal Lampung Suherwanto mengatakan, pada tahun 2016 lalu warga Banten datang ke penangkaran. Di sana dirinya mendapatkan pesanan sebanyak 20 ribu bibit kakao dan 5 ribu bibit cengkeh untuk di kirim ke Kabupaten Lebak.
 
"Atas nama Oman mengaku hanya pembeli, bilangnya dari Banten," katanya kepada Majelis Hakim yang diketuai Hakim Yusriansyah dan disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lebak Joko Sutanto.

Menurut Suherwanto, saat transaksi pertama, Oman melakukan pembayaran 20 ribu bibit kakao dan 5 ribu bibit cengkeh dengan cara transfer. Dari total Rp 85 juta, dirinya baru menerima uang pembayaran Rp 65 juta, sementara sisanya akan dibayar setelah bibit sampai di Lebak."Transaksi dengan Oman, langsung transfer dibayar uang mukanya Rp 50 juta kurang 10 juta. Kalau cengkeh dibayar lunas, perbatang 5 ribu," ujarnya.

Lebih lanjut Suherwanto mengungkapkan, setelah 20 ribu bibit kakao dan 5 ribu bibit cengkeh di kirim ke Kabupaten Lebak, sisa pembayaran tidak dilunasi oleh Oman. Saat penagihan, dirinya diminta datang langsung ke Lebak menemui bendaraha Dishutbun Indra Evo Kurniawan di kantornya."Menagih kekurangan pembelian bibit kakao, saya datang ke Lebak.

Dikasih tau Oman disuruh menghadap ke saudara Evo. Katanya Oman belum dibayar sama Evo. Saya kesana karena diajak Oman, ketemunya di kantor di Lebak, pakai pakaian batik. Ini orang dinas kata Oman," ungkapnya.

Suherwanto menambahkan, dari pertemuan itu dirinya hanya menerima pembayaran Rp 2 juta.Evo berjanji akan melunasi sisa pembayaran pada tahun 2017 dengan jaminan BPKB kendaraan. "Waktu ketemu dibayar 2 juta itu tahun 2017. Sisanya mau ditransfer tapi sampai sekarang enggak dibayar. Oman malah meninggalkan BPKB atas nama orang," tambahnya.

Untuk diketahui sebelumnya, pengadaan bibit kakao dari APBN tahun anggaran 2016 senilai Rp 725 juta, dan pengadaan bibit kakao dari APBD 2016 senilai Rp 452 juta diduga menjadi proyek bancakan antara Dishutbun Lebak dan Kadin Lebak. Kasus itu telah menyebabkan kerugian negara, baik APBD maupun APBN sebesar Rp 537,789 juta. (darjat)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar Facebook