Kelelahan, Puluhan Penyelenggara Pemilu Tumbang

nurul roudhoh   |   Politik  |   Selasa, 23 April 2019 - 13:11:00 WIB   |  dibaca: 1280 kali
Kelelahan, Puluhan Penyelenggara Pemilu Tumbang

MEMANTAU : Sekda Kota Serang, Tb Urip Henus didampingi Ketua KPU Kota Serang, Ade Jahran meninjau rekapitulasi suara tingkat kecamatan di gedung Pramuka, Cikuluru, Kota Serang, Senin (22/4).

SERANG – KPU Provinsi Banten mencatat terdapat 19 penyelenggara pemilu dari berbagai tingkatan yang jatuh sakit selama tahapan persiapan dan pemungutan suara Pemilu 2019. Akibatnya, sebagian dari mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Berdasarkan data rekapitulasi yang dirilis KPU Provinsi Banten, petugas yang mengalami gangguan kesehatan saat menjalankan tugasnya paling banyak berasal dari Kabupaten Serang sebanyak 13 orang. Mereka terdiri atas Abdul Wahid sebagai KPPS (dirawat), dan Erni Suhaemi sebagai anggota Sekretariat Panitia Pemungutan Suara atau PPS (dirawat).

Kemudian, Asep Sopiyana sebagai PPS (dirawat), Mustawtun Munawaroh sebagai KPPS (dirawat), Entum Mahtumah sebagau KPPS (dirawat), Sukroni sebagai KPPS (dirawat), Pendi sebagai KPPS (dirawat) dan Anis Puad sebagai KPPS (dirawat).

Selanjutnya, Sri Wahyuni sebagai KPPS (dirawat), Maesaroh sebagai KPPS (dirawat), Mustanafah  sebagai KPPS (dirawat), Butor Sitanggang sebagai KPPS serta Rahmat Sujana sebagai KPPS.

Sementara di Kabupaten Lebak sebanyak tiga orang, yaitu Khori sebagai Penitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Sudarya sebagai KPPS, Rusminah sebagai PPS. Di Kabupaten Pandeglang tiga orang terdiri atas Ahyadi sebagai PPK, Hendrik Romdoni sebagai PPK, serta Enda Suhendar sebagai PPS.

Di Kota Serang juga empat anggota PPS sakit dan pingsan. Mereka berasal dari Kecamatan Serang dan Taktakan. Sementara mereka yang mengeluh capai dan sakit kepala jumlahnya diperkirakan lebih banyak.

Komisioner KPU Provinsi Banten, Rohimah mengatakan, penyelenggara yang jatuh sakit berada di semua tingkatan KPPS atau penyelanggara pemilu di TPS hingga PPK atau peyelanggara di tingkat kecamatan. Rata-rata mereka mengalami gangguan kesehatan saat proses rekapitulasi pemungutan suara.“Beragam, ada yang rawat di rumah, ada yang dirawat di rumah sakit, ada juga di klinik. Kebanyakan sudah pulang, dirawat itu sehari dua hari setelah pemungutan suara,” ujarnya saat dihubungi, Senin (22/4).

Mantan Ketua Komisi Informasi (KI) Provinsi Banten itu menuturkan, selain kelelahan, ada juga petugas di Kabupaten Serang atau tepatnya di Kecamatan Baros yang mengalami kecelakaan. “Selain kelelahan ada yang kecelakaan di Baros keserempet mobil. Itu terjadi saat angkut logistik dari kecamatan ke PPS,” katanya.  

Sebagai bentuk perhatian, kata dia, saat ini KPU RI sedang membahas terkait rencana pemberian santunan. Saat ini muncul wacana adanya penggalangan donasi dari seluruh penyelenggara pemilu se-Indonesia yang selanjutnya akan disalurkan.“Jadi ada dua mekanisme, bisa KPU RI yang mengumpulkan kemudian disalurkan melalui KPU provinsi dan seterusnya. Atau bisa jadi teknisnya diserahkan ke KPU provinsi. Jadi kami masih menunggu arahan KPU RI,” ungkapnya.

Sambil menunggu arahan KPU RI, pihaknya mulai hari ini akan mengunjungi keluarga petugas KPPS yang meninggal. Adapun tujuan pertama adalah keluarga Jumri, petugas KPPS TPS 19 Sukaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.“Belum sempat ke sana, makanya Rabu (hari ini-red) mau ada PSU (pemungutan suara ulang), jadi perwakilan kami akan sekaligus menanyakan kondisinya,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, tiga petugas KPPS meninggal dunia saat menjalankan tugasnya. Selain Jumri, dua petugas lainnya adalah Anis Gunawan, Linmas TPS 04 Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang dan Hanafi, Ketua KPPS TPS 40 Jurang Mangu Timur, Kecamaatn Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Rohimah menambahkan, berdasarkan laporan yang diterima KPU Banten, petugas pemilu yang meninggal bertambah dua orang. Pertama adalah Asmuni, linmas TPS 137 Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang.

Asmuni meninggal pada 19 April. Kemudian yang kedua adalah Imanudin, Ketua KPPS TPS 4 Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang."Jadi total yang meninggal lima orang. Di Lebak satu orang, Kabupaten Tangerang dua orang, Kota Tangerang Selatan satu orang dan Kabupaten Pandeglang satu orang. Penyebabnya kelelahan setelah bertugas di TPS," paparnya.

KPU Minta Bantuan Tim Medis
Ketua KPU Kota Serang, Ade Jahran mengungkapkan, sampai saat ini jumlah yang melaporkan adanya anggota PPS yang pingsan dan sakit sebanyak empat orang. Sementara mereka yang mengeluh capai dan sakit kepala jumlahnya diperkirakan lebih banyak.“Gejalanya rata-rata pingsan karena kelelahan,” kata Ade saat memantau pelaksanaan rapat pleno rekapitulasi suara Kecamatan Serang di Gedung Pramuka, Cikulur, Senin (22/4).

Ade mengatakan, mereka yang mengeluh pusing kemungkinan besar akibat kurang tidur dan kurang makan karena terlalu fokus pada pekerjaan. Waktu kerja penyelenggaraan yang sudah diatur mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 22.00 nyatanya kerap dilanggar akibat ingin menyelesaikan pekerjaan.“Kita emang kerja dibatasi sampai jam 10 malam tapi karena belum beres biasanya dilanjut sampai jam 12 malam,” katanya.

Ia mencontohkan, pada Minggu (21/4) malam lalu karena kotak suara sudah terlanjur dibuka maka meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 penghitungan suara tetap dilanjutkan sampai kotak yang dibuka selesai dihitung. Akhirnya, pekerjaan baru selesai pada pukul 12 malam.“Makanya kita mengimbau ke temen-temen kalau sudah jam 10 malam sudah berhenti. Istirahat. Tidur. Karena besoknya kan kerja lagi. Kalau terus-terusan diporsir kita khawatir,” tuturnya.

Berkaca dari daerah Tangerang dan Lebak di mana ada penyelenggara yang sampai meninggal dunia diduga akibat kelelahan maka ia berharap hal tersebut tidak terjadi di Kota Serang. Untuk itu, KPU Kota Serang meminta kepada Pemerintah Kota Serang melalui Dinas Kesehatan Kota Serang agar menyiapkan tenaga kesehatan beserta peralatan yang dibutuhkan untuk menangani penyelenggara pemilu yang kelelahan atau sakit.“Kalau ada yang sakit kita obatin. Kalau parah kita larikan ke puskesmas,” katanya.

Sekda Kota Serang, Tb Urip Henus mengungkapkan, ia sudah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Toyalis mengenai permintaan KPU Kota Serang tersebut. Melalui sambungan telepon, Toyalis menyanggupi itu. Rencananya, di setiap kecamatan, dimana terjadi rekapitulasi suara, akan ditempatkan tenaga medis beserta perlengkapan yang dibutuhkan.“Besok kalau kata pak kadis tadi insyaallah akan dikerahkan. Biasanya tenaga medis satu, ambulance, dan sopir,” katanya.

Urip mengatakan, saat penanganan nanti bagi yang terserang penyakit ringan maka bisa ditangani di lokasi saat itu juga. Namun bila penyakit yang diderita sudah bercampur dengan penyakit lain dan parah, maka kemungkinan akan dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.“Saya sudah meminta kadinkes agar mengerahkan tenaga medis yang ada di puskesmas karena di tiap kecamatan kan ada puskesmas. Hayu besok kita pantau bersama-sama,” ajak mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang ini. (dewa/tohir)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook