Kelelahan, Ketua KPPS di Kota Serang Meninggal

nurul roudhoh   |   Metro Serang  |   Rabu, 24 April 2019 - 13:37:43 WIB   |  dibaca: 388 kali
Kelelahan, Ketua KPPS di Kota Serang Meninggal

BERDUKA : Suasana duka menyelimuti kediaman Danu Rudanu di Kampung Waru RT 15 RW 4 Kelurahan Kemanisan, Kecamatan Curug, Selasa (23/4).

SERANG - Ketua Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di Kota Serang atas nama Danu Rudanu wafat Selasa (23/4) pagi sekitar pukul 03.00. Petugas KPPS yang bertugas di TPS 20 Kampung Waru RT 15 RW 4 Kelurahan Kemanisan, Kecamatan Curug, itu meninggal dunia diduga akibat kelelahan.

Ruheni, salah seorang kerabat dan sahabat Danu, menceritakan bahwa saat hari pemungutan suara 17 April lalu Danu bertugas sebagaimana petugas KPPS lain. Sampai pukul 24.00 aktivitas penghitungan suara masih berlangsung di TPS 20 namun Danu terlihat sangat lelah.

Karena kasihan akan kondisinya yang demikian, Ruheni dengan agak memaksa meminta Danu agar tidak usah ikut sampai tuntas proses penghitungan suara. Ia meminta sahabatnya itu agar beristirahat saja di rumah."Setelah jam 12 saya lihat dia kelelahan bener. Makanya, saya bawa ke rumah supaya diistirahatkan," kata Ruheni saat ditemui di rumah duka, Selasa (23/4).

Setelah kejadian itu Danu mengaku kondisi tubuhnya sangat lemah. Sampai akhirnya pada Senin (22/4) malam keluarga membawa Danu ke Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Banten karena kondisinya semakin menurun. Namun sebelum mendapatkan perawatan intensif Danu sudah mengembuskan nafas terakhir.“Kami dari keluarga meminta ada penghargaan dari pemerintah untuk pejuang demokrasi ini,” ujarnya.

Ketua KPU Kota Serang Ade Jahran mengatakan secara pribadi dan lembaga menyampaikan turut berduka cita atas kepergian Danu. Kemarin bersama dua komisioner KPU Kota Serang lain datang ke rumah duka untuk takziyah.

Peristiwa itu selanjutnya akan dilaporkan ke KPU Banten lalu ke KPU RI. Ia mendapatkan informasi KPU RI sedang mengusahakan untuk membantu keluarga korban yang meninggal dunia akibat menjalankan tugas."Kalau kami di KPU Serang hanya bisa membantu ala kadarnya. Kalaupun tadi ada info KPU RI sedang mengusahakan bantuan mudah-mudahan di-acc pemerintah. Itu berita bagus kalau benar," katanya.

Ade mengatakan bahwa memang banyak petugas KPPS, PPS, maupun PPK yang kelelahan dan tidak jarang sakit akibat kelelahan menjalan tugas. Apalagi penghitungan suara, khususnya di tingkat TPS, berlangsung sangat lama. Ada yang sampai pukul 03.00 tetapi ada juga yang sampai pagi hari. Untuk itu ia mengimbau agar jam kerja penyelenggara Pemilu maksimal sampai pukul 22.00.

Ketua DPRD Kota Serang Namin yang mengunjungi keluarga korban mengatakan bahwa Pemilu 2019 benar-benar melelahkan para petugasnya. Ia mengaku mendengar banyak korban berjatuhan dan salah satu korbannya adalah Ketua KPPS 20 Kemanisan yang merupakan tetanggganya sendiri.

Atas banyaknya korban itu ia berharap semoga peristiwa ini menjadi evaluasi bagi pemerintah agar mempertimbangkan kembali diselenggarakannya Pemilu serentak."Kasihan teman-teman KPPS yng menyajikan berkas data, terutama C1. Ini pekerjaan tidak mudah dan menyulitkan teman-teman KPPS. Mudah-mudahan jadi evaluasi ke depan," harapnya.

Ia menyatakan bahwa dari seluruh proses Pemilu, sejumlah proses, termasuk pencoblosan, sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah saat mengisi form C1 dan salinannya. Ia mengaku sebelumnya sudah menekankan agar siaga pada kemungkinan terburuk misalkan dengan menyiapkan tenaga medis. Sehingga ketika ada petugas yang sakit bisa mendapat perawatan segera.

"Kami berharap dinas kesehatan lebih siaga dan tanggap menghadapi anggota KPPS yang kelelahan," ujarnya. Sementara itu, Reza Agustian Maulana (24), warga Kampung Cisitu RT 011/003, Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran meninggal dunia pada Selasa (23/4) pukul 04.25 WIB di Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang. Reza merupakan petugas linmas tempat pemungutan suara (TPS) 11 di kampungnya. Sebelum dibawa ke rumah sakit diduga masuk angin akibat bertugas hingga dini hari.

Kepergian pria kelahiran 1994 itu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan sesama petugas penyelenggara pemilu termasuk Bupati Serang Rt Tatu Chasanah. Usai disalatkan, jenazah Reza dikebumikan di kampung halamannya. Sedangkan keluarga dan komisioner KPU Kabupaten Serang dan Bawaslu Kabupaten Serang mendatangi kediaman Reza untuk menyampaikan duka cita.

Ketua KPU Kabupaten Serang Abidin Nasyar menyampaikan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Reza yang meninggal saat melaksanakan tugas mengawal rekapituliasi penghitungan suara di tingkat kecamatan. “Beliau (Reza-red) meninggal dunia pada saat perekapan dan masuk rumah sakit. Kita merasa bahwa belaiu itu sebagai pahlawan demokrasi,” kata Abidin.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah memberikan santunan alakadarnya kepada keluarga Reza dan melaporkan kabar kematian Reza kepada KPU RI. “Untuk dari KPU RI sepeti apa santunanya kita belum tahu. Kita sudah mengidentifikasi teman-teman anggota KPPS yang sakit, kurang lebih ada lima orang yang dirawat di rumah sakit dan klinik. Untuk petugas PPS, dan PPK yang sakit belum ada tapi kalau kelelahan iya,” ujarnya.

Adapun lima anggota KPPS yang dirawat tersebut, yaitu di Kecamatan Cikande dua orang, Baros satu orang, Pontang satu orang, dan di Kecamatan Puloampel satu orang. “Untuk yang sakit kalau punya utang BPJS kita lunasi hutangnya, kalau yang tidak punya BPJS kita bantu semampu kita. Pemilu sekang lumayan menguras tenaga dan pikiran, untuk rekap di KPPS saja butuh waktu 24 jam ditambah 12 jam,” ungkapnya.

Abidin mengimbau kepada para petugas penyelenggara pemilu yang saat ini masih melakukan rekap di tingkat kecamatan untuk senantiasa menjaga kesehatan. “Untuk durasi waktu kalau sudah terlalu larut malam jangan dipaksakan, tinggal disepakati dengan Panwas dan saksi. Saya beterima kasih kepada Ibu Bupati yang telah mengintruksikan petugas kesehatan untuk memeriksa teman-teman KPPS, PPS, PPK, Panwascam, dan petugas keamanan,” tuturnya.

Terpisah, Imannudin, Ketua KPPS 04 Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, meninggal dunia setelah sepeda motornya tertabrak mini bus Mitsubishi L300 di Jalan Raya Tarogong-Panimbang tepatnya di Kampung Muara, Desa Margagiri, Kecamatan Pagelaran, Senin (22/4) lalu.  Jenazah Imannudin dimakmkan di Kampung Jaha, Desa Sukamaju  Kecamatan Labuan, Selasa (23/4).

Berdasarkan infomasi yang didapat, kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 06.30 WIB. Saat itu korban  mengendarai Yamaha Nmax warna hitam Nomor Polisi A 5458 JD menuju arah Labuan. Naasnya, di lokasi kejadian korban berpapasan dengan mini bus Mitsubishi L300 warna hitam Nomor Polisi F 8453 VA yang dikemudikan oleh Suwardi warga Kampung Cibungur Masjid, Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi yang melaju dari arah Panimbang menuju ke arah Tarogong Kecamatan Labuan.

Diduga, Suwardi hilang  kendali dan oleng ke kanan sehingga menabrak sepeda motor korban. Motor korban terpental dan rusak parah sementara Imannudin terluka parah dan sempat dibawah ke Klinik Al- Furqon Labuan. Sayangnya, nyawa korban tidak tertolong.

Ahmadi, Komisioner KPU Kabupaten Pandeglang membenarkan jika Imanudin merupakan ketua KPPS TPS 04 Desa Sukamaju. “Korban pada saat itu akan melaksanakan rapat dengan Panitia Pemungutan Suara. Kami kaget dan sedih saat mendengar informasi kecelakaan penyelenggara yang hendak bertugas," kata Ahmadi.

Dikatakannya, KPU Pandeglang akan mendata korban untuk disetorkan ke KPU Banten yang kemungkinan akan disampaikan ke KPU RI. “KPU RI lah yang akan memberikan santunan bagi korban," jelasnya.

Ketua KPU Provinsi Banten Wahyul Furqon mengatakan, secara umum penyebab petugas ad hoc pemilu dikarenakan faktor kelelahan. Kelelahan terjadi karena proses rekapitulasi penghitungan suara di tingkat bawah cukup memakan waktu dan tenaga.

“Pertama memang faktor kelelahan, ada juga kelelahan naik motor kemudian kecelakaan. Memang proses rekap cukup memakan waktu yang panjang dan sangat melelahkan. Saya kira faktor-faktor itu yang kemudian menyebabkan mereka sakit dan juga meninggal,” ujarnya di Sekretariat KPU Banten, kemarin.

Mantan komisioner KPU Kota Tangerang itu menuturkan, kelelahan saat proses rekapitulasi perolehan suara juga sangat dimungkinkan, mengingat proses penghitungan dan pengisian form rekapitulasi membutuhkan ketelitian.“Rata-rata mereka sakit dan meninggal setelah proses. Artinya tidak saat pencoblosan, memang pengisian form sangat lama dan membutuhkan ketelitian,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KPU RI Arif Rahman Hakim mengaku, saat ini pihaknya sedang mencari celah dengan optimalisasi anggaran yang dimilikinya untuk pemberian santuan kepada petugas yang meninggal dan sakit.

"Kemenkeu (Kementerian Keuangan) silakan menggunakan anggaran yang ada. Jadi kita mungkin tidak diberikan anggaran tambahan tapi menggunakan optimalisasi angaran yang ada di kami," ungkapnya saat berkunjung ke Sekretariat KPU Banten, kemarin.

Dalam pembahasannya, KPU berencana memberikan santunan kepada petugas yang meninggal senilai Rp 36 juta. Sedangkan yang sakit disesuaikan dengan kondisi yang bersangkutan. Selain mekanisme yang sudah siapkan, KPU juga telah memersiapkan metode santunan lainnya yang bersifat urunan.

“Kalau patungan sebenarnya bukan hanya di KPU, di daerah juga ada. Artinya meskipuan ada santunan dari pemerintah tapi KPU di daerah sebagian juga sudah menerapkan. Ada yang meninggal, yang sakit, mereka gotong royong, itu kan sudah prinsip orang Indonesia,” pungkasnya.Diberitakan sebelumnya, KPU Provinsi Banten mencatat ada lima petugas KPPS yang meninggal dan 20 lainnya sakit atau pingsan hingga Senin (22/4). (tohir/tanjung/muhaemin/dewa)

Profil nurul roudhoh

nurul roudhoh

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook